Rabu, 28 Oktober 2026
04:19 WIB
TERKINI
Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare Bandar Lampung BSU 2026 Segera Disalurkan: Rp900 Ribu dan Analisis Pakar Terkait Tantangan Pekerja Bandar Lampung Optimisme Harga Singkong Lampung 2027: Bibit dan Pupuk Kunci Utama Bandar Lampung Krisis Asap dan Ribuan Titik Panas: WALHI Desak Audit Ekologis TNWK Bandar Lampung Polda Lampung Luncurkan Operasi Patuh Krakatau 2026: 702 Personel Siap Tingkatkan Disiplin Lalu Lintas Bandar Lampung Pembakaran Sampah Diduga Picu Kebakaran Lahan di Panjang Bandar Lampung Bandar Lampung Waspada Hujan Ringan: Prakiraan Cuaca Lampung Sepanjang 24 Oktober 2026 Bandar Lampung Penundaan Pembahasan APBD Lampung 2027: Berkas dan Data Terkini Jadi Kunci Bandar Lampung Fokus Pendidikan dan Ekonomi Desa, Lampung Matangkan APBD 2027 Bandar Lampung Polisi Hadir di Jalanan: Ratusan Makan Siang Gratis Eratkan Hubungan Warga Bandar Lampung Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare Bandar Lampung BSU 2026 Segera Disalurkan: Rp900 Ribu dan Analisis Pakar Terkait Tantangan Pekerja Bandar Lampung Optimisme Harga Singkong Lampung 2027: Bibit dan Pupuk Kunci Utama Bandar Lampung Krisis Asap dan Ribuan Titik Panas: WALHI Desak Audit Ekologis TNWK Bandar Lampung Polda Lampung Luncurkan Operasi Patuh Krakatau 2026: 702 Personel Siap Tingkatkan Disiplin Lalu Lintas Bandar Lampung Pembakaran Sampah Diduga Picu Kebakaran Lahan di Panjang Bandar Lampung Bandar Lampung Waspada Hujan Ringan: Prakiraan Cuaca Lampung Sepanjang 24 Oktober 2026 Bandar Lampung Penundaan Pembahasan APBD Lampung 2027: Berkas dan Data Terkini Jadi Kunci Bandar Lampung Fokus Pendidikan dan Ekonomi Desa, Lampung Matangkan APBD 2027 Bandar Lampung Polisi Hadir di Jalanan: Ratusan Makan Siang Gratis Eratkan Hubungan Warga Bandar Lampung
Sesar Matano

Sesar Matano

Bagikan:
Sesar Matano
330px-Figure_1_Daryono_et_al._2021.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
LokasiSulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara
NegaraIndonesia
Karakteristik
Panjang190 km
Pergeseran17–28mm/tahun
Tektonika lempeng
LempengLempeng Sunda, Lempeng Laut Banda
StatusAktif
JenisStrike-slip, Transform fault

Sesar Matano (bahasa Inggris:Matano Fault) atau Patahan Matano adalah sebuah Patahan transform mendatar aktif yang membentang dari Provinsi Sulawesi Tengah hingga Sulawesi Tenggara, membentang sekitar 190 kilometer (120 mi) dari dekat ujung selatan Sesar Palu-Koro di barat, hingga Teluk Kolono di pantai timur pulau Sulawesi.[1][2]

Geologi

Zona sesar terbagi menjadi enam segmen utama. Dari barat ke timur, segmen-segmen tersebut adalah segmen Kuleana, Pewusai, Matano, Pamsoa, Ballawi, dan Geresa. Danau Matano terbentuk sebagai cekungan yang terpisah akibat perpindahan lempeng (stepover) antara segmen Pamsoa dan Matano di zona sesar tersebut. Zona sesar ini memanjang ke arah timur dari lepas pantai dan mungkin terhubung dengan Sesar Tolo dan/atau Sesar Sula Selatan.

Bersama dengan Sesar Palu-Koro, zona sesar ini membentuk bagian dari batas antara dua blok kerak utama yang membentuk pulau, yaitu Blok Sula Utara di utara dan timur dan Blok Makassar di selatan dan barat. Laju pergeseran saat ini di sepanjang Sesar Matano diperkirakan berada pada kisaran 17 hingga 28 milimeter (0,67 hingga 1,10 in) per tahun.[3]

Sejarah gempa bumi

Tidak ada gempa bumi yang tercatat di sepanjang zona patahan Matano selama setidaknya 200 tahun. Investigasi paleoseismik pada beberapa segmen telah mengungkapkan bukti adanya patahan di masa lalu. Lima peristiwa gempa besar disepanjang patahan telah terdeteksi pada segmen Geresa paling timur dari patahan tersebut, tiga di antaranya dalam 1.000 tahun terakhir. Peristiwa patahan terbaru diperkirakan terjadi antara tahun 1432 dan 1819 dengan panjang patahan sekitar 110 km dan magnitudo sekitar 7,4 Mw. Interval perulangan yang diinterpretasikan dari pengamatan ini adalah 335±135 tahun, menunjukkan bahwa gempa berikutnya kemungkinan besar akan terjadi.

Lihat pula

Referensi

  1. ↑ Patria, A.; Natawidjaja, D.H.; Daryono, M.R.; Hanif, M.; Puji, A.R.; Tsutsumi, H. (2023). "Tectonic landform and paleoseismic events of the easternmost Matano fault in Sulawesi, Indonesia". Tectonophysics. 852. doi:10.1016/j.tecto.2023.229762.
  2. ↑ Daryono, M.R.; Kumarawarman, B.; Muslim, I.H.; Triwurjani, R.; Permadi, R.; Prihatmoko, S.; Wibowo, S.; Tutoko, G.H. (2021). "Two earthquake events on the Pamsoa Segment of the Matano Fault, Sulawesi". IOP Conference Series: Earth and Environmental Science. 873: 012053. doi:10.1088/1755-1315/873/1/012053.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: nomor artikel sebagai nomor halaman (link)
  3. ↑ Socquet A.; Simons W.; Vigny C.; McCaffrey R.; Subarya C.; Sarsito D.; Ambrosius B.; Spakman W. (2006). "Microblock rotations and fault coupling in SE Asia triple junction (Sulawesi, Indonesia) from GPS and earthquake slip vector data". Journal of Geophysical Research: Solid Earth. 111 (B8). Bibcode:2006JGRB..111.8409S. doi:10.1029/2005JB003963.
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan