Senin, 28 September 2026
10:37 WIB
TERKINI
Prelude Mengungkap Akal-akalan Aturan Pemilu Melalui Lensa Pareto Hukum Sorotan Tajam: Hunian Mewah di Area Asimilasi Lapas Cibinong Jadi Perdebatan Kolom Mahkamah Konstitusi Kubur Ambang Batas Pilpres, Desakan Tak Menghidupkan Kembali Bola Lampard Gemilang dengan Coventry: Dari Championship ke Liga Primer, Dipuji Rekan Edukasi Moreno Sidharta: Otodidak Raih Medali Emas Olimpiade Matematika Internasional Bola Mantan Bintang Spanyol Dorong Haaland ke Barcelona: Cocok Gaya Main Flick Lampung Maulid Arbain Lampung Sembilan Tahun: Penguatan Akhlak dan SDM Jadi Prioritas Humaniora Ribuan Warga Hadiri Penutupan Maulid Arbain Lampung 2026: Perkuat Akhlak dan Anti Narkoba Cuaca Ratusan Titik Panas Terdeteksi di Lampung: Way Kanan Paling Banyak Disorot Bandar Lampung BMKG Ungkap Penyebab Kemarau Panjang di Lampung: El Nino Kuat dan Hujan Lokal Prelude Mengungkap Akal-akalan Aturan Pemilu Melalui Lensa Pareto Hukum Sorotan Tajam: Hunian Mewah di Area Asimilasi Lapas Cibinong Jadi Perdebatan Kolom Mahkamah Konstitusi Kubur Ambang Batas Pilpres, Desakan Tak Menghidupkan Kembali Bola Lampard Gemilang dengan Coventry: Dari Championship ke Liga Primer, Dipuji Rekan Edukasi Moreno Sidharta: Otodidak Raih Medali Emas Olimpiade Matematika Internasional Bola Mantan Bintang Spanyol Dorong Haaland ke Barcelona: Cocok Gaya Main Flick Lampung Maulid Arbain Lampung Sembilan Tahun: Penguatan Akhlak dan SDM Jadi Prioritas Humaniora Ribuan Warga Hadiri Penutupan Maulid Arbain Lampung 2026: Perkuat Akhlak dan Anti Narkoba Cuaca Ratusan Titik Panas Terdeteksi di Lampung: Way Kanan Paling Banyak Disorot Bandar Lampung BMKG Ungkap Penyebab Kemarau Panjang di Lampung: El Nino Kuat dan Hujan Lokal

Nasi boranan

salah satu jenis hidangan nasi

60px-Question_book-new.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Artikel ini tidak memiliki referensi atau sumber tepercaya sehingga isinya tidak bisa dipastikan. Tolong bantu perbaiki artikel ini dengan menambahkan referensi yang layak. Tulisan tanpa sumber dapat dipertanyakan dan dihapus sewaktu-waktu.
Cari sumber: "Nasi boranan" – berita · surat kabar · buku · cendekiawan · JSTOR

Nasi boranan atau sego boranan, adalah makanan tradisional dan khas Lamongan, Jawa Timur.[1] Kata Boranan ini berasal dari tempat Nasi (terbuat dari Anyaman Bambu) yang digendong dengan selendang pada punggung, Nasi boranan belum banyak dikenal di luar Lamongan karena memang hanya dijual di Lamongan.[2]

Khas nasi boranan yang tidak akan ditemui pada menu lainnya, yaitu empuk, pletuk, dan ikan sili. “Empuk ini dibuat dari tepung terigu yang dibumbui, pletuk terbuat dari nasi yang dikeringkan atau kacang, lalu dibumbui dan digoreng. Namanya diambil dari bunyi ketika makanan ini dikunyah, ‘pletuk, pletuk’. Nah, lauk ikan sili ini yang tak bisa ditemui setiap saat, karena termasuk ikan musiman. Ikan sili dulu lebih dikenal sebagai ikan hias, harganya lebih mahal dibanding daging ayam. Bentuk ikan ini panjang seperti belut, tidak kentara mana bagian kepala atau ekornya. Durinya pun hanya ada di bagian tengah.[3] Nasi ini disajikan biasa dijajakan secara lesehan di sekitar kawasan pasar-pasar kota di Kabupaten Lamongan.[butuh rujukan]

Asal-usul dan sejarah

Tradisi penjualan nasi boranan berawal dari para pedagang perempuan di wilayah Lamongan yang menjajakan nasi dan lauk pauk di wadah boran (sejenis tampah bundar dengan penutup anyaman). Mereka menjual dagangan secara berkeliling dari kampung ke kampung, sehingga dikenal dengan sebutan penjual boranan.[4]

Komposisi dan penyajian

Nasi boranan terdiri dari:

  • nasi putih panas,
  • bumbu, terdiri dari rempah-rempah yang sudah dihaluskan,
  • lauk, seperti daging ayam, jeroan, ikan bandeng, telur dadar, telur asin, tahu, tempe hingga ikan sili,
  • kremesan yang dibuat dari sisa bumbu gorengan lauk, dan
  • rempeyek kacang (sejenis kerupuk bahan bakunya dari tepung beras yang dibumbui dan digoreng) sebagai pelengkap.

Semua bahan disajikan di atas boran yang dilapisi daun pisang. Bumbu khas nasi boranan umumnya mengandung rempah seperti kemiri, ketumbar, kunyit, bawang merah, dan bawang putih, yang memberikan aroma gurih dan rasa khas Lamongan.[5][6]

Makna budaya dan sosial

Bagi masyarakat Lamongan, nasi boranan bukan sekadar makanan, tetapi simbol kemandirian dan ketekunan perempuan pedagang tradisional. Pedagang boranan menjadi bagian dari identitas sosial masyarakat Lamongan terutama di kawasan Babat dan kota Lamongan.[7]

Dalam konteks ekonomi lokal, keberadaan nasi boranan berperan penting dalam menjaga kearifan lokal kuliner serta meningkatkan pendapatan masyarakat kecil melalui kegiatan usaha mikro kuliner.[3]

Warisan kuliner dan pengakuan

Nasi boranan telah diusulkan sebagai warisan budaya takbenda Indonesia dari Provinsi Jawa Timur. Pemerintah Kabupaten Lamongan juga aktif mempromosikan nasi boranan sebagai bagian dari citra "Lamongan Kota Soto dan Boranan". Festival dan lomba masak nasi boranan rutin diadakan dalam rangkaian Hari Jadi Lamongan (HARJALAM)[5]

Referensi

  1. ↑ "Mengenal Nasi Boranan, Kuliner Khas Lamongan". Liputan6. 25 Februari 2020. Diakses tanggal 22 Mei 2025.
  2. ↑ Fitriana, I., & Widodo, P. (2020). Kuliner Tradisional Lamongan: Eksistensi dan Identitas Nasi Boranan dalam Perspektif Sosio-Kultural. Jurnal Pariwisata Pesona, 5(2), 101–110.
  3. 1 2 Rahma, Yustika Aulia (2021-02-02). "KAJIAN MORFOLOGI IKAN SILI PADA NASI BORANAN MAKANAN KHAS DAERAH LAMONGAN PROVINSI JAWA TIMUR". Jurnal Matematika dan Sains (JMS) (dalam bahasa Inggris). 1 (1): 23–30. doi:10.55273/jms.v1i1.78. ISSN 2775-0671.
  4. ↑ Maf'ula, Faricha; Assadam, Elvina; Utomo, Dias Tiara (2023-01-02). "ANALISIS PERAN WANITA BEKERJA DALAM KEUANGAN RUMAH TANGGA: STUDI KASUS PADA PENJUAL NASI BORAN DI KABUPATEN LAMONGAN: Analysis The Role of Career Woman in Household Income: A Case Study on Boran Rice Seller in Lamongan". Anterior Jurnal (dalam bahasa Inggris). 22 (1): 99–105. doi:10.33084/anterior.v22i1.4092. ISSN 2355-3529.
  5. 1 2 "Website Dinas Sosial". dinsos.jatimprov.go.id (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2025-10-18.
  6. ↑ Puspitasari, A. (2021). Analisis Semiotik Kuliner Tradisional Nasi Boranan Lamongan. Jurnal Khasanah Budaya, Universitas Negeri Surabaya.
  7. ↑ Herlina, S. (2019). Peran Perempuan Pedagang Nasi Boranan dalam Perekonomian Rumah Tangga di Lamongan. Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora, 8(1), 55–67.


Ikon rintisan

Artikel bertopik makanan atau minuman Indonesia ini adalah sebuah rintisan. Anda dapat membantu Wikipedia dengan mengembangkannya.

Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan