Minggu, 27 September 2026
09:05 WIB
TERKINI
Bandar Lampung Semangat Anak Sawah: Harumkan Nama Lampung di Kancah Nasional Tanpa Dukungan Pemda Lampung Selatan Gunung Anak Krakatau Kembali Erupsi, Status Siaga Tetap Dipertahankan Bandar Lampung BPS Lampung Tuntaskan Sensus Ekonomi 2026, Hasilnya Siap Rilis Awal 2027 Bandar Lampung Inovasi Double Teaching: Guru Ahli Berbagi Ilmu Lintas Sekolah di Lampung Bandar Lampung Coki, Buaya Peliharaan Warga Panjang yang Bikin Haru Jelang Evakuasi KKP Lampung Tekuni Hobi Sejak Kuliah, Dani Tetap Bertahan Jual Ikan Hias di Tengah Tantangan Cuaca Prakiraan Cuaca Lampung 26 September 2026: Cerah Berawan dan Potensi Hujan Humaniora Perlindungan Anak Digital: MPR Desak Komitmen Global Terwujud Nyata di Tanah Air Regional Bupati Gowa Sitti Husniah Talenrang Tersangka Pemerasan Perizinan Bangunan dan TPPU Bandar Lampung Puluhan Siswa di Lampung Tengah Diduga Keracunan Makanan Program MBG Bandar Lampung Semangat Anak Sawah: Harumkan Nama Lampung di Kancah Nasional Tanpa Dukungan Pemda Lampung Selatan Gunung Anak Krakatau Kembali Erupsi, Status Siaga Tetap Dipertahankan Bandar Lampung BPS Lampung Tuntaskan Sensus Ekonomi 2026, Hasilnya Siap Rilis Awal 2027 Bandar Lampung Inovasi Double Teaching: Guru Ahli Berbagi Ilmu Lintas Sekolah di Lampung Bandar Lampung Coki, Buaya Peliharaan Warga Panjang yang Bikin Haru Jelang Evakuasi KKP Lampung Tekuni Hobi Sejak Kuliah, Dani Tetap Bertahan Jual Ikan Hias di Tengah Tantangan Cuaca Prakiraan Cuaca Lampung 26 September 2026: Cerah Berawan dan Potensi Hujan Humaniora Perlindungan Anak Digital: MPR Desak Komitmen Global Terwujud Nyata di Tanah Air Regional Bupati Gowa Sitti Husniah Talenrang Tersangka Pemerasan Perizinan Bangunan dan TPPU Bandar Lampung Puluhan Siswa di Lampung Tengah Diduga Keracunan Makanan Program MBG

Soekitman

pahlawan nasional Indonesia

Soekitman
Informasi pribadi
Lahir30 Maret 1943
Meninggal13 Agustus 2007(2007-08-13) (umur 64)
MakamTaman Makam Pahlawan Kalibata
Anak3
AlmamaterSekolah Polisi Negara Kramat Jati
Dikenal karena
Saksi peristiwa Gerakan 30 September
Karier militer
Pihak Indonesia
Dinas/cabang40px-Insignia_of_the_Indonesian_National_Police.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail Kepolisian Negara Republik Indonesia
Pangkat40px-PDU_AKBP_KOM.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail Ajun Komisaris Besar Polisi
SatuanSabhara/Perintis
Pertempuran/perangOperasi G30S/PKI (1965)

Ajun Komisaris Besar Polisi (Purn.) H. Soekitman (ER, EYD: Sukitman; 30 Maret 1943 – 13 Agustus 2007) adalah tokoh kepolisian yang menjadi saksi sejarah terjadinya Gerakan 30 September tahun 1965 oleh Partai Komunis Indonesia (PKI) beserta simpatisannya dan penemu lokasi sumur di Lubang Buaya, di mana tempat tersebut menjadi tempat pembuangan jenazah ketujuh perwira Pahlawan Revolusi Indonesia.[1]

Soekitman telah berkarier di Kepolisian Negara Republik Indonesia sejak dirinya berumur 18 tahun, tepatnya pada tahun 1961. Terakhir, ia berdinas di kepolisian selaku Kepala Sub Bagian Regident Kepolisian Daerah Metropolitan Jakarta Raya, kemudian pensiun pada 1998. Setelah pensiun, Soekitman tinggal bersama mertuanya di Depok.[butuh rujukan]

Kehidupan awal dan karier

Soekitman lahir di Desa Cimanggu, Palabuhanratu, Masa Pendudukan Jepang pada tanggal 30 Maret 1943. Ia menempuh pendidikan awalnya di Sekolah Rakyat. Di umur 18 tahun, ia merantau dari tanah kelahirannya ke Jakarta untuk mencari pekerjaan, hingga kemudian mengikuti ujian seleksi dan berhasil masuk Sekolah Polisi Negara (SPN) Kramat Jati, Jakarta Timur, pada tahun 1961. Siswa Angkatan VII SPN Kramat Jati ini menyelesaikan pendidikannya pada 1 Januari 1963 dan dilantik menjadi Agen Polisi Tingkat II. Ia pun memulai karier sebagai polisi di Markas Polisi Seksi VIII Kebayoran Baru sebagai anggota perintis dari Kesatuan Perintis/Sabhara.

Saksi peristiwa Gerakan 30 September dan penemu Lubang Buaya

Pada 30 September 1965 di malam hari, Soekitman sedang menjalankan tugas patroli menjaga Guest House di Jalan Iskandarsyah Raya, Jakarta Selatan bersama rekannya, Sutarso. Tiba-tiba, terdengar suara tembakan diikuti rentetan letusan senjata. Kemudian, Soekitman meminta rekan jaganya tetap menunggu di pos. Ia pun bergegas menghampiri sumber suara dengan sepeda kumbangnya (hadiah bagi polisi berprestasi) ke arah kediaman Mayor Jenderal TNI D.I. Pandjaitan. Namun, sekelompok orang menghadang dan menculiknya. Agen Polisi Tingkat II Soekitman ikut dibawa ke Lubang Buaya dan menjadi salah satu saksi penculikan dan pembunuhan beberapa pemimpin Tentara Nasional Indonesia dalam peristiwa G30S/PKI.[2] Atas jasa-jasanya, dia mendapatkan kenaikan pangkat dari sebelumnya Ajun Komisaris Polisi (AKP) menjadi Ajun Komisaris Besar Polisi (AKBP).

Penghargaan

Atas semua pengabdiannya kepada negara, Soekitman telah menerima sejumlah tanda jasa baik di dalam maupun luar negeri, di antaranya;

Baris ke-1 Bintang Mahaputera Utama (2025)[3] Satyalancana Ksatriya Tamtama Satyalancana Penegak

Referensi

  1. ↑ "Sukitman, Saksi Peristiwa G30/S PKI, Meninggal Dunia". antaranews.com. 2007-08-13. Diakses tanggal 2021-10-22.
  2. ↑ Amin, Al (2012-10-03). "Kisah Sukitman, penemu lokasi jenazah jenderal di Lubang Buaya". merdeka.com. Diakses tanggal 2026-08-30.
  3. ↑ Ulya, Fika Nurul (25 Agustus 2025). "122 Tokoh dan Ahli Waris Hadir di Istana, Terima Tanda Kehormatan dari Prabowo". Kompas.com. Diakses tanggal 26 Agustus 2025.
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan