Sabtu, 24 Oktober 2026
05:47 WIB
TERKINI
Bandar Lampung Polisi Hadir di Jalanan: Ratusan Makan Siang Gratis Eratkan Hubungan Warga Bandar Lampung Bandar Lampung Ancaman Serius TNBBS: 23 Kasus Pidana Kehutanan Terungkap dalam Satu Dekade Bandar Lampung Penipuan Rekrutmen Honorer Rp20 Juta di Bandar Lampung Berakhir Damai Bandar Lampung Transformasi 40 Tahun FISIP Unila: Dari Prestasi Global hingga Riset Solutif Lampung Bandar Lampung Sinergi Lintas Sektor: TNBBS Perkuat Penegakan Hukum Lingkungan dengan Enam Strategi Bandar Lampung Dorong Gaya Hidup Sehat, Pemkot Bandar Lampung Dukung Jalan Sehat Akbar di Panjang Bandar Lampung Peringatan Petugas Diabaikan, Pemotor Tewas Tertabrak Kereta Babaranjang di Bandar Lampung Lampung Selatan Kolom Abu Anak Krakatau Capai 500 Meter, Warga Lampung Selatan Diimbau Waspada Pesawaran Unila Dampingi Orkes Gambus Al-Anwar: Tradisi Bertemu Teknologi Modern Bandar Lampung Kualitas Udara Bandar Lampung: Kelompok Sensitif Diminta Tetap Waspada Bandar Lampung Polisi Hadir di Jalanan: Ratusan Makan Siang Gratis Eratkan Hubungan Warga Bandar Lampung Bandar Lampung Ancaman Serius TNBBS: 23 Kasus Pidana Kehutanan Terungkap dalam Satu Dekade Bandar Lampung Penipuan Rekrutmen Honorer Rp20 Juta di Bandar Lampung Berakhir Damai Bandar Lampung Transformasi 40 Tahun FISIP Unila: Dari Prestasi Global hingga Riset Solutif Lampung Bandar Lampung Sinergi Lintas Sektor: TNBBS Perkuat Penegakan Hukum Lingkungan dengan Enam Strategi Bandar Lampung Dorong Gaya Hidup Sehat, Pemkot Bandar Lampung Dukung Jalan Sehat Akbar di Panjang Bandar Lampung Peringatan Petugas Diabaikan, Pemotor Tewas Tertabrak Kereta Babaranjang di Bandar Lampung Lampung Selatan Kolom Abu Anak Krakatau Capai 500 Meter, Warga Lampung Selatan Diimbau Waspada Pesawaran Unila Dampingi Orkes Gambus Al-Anwar: Tradisi Bertemu Teknologi Modern Bandar Lampung Kualitas Udara Bandar Lampung: Kelompok Sensitif Diminta Tetap Waspada
Sekolah Wharton

Sekolah Wharton

Bagikan:
The Wharton School of the University of Pennsylvania
Logo Sekolah Wharton
Aula Huntsman (Philadelphia)
Nama resmi
The Wharton School of Business, The Wharton School, Wharton
Nama sebelumnya
Wharton School of Finance and Economy (1881–1902)
Wharton School of Finance and Commerce (1902–1972)
MotoKnowledge for action
Jenissekolah bisnis
Didirikan1881;145 tahun lalu (1881)
PendiriJoseph Wharton
Lembaga induk
University of Pennsylvania
Dana abadi$21 miliar (2023)
DekanErika H. James {{cite web}}: Kutipan kosong
Staf akademik
484 (2026)
Lokasi
39°57′12″N 75°11′53″W / 39.953232°N 75.197993°W / 39.953232; -75.197993
osm-intl,13,a,a,270x200.png?lang=id&domain=id.wikipedia.org&title=Sekolah_Wharton&revid=29446515&groups=_bcf634962537667bb433369cc75e1e6317858af1&parser=parsoid
Situs webwharton.upenn.edu
250px-Wharton-Logo.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail

Sekolah Wharton ( /ˈhwɔːrtən/ WHOR-tən ) merupakan sekolah bisnis dari Universitas Pennsylvania. Sekolah ini adalah sekolah bisnis kolegiat pertama di dunia yang didirikan berkat donasi dari Joseph Wharton pada 1881. Saat ini, Sekolah Bisnis Wharton memiliki 241 anggota tetap fakultas, lebih dari 100.000 alumni, lebih dari 5.000 mahasiswa, dan lebih dari 13.000 peserta program Pendidikan Eksekutif Wharton.[1] Sekolah ini termasuk sekolah bisnis Ivy League yang dianggap punya reputasi terbaik di Amerika Serikat dan dunia. Sekolah ini menghasilkan miliarder terbanyak di dunia, termasuk Elon Musk, Warren Buffett, hingga Presiden AS Donald Trump.[2][3][4][5]

Sejarah

Pendirian

Pendirian Sekolah Wharton erat kaitannya dengan industrialisasi di Amerika Serikat pada abad ke-19. Pada akhir abad ke-19, Universitas Pennsylvania telah menjadi pusat ilmu sosial selama hampir satu setengah abad sejak didirikan; pendirian Sekolah Wharton menjadikannya sekolah yang mengajarkan ilmu praktis dan inovatif.

Joseph Wharton, seorang pengusaha pembuat besi dan baja di Philadelphia dan pemilik Bethlehem Iron Company memiliki minat pada pendidikan tinggi di kotanya. Ia berargumen bahwa perlu ada pendidikan tinggi yang bersifat praktis, bukan hanya teoretis. Ia mendorong lahirnya Universitas Lehigh, kemudian turut mendanai Swarthmore College sejak awal (1864), dan berkontribusi besar pada pendirian Sekolah Wharton.[6]

Berbeda dengan pendekatannya pada Swarthmore College, Joseph Wharton cenderung terlibat lebih dalam pada rencana pembentukan sekolah bisnis di Universitas Pennsylvania yang menyandang namanya. Ia menekankan pentingnya pengetahuan klasik dan pengetahuan tentang "masyarakat," seperti hukum bisnis, perbankan dan akuntansi, dan kemampuan terkait. Ia bahkan menginginkan dekan dan profesor di sekolah baru tersebut punya spesialisasi khusus dalam akuntansi, keuangan, perpajakan, dan bisnis. Wharton menekankan bahwa "Profesor tidak menggunakan metode kuliah umum; mahasiswa harus terlibat atletik; dan mereka harus menulis tesis sebagai persyaratan kelulusan." Rencana Wharton ini disampaikan pada dewan pengawas UPenn pada 1880. Ia menyumbang 100.000 dollar AS untuk pembentukan Sekolah Wharton dan sepanjang hidupnya terus memberikan donasi tambahan.[6]

Pada 1881, Sekolah Keuangan dan Ekonomi Wharton (kemudian berganti nama Sekolah Keuangan dan Bisnis Wharton) resmi didirikan. Sekolah Wharton awalnya tidak menerima sambutan baik di kalangan akademisi karena ketidaksetujuan mereka atas gagasan Wharton terkait pendidikan tinggi yang lebih menekankan pendidikan praktis. Pada 1883 universitas mengganti banyak profesor dengan pengajar yang lebih paham aspek-aspek bisnis. Meski demikian, konflik antara fakultas-fakultas klasik dengan sekolah bisnis terus berlanjut. Fakultas yang lebih tua berupaya menghalangi jurusan dan mata kuliah apa saja yang boleh diajarkan di Wharton; terdapat kekhawatiran bahwa sekolah bisnis ini akan menurunkan standar akademik. Ditambah lagi, Sekolah Wharton kesulitan untuk mendapat pendanaan.[7]

Kurikulum Sekolah Wharton dibangun dari subjek-subjek dasar yang lebih umum mengenai ekonomi dan politik, lalu dilanjutkan dengan subjek yang lebih spesifik dalm bisnis dan ekonomi. Sebelum 1894, kurikulumnya ditempuh dalam dua tahun dari empat tahun perkuliahan, di mana dua tahun awal diisi dengan mata kuliah umum. Namun, pada 1894, kurikulumnya disusun untuk perkuliahan selama empat tahun, sehingga lebih komprehensif. Hal ini memungkinkan mahasiswa memulai pekerjaan vokasi setelah masuk kuliah.[8] Pada 1895 hingga 1915, Profesor Edmund James membentuk kurikulum sekolah bisnis Wharton dengan mengembangkan subjek-subjek baru di bidang manajemen dan keuangan. Sekolah Wharton menciptakan disiplin ilmu baru, di antaranya Akuntansi, Hukum Bisnis, Keuangan, Manajemen Industri, Asuransi, Pemasaran, dan Transportasi.[9][10]

Pengembangan

Pada 1921, Sekolah Wharton mulai mendirikan program magister administrasi bisnis (MBA) dan membangun pusat riset pertama di sekolah bisnis, Unit Riset Industri. Alma Katherine Ledig menjadi perempuan pertama yang meraih MBA dari Sekolah Wharton pada 1931.[9]

Pada awal abad ke-20, Sekolah Wharton menghasilkan banyak profesor dan alumni yang berjasa bagi AS. Profesor Solomon Huebner dari Wharton berperan besar dalam studi asuransi. Sementara Profesor George Taylor dianggap sebagai pendiri disiplin ilmu Hubungan Industrial, ia juga dikenal sebagai "Bapak Arbitrase Amerika" berkat kontribusinya dalam membantu penyelesaian lebih dari 2.000 protes buruh. Pada 1948, Profesor Dorothy Thomas diangkat sebagai dosen perempuan pertama, dengan keahlian di bidang demografi, populasi, dan pertumbuhan ekonomi.[10]

Pada 1952, Sekolah Wharton pindah ke gedung sendiri di lingkungan kampus yang bernama Dietrich Hall. Pada 1983, gedung ini direnovasi dan menjadi Steinberg Hall-Dietrich Hall.[10]

Referensi

  1. ↑ "About Wharton". The Wharton School (dalam bahasa American English). Diakses tanggal 2026-06-13.
  2. ↑ "These schools produced the most billionaires". CNBC.
  3. ↑ "Here's Why UPenn Produces More Billionaires Than Any Other School In The World". Business Insider.
  4. ↑ "The 10 Schools That Produce The Most Forbes 400 Billionaires". FORBES.
  5. ↑ "The 29 most successful UPenn alumni alive today". Business Insider.
  6. 1 2 Shils, Edward B. (1989). "Review of Joseph Wharton: Quaker Industrial Pioneer". The Pennsylvania Magazine of History and Biography. 113 (1): 150–152. ISSN 0031-4587.
  7. ↑ Wren, Daniel A.; Van Fleet, David D. (1983). "History in Schools of Business". Business and Economic History. 12: 29–35. ISSN 0894-6825.
  8. ↑ McCrea, Roswell C. (1913-02). "The Work of the Wharton School of Finance and Commerce". Journal of Political Economy (dalam bahasa Inggris). 21 (2): 111–116. doi:10.1086/252164. ISSN 0022-3808.{{cite journal}}: Periksa nilai tanggal dalam: |date=
  9. 1 2 Architha, Aithal,; S., Aithal, P. (2018-01-02). "How and Why Wharton Business School Became World Topper – A Case Study on Organizational Quest for Excellence of First US Business School" (dalam bahasa Inggris).{{cite journal}}: Kutipan journal memerlukan |journal=Pemeliharaan CS1: Banyak nama: daftar penulis (link) Pemeliharaan CS1: Tanda baca tambahan (link)
  10. 1 2 3 "History". The Wharton School (dalam bahasa American English). Diakses tanggal 2026-06-13.
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan