Jumat, 30 Oktober 2026
23:14 WIB
TERKINI
Lampung Barat Pesan Bupati Lambar: Patriotik, Gigih, dan Berempati Kunci Masa Depan Bangsa Bandar Lampung 343 Polisi Disiagakan Kawal Aksi Sumpah Pemuda 2026 di Bandar Lampung Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Solar Subsidi Terbongkar di Lampung Selatan, Tiga Tersangka Diamankan Bandar Lampung Perpanjangan SIM A/C Kini Lebih Praktis: Cek Jadwal dan Syarat di Bandar Lampung Lampung Selatan Gunung Anak Krakatau: Asap Hitam Viral Bukan Erupsi, Status Tetap Siaga Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Rokok Ilegal Senilai Rp14,85 Miliar Terbongkar di Bakauheni Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare Bandar Lampung BSU 2026 Segera Disalurkan: Rp900 Ribu dan Analisis Pakar Terkait Tantangan Pekerja Bandar Lampung Optimisme Harga Singkong Lampung 2027: Bibit dan Pupuk Kunci Utama Bandar Lampung Krisis Asap dan Ribuan Titik Panas: WALHI Desak Audit Ekologis TNWK Lampung Barat Pesan Bupati Lambar: Patriotik, Gigih, dan Berempati Kunci Masa Depan Bangsa Bandar Lampung 343 Polisi Disiagakan Kawal Aksi Sumpah Pemuda 2026 di Bandar Lampung Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Solar Subsidi Terbongkar di Lampung Selatan, Tiga Tersangka Diamankan Bandar Lampung Perpanjangan SIM A/C Kini Lebih Praktis: Cek Jadwal dan Syarat di Bandar Lampung Lampung Selatan Gunung Anak Krakatau: Asap Hitam Viral Bukan Erupsi, Status Tetap Siaga Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Rokok Ilegal Senilai Rp14,85 Miliar Terbongkar di Bakauheni Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare Bandar Lampung BSU 2026 Segera Disalurkan: Rp900 Ribu dan Analisis Pakar Terkait Tantangan Pekerja Bandar Lampung Optimisme Harga Singkong Lampung 2027: Bibit dan Pupuk Kunci Utama Bandar Lampung Krisis Asap dan Ribuan Titik Panas: WALHI Desak Audit Ekologis TNWK

Sistem tanda

Bagikan:

Sistem tanda (bahasa Inggris:sign system) merupakan konsep semiotika bahasa-bahasa pada bidang linguistik. Kridalaksana dalam (Kushartanti, 2005) menulis bahwa bahasa merupakan sistem tanda. Bahasa selalu merepresentasikan sesuatu, dari yang abstrak sampai yang konkret.[1] Bahasa bisa menjadi tanda sesuatu yang abstrak misalnya senang, sedih, marah, kesal, dan lain sebagainya. Di sisi lain, bahasa juga merupakan tanda dari benda-benda nyata, seperti halnya kata pohon yang berarti tumbuhan dengan batang dan daun kayu. kata meja yang berarti sebuah mebel atau perabotan yang memiliki permukaan datar dan kaki-kaki sebagai penyangga.

Penanda dan Petanda Ferdinand de Saussure

Ferdinand de Saussure menerbitkan bukunya yang berjudul A Course in General Linguistics (1913). Dalam buku itu de Saussure membayangkan suatu ilmu yang mempelajari tanda-tanda dalam masyarakat. Ia juga menjelaskan konsep-konsep yang dikenal dengan dikotomi linguistik. Salah satu dikotomi itu adalah signifier dan signified (penanda dan petanda). Ferdinand de Saussure membagi tanda menjadi dua yaitu signifier (atau citra bunyi) dan signified (atau konsep) dan dikatakannya bahwa hubungan antara keduanya adalah arbitrer. Maksud dari arbitrer yakni imaji bunyi dan konsep sebagai tanda bahasa berhubungan secara manasuka atau sewenang-wenang.

Menurut Ferdinand de Saussure, bahasa terdiri dari sejumlah tanda yang terdapat pada jaringan sistem dan dapat disusun dalam sejumlah struktur. Dengan demikian, bahasa sebagai sebuah sistem dapat dirtikan tercipta dari kemufakatan (konvensi) di atas dasar yang tak beralasan (unreasonable) atau sewenang-wenang. Misalnya, kata meja yang keluar dari mulut seorang penutur bahasa Indonesia berkorespondensi dengan konsep tentang meja dalam benak orang tersebut tidak menunjukkan adanya batas-batas (boundaries) yang jelas atau nyata antara penanda dan petanda, melainkan secara gamblang mendemonstrasikan kesewenang-wenangan.

Analisis Semiotika Pierce

Dalam analisis semiotiknya, Pierce membagi tanda berdasarkan sifat ground menjadi tiga kelompok, yaitu qualisigns, sinsigns dan legisigns. Qualisign adalah tanda-tanda berdasarkan karakteristik sifat. Sinsigns adalah tanda yang didasarkan pada tampilan yang benar-benar ada dalam kenyataan. Sinsigns adalah semua pernyataan individu yang tidak dilembagakan misalnya jeritan berarti rasa sakit, kejutan, dan kegembiraan. Legisigns adalah tanda-tanda yang merupakan tanda atas dasar suatu peraturan yang berlaku umum, sebuah konvensi, sebuah kode misalnya mengangguk, mengerutkan alis, berjabat tangan dan sebagainya.[2]

Ciri-Ciri Tanda

Menurut Van Zoest (1993) terdapat lima ciri dari tanda. Pertama, tanda harus dapat diamati agar dapat berfungsi sebagai tanda. Kedua, tanda harus ‘bisa ditangkap’ merupakan syarat mutlak. Ketiga, merujuk pada sesuatu yang lain, sesuatu yang tidak hadir. Keempat, tanda memiliki sifat representatif dan sifat ini mempunyai hubungan langsung dengan sifat inter-pretatif. Kelima, sesuatu hanya dapat merupakan tanda atas dasar satu dan lain. Peirce menyebutnya dengan ground (dasar, latar) dari tanda.[3]

Hierarki Sistem Tanda

Hierarki sistem semiotik atau sistem tanda meliputi unsur (1) sosial budaya, baik dalam konteks sosial maupun situasional, (2) manusia sebagai subjek yang berkreasi, (3) lambang sebagai dunia simbolik yang menyertai proses dan mewujudkan kebudayaan, (4) dunia pragmatik atau pemakaian, (5) wilayah makna.[4]

Orientasi budaya sebagai anggota masyarakat bahasa salah satunya tecermin dalam sistem bahasa dan sistem kode yang digunakan. Adanya kesadaran mengenai sistem bahasa, sistem kode dan penggunaannya, selain itu menjadi dasar dalam komunikasi antaranggota masyarakat bahasa itu sendiri. Pada kegiatan komunikasinya, misalnya antara penutur dan pendengar, sadar atau tidak, tentunya dilakukan identifikasi. Identifikasi dalam hal ini tidak terbatas pada tanda-tanda kebahasaan, tetapi juga untuk tanda berupa ang kuat dan khas, serta untuk konteks komunikasi itu sendiri. Dengan adanya identifikasi ini, komunikasi menjadi sesuatu yang bermakna baik untuk penutur maupun bagi pendengar.

Referensi

  1. ↑ Yuwono dan Lauder, Yuwono (2005). Pesona Bahasa: Langkah Awal Memahami Linguistik. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  2. ↑ Sartini, Ni Wayan (2007). "Tinjauan Teoritik Tentang Semantik" (PDF). Jurnal Filsafat.
  3. ↑ Aart, Van Zoest (1993). Semiotika: Tentang Tanda, Cara Kerjanya dan Apa yang kita Lakukan Dengannya. Jakarta: Yayasan Sumber Agung.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  4. ↑ Sartini, Ni Wayan (2007). "Tinjauan Teoritik Tentang Semantik" (PDF). Jurnal Filsafat.
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan