Senin, 19 Oktober 2026
23:41 WIB
TERKINI
Lampung Tengah Kebakaran Landa TPA Bandarjaya Lampung Tengah, Gas Metan Diduga Pemicu Utama Pesawaran Pesawaran Jadi Pelopor Lampung, Lantik Pengurus Abpednas di 11 Kecamatan Lampung Tengah Asap Tebal TPA Bandar Jaya Picu Tabrakan Beruntun di Tol Trans-Sumatera, Dua Korban Luka Lampung Prakiraan Cuaca Lampung 19 Oktober 2026: Waspada Hujan Malam Hari Lampung Aktivitas Gunung Anak Krakatau Tetap Siaga, Kegempaan Terus Terjadi Universitas Teknokrat Indonesia Mahasiswa Universitas Teknokrat Raih Empat Gelar Bergengsi di Kompetisi Bahasa Inggris Nasional Pesisir Barat Pesisir Barat Jalin Kemitraan Strategis, Dorong Akses Pendidikan Tinggi Terjangkau Universitas Teknokrat Indonesia Teknokrat dan PMD Pesawaran Bersinergi Wujudkan Desa Digital Berkelanjutan Humaniora Memperkuat Hak Konstitusional Perempuan Adat untuk Kedaulatan Bangsa Pesawaran Lampung Dorong Rantai Pasok Hijau Kakao, Kopi, Lada ke Pasar Global Lampung Tengah Kebakaran Landa TPA Bandarjaya Lampung Tengah, Gas Metan Diduga Pemicu Utama Pesawaran Pesawaran Jadi Pelopor Lampung, Lantik Pengurus Abpednas di 11 Kecamatan Lampung Tengah Asap Tebal TPA Bandar Jaya Picu Tabrakan Beruntun di Tol Trans-Sumatera, Dua Korban Luka Lampung Prakiraan Cuaca Lampung 19 Oktober 2026: Waspada Hujan Malam Hari Lampung Aktivitas Gunung Anak Krakatau Tetap Siaga, Kegempaan Terus Terjadi Universitas Teknokrat Indonesia Mahasiswa Universitas Teknokrat Raih Empat Gelar Bergengsi di Kompetisi Bahasa Inggris Nasional Pesisir Barat Pesisir Barat Jalin Kemitraan Strategis, Dorong Akses Pendidikan Tinggi Terjangkau Universitas Teknokrat Indonesia Teknokrat dan PMD Pesawaran Bersinergi Wujudkan Desa Digital Berkelanjutan Humaniora Memperkuat Hak Konstitusional Perempuan Adat untuk Kedaulatan Bangsa Pesawaran Lampung Dorong Rantai Pasok Hijau Kakao, Kopi, Lada ke Pasar Global
Sakae Tsuboi

Sakae Tsuboi

Bagikan:
250px-Tsuboi_Sakae_and_Shigeji.JPG?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Sakae Tsuboi dan Shigeji Tsuboi.

Sakae Tsuboi (5 Agustus 1899 – 23 Juni 1967) adalah salah seorang penulis novel dan puisi yang berasal dari Pulau Shōdo (dekat Laut Seto), Distrik Shōzu, Prefektur Kagawa, Jepang.[1] Setelah lulus sekolah dasar, dia bekerja sebagai juru tulis di kantor pos dan kantor desa di pulau itu selama + 10 tahun. Pada 1925, dia pindah ke Tokyo dan menikah dengan Shigeji Tsuboi yang bekerja sebagai penyair.[2] Di Tokyo itu pulalah dia bertemu dengan para novelis perempuan, seperti Yuriko Miyamoto dan Ineko Sata, yang mendorongnya untuk mulai menulis karya fiksi.[3][4]

Karya

250px-Niju-shi_no_Hitomi_poster.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Novel Dua Belas Pasang Mata diangkat ke layar lebar pada tahun 1954. Film ini disutradarai oleh Keisuke Kinoshita.

Sejak masa perang, Sakae telah menghasilkan sejumlah novel. Selain itu, dia juga dikenal piawai dalam menuliskan kisah-kisah yang tokoh utamanya anak-anak. Dari berbagai karyanya itulah dirinya telah memenangkan berbagai penghargaan sastra. Salah satu novelnya berjudul Nijushi no Hitomi atau "Dua Belas Pasang Mata" diterbitkan pada tahun 1952 dan menjadi bestseller. Tak lama kemudian, novel ini diangkat ke layar lebar oleh sutradara Keisuke Kinoshita.[2]

Dua Belas Pasang Mata adalah novel anti perang, tetapi para pembaca karya ini tidak diberikan penjelasan lengkap mengenai pasifisme atau pandangan cinta damai dari Sakae. Topik-topik seperti penyebab perang, pencegahan perang, dan pembenaran perang nyaris tidak disinggung di dalam novel tersebut. Sakae hanya sekadar menunjukkan kekejaman serta ketidakmanusiawian perang modern melalui kedua belas anak yang polos dalam karyanya itu.[3] Pandangan cinta damai Sakae mungkin agak terlalu naif dan hanya didasarkan pada kebencian peperangan serta kecintaan pada umat manusia, tetapi justru karena itulah dia berhasil menjadikan novel tersebut sebagai karya yang menyentuh hati para pembacanya.[3][5]

Lihat pula

Rujukan

  1. ↑ Barrett, Warrick L. (tanpa tanggal). "Sakae Iwai Tsuboi". Find a Grave. Diakses tanggal 5 November 2019.{{cite web}}: Periksa nilai tanggal dalam: |date=
  2. 1 2 Miller (2009), hlm. 132-133
  3. 1 2 3 Tsuboi (2016), hlm. 5-6
  4. ↑ Kittaka, Louise George (11 Maret 2017). "Twenty-Four Eyes: A Quiet Commentary on the Inhumanity of War". The Japan Times. Diakses tanggal 5 November 2019.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  5. ↑ Aryastini, dkk (2017), hlm. 103-109

Daftar pustaka

Buku

Jurnal ilmiah

Pranala luar

Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan