Rabu, 28 Oktober 2026
03:37 WIB
TERKINI
Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare Bandar Lampung BSU 2026 Segera Disalurkan: Rp900 Ribu dan Analisis Pakar Terkait Tantangan Pekerja Bandar Lampung Optimisme Harga Singkong Lampung 2027: Bibit dan Pupuk Kunci Utama Bandar Lampung Krisis Asap dan Ribuan Titik Panas: WALHI Desak Audit Ekologis TNWK Bandar Lampung Polda Lampung Luncurkan Operasi Patuh Krakatau 2026: 702 Personel Siap Tingkatkan Disiplin Lalu Lintas Bandar Lampung Pembakaran Sampah Diduga Picu Kebakaran Lahan di Panjang Bandar Lampung Bandar Lampung Waspada Hujan Ringan: Prakiraan Cuaca Lampung Sepanjang 24 Oktober 2026 Bandar Lampung Penundaan Pembahasan APBD Lampung 2027: Berkas dan Data Terkini Jadi Kunci Bandar Lampung Fokus Pendidikan dan Ekonomi Desa, Lampung Matangkan APBD 2027 Bandar Lampung Polisi Hadir di Jalanan: Ratusan Makan Siang Gratis Eratkan Hubungan Warga Bandar Lampung Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare Bandar Lampung BSU 2026 Segera Disalurkan: Rp900 Ribu dan Analisis Pakar Terkait Tantangan Pekerja Bandar Lampung Optimisme Harga Singkong Lampung 2027: Bibit dan Pupuk Kunci Utama Bandar Lampung Krisis Asap dan Ribuan Titik Panas: WALHI Desak Audit Ekologis TNWK Bandar Lampung Polda Lampung Luncurkan Operasi Patuh Krakatau 2026: 702 Personel Siap Tingkatkan Disiplin Lalu Lintas Bandar Lampung Pembakaran Sampah Diduga Picu Kebakaran Lahan di Panjang Bandar Lampung Bandar Lampung Waspada Hujan Ringan: Prakiraan Cuaca Lampung Sepanjang 24 Oktober 2026 Bandar Lampung Penundaan Pembahasan APBD Lampung 2027: Berkas dan Data Terkini Jadi Kunci Bandar Lampung Fokus Pendidikan dan Ekonomi Desa, Lampung Matangkan APBD 2027 Bandar Lampung Polisi Hadir di Jalanan: Ratusan Makan Siang Gratis Eratkan Hubungan Warga Bandar Lampung

Subang Larang

Bagikan:
40px-Wiki_letter_w.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Artikel ini sebatang kara, artinya tidak ada artikel lain yang memiliki pranala balik ke halaman ini. Bantulah menambah pranala ke artikel ini dari artikel yang berhubungan. (Februari 2026)

Subang Larang, Nyi Subang Larang atau Nyai Subang Larang dikenal sebagai selir dari Prabu Siliwangi yang menjadi penguasa Kerajaan Pajajaran. Subang Larang terkenal dengan kecantikannya dan dikenal sebagai satu-satunya istri Raja Pajajaran yang memeluk agama Islam.[1] Kisah mengenai Nyai Subang Larang tercatat dalam Carita Purwaka Caruban Nagari (CPCN) karya Pangeran Arya Cerbon yang dibuat pada tahun 1720. Menurut CPCN, Subang Larang bernama asli Kubang Kencana Ningrum, beliau lahir tahun 1404 dari ayah yang bernama Ki Gedeng Tapa seorang syahbandar pelabuhan Muara Jati. Ki Gedeng Tapa masuk Islam setelah berguru pada Syech Quro.[2] Setelah masuk Islam Ki Gendeng Tapa menitipkan putrinya kepada Syech Quro untuk belajar Islam.

Di pesantren Syech Quro, Nyai Subang Larang belajar Islam terutama ilmu membaca Al-Quran. Di pesantren inilah Syech Quro memberikan gelar Subang Larang. Sejak saat itu dia dikenal dengan sebutan Nyi Subang Larang. Sekitar tahun 1420 Subang Larang Kembali ke Muara Jati.[2]

Pengaruhnya yang besar, membuat namanya digunakannya sebagai nama salah satu Kabupaten di Provinsi Jawa Barat, yakni Kabupaten Subang. Hal tersebut didasari pada folklor yang berkembang di masyarakat Subang tentang moralitas dan kecantikan diri yang terpancar dari diri Nyai Subang Larang sehingga namanya telah menjadi simbol serta kearifan lokal bagi masyarakat Sunda, khususnya masyarakat di wilayah Kabupaten Subang.[3]

Pernikahan dengan Prabu Siliwangi

Nyai Subang Larang memiliki pemahaman agama yang baik, sebagaimana tercatat pada Carita Purwaka Caruban Nagari (CPCN) yang menceritakan tentang ketertarikan Prabu Siliwangi setelah mendengar keindahan suara dari lantunan ayat suci Al-Qur’an yang dibacakan oleh Subang Larang. Kemampuannya ini telah terasah saat menimba ilmu di pesantren yang didirikan oleh Syeikh Quro di wilayah Tanjungpura, Karawang.[3]

Perkawinan antara Prabu Siliwangi dengan Subang Larang merupakan bentuk perilaku yang menjunjung tinggi toleransi bagi sistem pemerintahan yang diterapkan Pajajaran mengenai keberagaman umat beragama di dalamnya. Dimana Prabu Siliwangi adalah seorang Hindu sedangkan Subang Larang adalah seorang Muslim. Namun, pesona Subang Larang mampu meluluhkan hati Prabu Siliwangi yang meminta beliau untuk mengucapkan dua kalimat syahadat.[3]

Kerajaan Pajajaran memang tidak melarang adanya agama baru di luar ajaran leluhur. Prabu Siliwangi dikenal sebagai raja yang bijaksana dan menolerir agama apa saja boleh dipeluk penduduk Pajajaran. Sang Raja pun tidak pernah mengajak Subang Larang untuk pindah agama. Beliau membebaskan Subang Larang untuk memeluk dan menjalankan keyakinannya sendiri.[1]

Anak

Dari pernikahan Prabu Siliwangi dan Subang Larang, mereka dikarunai tiga anak yaitu, Walangsungsang, Rara Santang, dan Raja Sangara atau Kian Santang.[4] Meski diasuh tidak sampai usia dewasa karena Subang Larang wafat dalam usia yang relatif muda, namun pembinaan dan kasih sayang yang ditanamkan Subang Larang sejak dini telah terpatri secara mendalam dalam jiwa anak-anaknya.[2] Dalam mendidik anak-anaknya, Subang Larang mengikuti pendidikan Islami yang selalu menekankan pada pendidikan moral keagamaan. Moral sangat penting dalam pendidikan Islam, karena merupakan dasar dalam memperkuat keimanan seseorang. Sesuatu yang berkaitan dengan masalah Ketuhanan.[3]

Setelah Subang Larang meninggal perjuangan menyebarkan dan mengajarkan Islam diteruskan oleh putra-putrinya. Ketiga anaknya inilah yang kemudian memegang peranan penting dalam penyebaran Islam di wilayah Jawa Barat sehingga mengubah Jawa Bagian Barat menjadi daerah penyebaran Islam.

Referensi

  1. 1 2 Annisa, Mamay Ayu (2015). "NILAI KARAKTER DALAM CERITA RAKYAT SUBANG LARARANG". Riksa Bahasa. 1 (1): 93–100. doi:https://doi.org/10.17509/rb.v1i1.8704.g5407.{{cite journal}}: Periksa nilai |doi=; Tautan eksternal dalam |doi=; line feed karakter dalam |title= pada posisi 15
  2. 1 2 3 swararahima (2020-03-03). "Nyi Subang Larang, Menyebarkan Islam di Wilayah Pajajaran". Swara Rahima. Diakses tanggal 2026-02-07.
  3. 1 2 3 4 Pranata, Galih & Indah Rahmawati Akbar (2022). "TINJAUAN HISTORIS: TOPONIMI NAMA KABUPATEN SUBANG". TARIKHUNA: JOURNAL OF HISTORY AND HISTORY EDUCATION. 4 (2): 104–113. doi:https://doi.org/10.15548/thje.v4i2.4809.{{cite journal}}: Periksa nilai |doi=; Tautan eksternal dalam |doi=; line feed karakter dalam |title= pada posisi 43
  4. ↑ "Nyi Subang larang dan Prabu Siliwangi » Budaya Indonesia". budaya-indonesia.org. Diakses tanggal 2026-02-08.
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan