Rabu, 14 Oktober 2026
04:14 WIB
TERKINI
Bandar Lampung Bandar Lampung Siaga Banjir Rob: BPBD Fokus Pantau Empat Kecamatan Pesisir Bandar Lampung Lampung Perketat Pengawasan Solar Subsidi: STNK Truk Roda Enam Diperiksa Bandar Lampung TNI AL Gagalkan Ribuan Paket Kokain Cair, Selamatkan Ribuan Jiwa dan Anggaran Negara Cuaca Gunung Anak Krakatau Berstatus Siaga, Asap Kawah dan Sinar Api Terpantau Jelas Lampung Prakiraan Cuaca Lampung 13 Oktober 2026: Waspada Hujan dan Angin Kencang Lampung Ratusan Titik Panas Terdeteksi di Lampung, Tulang Bawang Terbanyak Bandar Lampung Pemprov Lampung Gencarkan Rapat Penting, Mulai Inflasi Hingga Eliminasi TBC Pringsewu Ribuan Warga Pringsewu Padati Jalan Sehat Kapal Api Tribun Lampung Bandar Lampung Pengungkapan 3 Ton BBM Ilegal di Tanjung Bintang, Polisi Lidik Jaringan Penyaluran Lampung Tugas Berat Kapolda Lampung Brigjen Yustan Alpiani: Atasi Narkoba, Konflik Lahan, dan Distribusi BBM Bandar Lampung Bandar Lampung Siaga Banjir Rob: BPBD Fokus Pantau Empat Kecamatan Pesisir Bandar Lampung Lampung Perketat Pengawasan Solar Subsidi: STNK Truk Roda Enam Diperiksa Bandar Lampung TNI AL Gagalkan Ribuan Paket Kokain Cair, Selamatkan Ribuan Jiwa dan Anggaran Negara Cuaca Gunung Anak Krakatau Berstatus Siaga, Asap Kawah dan Sinar Api Terpantau Jelas Lampung Prakiraan Cuaca Lampung 13 Oktober 2026: Waspada Hujan dan Angin Kencang Lampung Ratusan Titik Panas Terdeteksi di Lampung, Tulang Bawang Terbanyak Bandar Lampung Pemprov Lampung Gencarkan Rapat Penting, Mulai Inflasi Hingga Eliminasi TBC Pringsewu Ribuan Warga Pringsewu Padati Jalan Sehat Kapal Api Tribun Lampung Bandar Lampung Pengungkapan 3 Ton BBM Ilegal di Tanjung Bintang, Polisi Lidik Jaringan Penyaluran Lampung Tugas Berat Kapolda Lampung Brigjen Yustan Alpiani: Atasi Narkoba, Konflik Lahan, dan Distribusi BBM
Segitiga Kionga

Segitiga Kionga

wilayah jajahan Jerman yang kini adalah Mozambik

Bagikan:

10°35′46″S 40°30′32″E / 10.596°S 40.509°E / -10.596; 40.509

250px-Wirtschafts-Atlas_der_deutschen_Kolonien_-_22_cropped.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Segitiga Kionga di peta tua Jerman (di bawah kanan).

Segitiga Kionga (Jerman: Kionga-Dreieck) adalah wilayah kecil di pesisir timur Afrika yang terletak di antara koloni Afrika Timur Jerman (kini Tanzania) dan Mozambik Portugal (kini Mozambik). Luas wilayah ini tercatat sebesar 1000 km² (400 mi²). Segitiga Kionga merupakan wilayah Jerman dari tahun 1894 hingga 1916, dan setelah itu wilayah ini menjadi jajahan Portugal.

Jerman mendirikan pos di sebelah selatan Sungai Rovuma pada tahun 1894. Walaupun Portugal tidak memiliki pos di situ, terdapat perjanjian sementara yang ditandatangani pada tahun 1886 yang mengatur bahwa Sungai Rovuma akan menjadi batas kedua koloni mereka. Maka dari itu, muncul tuduhan bahwa permukiman Jerman di Segitiga Kionga telah melanggar wilayah Portugal. Permukiman Kionga (kini dieja Quionga) memiliki jumlah penduduk sebesar 4.000 jiwa pada tahun 1910.

Selama Perang Dunia I, Jerman menyatakan perang terhadap Portugal pada tahun 1916. Pemerintah Portugal mengambil kesempatan ini untuk 'mengembalikan' kedaulatan nasional dan segera menduduki wilayah tersebut. Setelah perang berakhir, Traktat Versailles menetapkan perbatasan di sepanjang Sungai Rovuma. Keputusan ini memastikan kepemilikan Portugal atas wilayah ini, sementara Afrika Timur Jerman jatuh ke tangan Britania Raya. Secara de facto, Segitiga Kionga merupakan satu-satunya wilayah yang didapat oleh Portugal berkat keterlibatannya dalam Perang Dunia Pertama. Setelah Portugal mengambilalih wilayah Kionga, Suku Makonde yang tinggal di wilayah tersebut mulai mempelajari bahasa Portugis.

Semenjak kemerdekaan Mozambik pada 25 Juni 1975, Segitiga Kionga atau Quionga menjadi bagian dari Provinsi Cabo Delgado.

Referensi

  • Thomas, H.B., "The Kionga Triangle", Tanganyika Notes and Records Volume 31 1951, pp. 47–50.
Ikon rintisan

Artikel bertopik sejarah ini adalah sebuah rintisan. Anda dapat membantu Wikipedia dengan mengembangkannya.

Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan