Sabtu, 31 Oktober 2026
06:41 WIB
TERKINI
Lampung Barat Pesan Bupati Lambar: Patriotik, Gigih, dan Berempati Kunci Masa Depan Bangsa Bandar Lampung 343 Polisi Disiagakan Kawal Aksi Sumpah Pemuda 2026 di Bandar Lampung Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Solar Subsidi Terbongkar di Lampung Selatan, Tiga Tersangka Diamankan Bandar Lampung Perpanjangan SIM A/C Kini Lebih Praktis: Cek Jadwal dan Syarat di Bandar Lampung Lampung Selatan Gunung Anak Krakatau: Asap Hitam Viral Bukan Erupsi, Status Tetap Siaga Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Rokok Ilegal Senilai Rp14,85 Miliar Terbongkar di Bakauheni Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare Bandar Lampung BSU 2026 Segera Disalurkan: Rp900 Ribu dan Analisis Pakar Terkait Tantangan Pekerja Bandar Lampung Optimisme Harga Singkong Lampung 2027: Bibit dan Pupuk Kunci Utama Bandar Lampung Krisis Asap dan Ribuan Titik Panas: WALHI Desak Audit Ekologis TNWK Lampung Barat Pesan Bupati Lambar: Patriotik, Gigih, dan Berempati Kunci Masa Depan Bangsa Bandar Lampung 343 Polisi Disiagakan Kawal Aksi Sumpah Pemuda 2026 di Bandar Lampung Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Solar Subsidi Terbongkar di Lampung Selatan, Tiga Tersangka Diamankan Bandar Lampung Perpanjangan SIM A/C Kini Lebih Praktis: Cek Jadwal dan Syarat di Bandar Lampung Lampung Selatan Gunung Anak Krakatau: Asap Hitam Viral Bukan Erupsi, Status Tetap Siaga Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Rokok Ilegal Senilai Rp14,85 Miliar Terbongkar di Bakauheni Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare Bandar Lampung BSU 2026 Segera Disalurkan: Rp900 Ribu dan Analisis Pakar Terkait Tantangan Pekerja Bandar Lampung Optimisme Harga Singkong Lampung 2027: Bibit dan Pupuk Kunci Utama Bandar Lampung Krisis Asap dan Ribuan Titik Panas: WALHI Desak Audit Ekologis TNWK
Strategi Singapura

Strategi Singapura

Bagikan:
Strategi Singapura
A formidable line of warships with big guns heads straight toward you, trailing smoke
HMS Repulse memimpin kapal perang saudaranya HMS Renown dan kapal perang utama lainnya dalam manuver pada tahun
Era1919–1942
Ruang tempurLaut

Strategi Singapura adalah kebijakan pertahanan laut Imperium Britania yang melibatkan serangkaian rencana perang dari tahun 1919 sampai 1941. Strategi ini bertujuan mencegah agresi Kekaisaran Jepang dengan menugaskan satu armada Royal Navy di Asia Timur, yang mampu mencegat dan mengalahkan armada Jepang yang bergerak ke selatan menuju India atau Australia. Agar efektif strategi ini mensyaratkan pangkalan yang memiliki perlengkapan baik. Singapura, yang berada di ujung timur Selat Malaka, dipilih sebagai lokasi paling sesuai pada tahun 1919. Pembangunan pangkalan dan pertahannya dilaksanakan selama dua dasawarsa berikutnya.

Para perencana meramalkan bahwa perang dengan Jepang akan berlangsung dalam tiga fase: ketika garnisun di Singapura mempertahankan bentengnya, armada laut akan melaju dari perairan Inggris ke Singapura, membantu atau merebut kembali Hong Kong, dan memblokade Kepulauan Jepang untuk memaksa Jepang buat berdamai. Gagasan invasi Jepang ditolak karena dianggap tidak praktis, tetapi para perencana Britania tidak menduga bahwa Jepang akan bersedia terlibat dalam pertempuran laut yang menentukan dengan mati-matian. Sadar akan dampak blokade terhadap bangsa kepulauan di jantung imperium maritim, mereka merasa bahwa tekanan ekonomi akan mencukupi.

Strategi Singapura adalah landasan kebijakan pertahanan Imperium Britania selama dasawarsa 1920-an dan 1930-an. Pada tahun 1937, menurut Kapten Stephen Roskill, "konsep 'Armada Utama ke Singapura', telah, mungkin lewat pengulangan terus-menerus, tidak dapat diganggu gugat layaknya Kitab Suci".[1] Gabungan kesukaran keuangan, politik dan praktis memastikan bahwa strategi ini tidak dapat dilaksanakan. Selama dasawarsa 1930-an, strategi ini dikritik berkali-kali di Britania dan di luar negeri, terutama di Australia, tempat Strategi Singapura digunakan sebagai dalih kebijakan pertahanan yang kikir anggaran. Strategi ini pada akhirnya berujung kepada pengiriman Pasukan Z ke Singapura dan penenggelaman kapal perang Prince of Wales dan Repulse oleh serangan udara Jepang pada 10 Desember 1941. Jatuhnya Singapura yang terjadi kemudian disebutkan oleh Winston Churchill sebagai "bencana terburuk dan penyerahan yang terbesar dalam sejarah Britania".[2]

Catatan

  1. ↑ McIntyre 1979, hlm. 214
  2. ↑ Churchill 1950, hlm. 81

Referensi


Singapura

Artikel bertopik Singapura ini adalah sebuah rintisan. Anda dapat membantu Wikipedia dengan mengembangkannya.

Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan