Selasa, 03 November 2026
13:00 WIB
TERKINI
Bandar Lampung Senator Bustami Zainudin dan Staf DPD Lampung Ikuti Program Cek Kesehatan Gratis Bandar Lampung Padatnya Agenda Pemprov Lampung 2 November 2026: Dari Apel Hingga Forum Ekonomi Bandar Lampung Imigrasi Lampung Ungkap Modus Kawin Pesanan, Empat WNA China Diamankan di Pesawaran Lampung Barat Pesan Bupati Lambar: Patriotik, Gigih, dan Berempati Kunci Masa Depan Bangsa Bandar Lampung 343 Polisi Disiagakan Kawal Aksi Sumpah Pemuda 2026 di Bandar Lampung Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Solar Subsidi Terbongkar di Lampung Selatan, Tiga Tersangka Diamankan Bandar Lampung Perpanjangan SIM A/C Kini Lebih Praktis: Cek Jadwal dan Syarat di Bandar Lampung Lampung Selatan Gunung Anak Krakatau: Asap Hitam Viral Bukan Erupsi, Status Tetap Siaga Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Rokok Ilegal Senilai Rp14,85 Miliar Terbongkar di Bakauheni Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare Bandar Lampung Senator Bustami Zainudin dan Staf DPD Lampung Ikuti Program Cek Kesehatan Gratis Bandar Lampung Padatnya Agenda Pemprov Lampung 2 November 2026: Dari Apel Hingga Forum Ekonomi Bandar Lampung Imigrasi Lampung Ungkap Modus Kawin Pesanan, Empat WNA China Diamankan di Pesawaran Lampung Barat Pesan Bupati Lambar: Patriotik, Gigih, dan Berempati Kunci Masa Depan Bangsa Bandar Lampung 343 Polisi Disiagakan Kawal Aksi Sumpah Pemuda 2026 di Bandar Lampung Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Solar Subsidi Terbongkar di Lampung Selatan, Tiga Tersangka Diamankan Bandar Lampung Perpanjangan SIM A/C Kini Lebih Praktis: Cek Jadwal dan Syarat di Bandar Lampung Lampung Selatan Gunung Anak Krakatau: Asap Hitam Viral Bukan Erupsi, Status Tetap Siaga Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Rokok Ilegal Senilai Rp14,85 Miliar Terbongkar di Bakauheni Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare
Satelit geostasioner

Satelit geostasioner

Bagikan:
330px-Satelit_leo.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Jalur lintas satelit Geostasioner ditandai dengan GEO.

Satelit geostasioner atau disebut juga satelit geosinkron adalah satelit yang mengorbit pada ketinggian 35.900 km di atas bumi.[1] Satelit jenis ini mengelilingi bumi dengan frekuensi satu kali putaran per hari (24 jam).[1] Artinya satelit ini berada dalam posisi tetap di titik Ia beroperasi mengikuti perputaran bumi.[1] Satelit geostasioner digunakan untuk keperluan telekomunikasi, prakiraan cuaca, televisi satelit, radio satelit dan segala hal yang berhubungan dengan komunikasi global.[1]

Metode pengukuran satelit geostasioner adalah aktual (real time), yang artinya satelit ini mampu secara langsung mengirim gambar ke perangkat penerima sesaat setelah pengambilan gambar dengan kamera.[2] Karena kemampuannya ini, satelit jenis ini dimanfaatkan para ahli prakiraan cuaca untuk memantau keadaan awan cuaca, badai, topan dan arah angin.[2]

Karena garis putarnya yang terletak paling tinggi dari jenis satelit lainnya, satelit geostasioner terkadang mengalami sun outages. Sun outages adalah sebuah musim pergerakan matahari yang melewati ekuator pada bulan Maret dan September.[3] Ketika hal ini terjadi, matahari akan menyebarkan suhu panas yang berlebihan sehingga mengganggu kinerja satelit geostasioner.[3] Dan apabila ini terjadi, satelit akan memberikan sinyal suara gaduh (noise) ke perangkat penerima sinyal satelit tersebut.[3]

Lihat pula

Rujukan

  1. 1 2 3 4 (Inggris) BBC: GCSE BiteSize. "Satellites Gravity Circular Motion".{{cite journal}}: Kutipan journal memerlukan |journal=
  2. 1 2 (Inggris) Weather Online. "Geostationary Satellites".{{cite journal}}: Kutipan journal memerlukan |journal=
  3. 1 2 3 (Inggris) Reformation. "Geostationary Satellites". Diarsipkan dari asli tanggal 2015-09-24. Diakses tanggal 2015-01-25.{{cite journal}}: Kutipan journal memerlukan |journal=
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan