Senin, 26 Oktober 2026
13:04 WIB
TERKINI
Bandar Lampung Krisis Asap dan Ribuan Titik Panas: WALHI Desak Audit Ekologis TNWK Bandar Lampung Polda Lampung Luncurkan Operasi Patuh Krakatau 2026: 702 Personel Siap Tingkatkan Disiplin Lalu Lintas Bandar Lampung Pembakaran Sampah Diduga Picu Kebakaran Lahan di Panjang Bandar Lampung Bandar Lampung Waspada Hujan Ringan: Prakiraan Cuaca Lampung Sepanjang 24 Oktober 2026 Bandar Lampung Penundaan Pembahasan APBD Lampung 2027: Berkas dan Data Terkini Jadi Kunci Bandar Lampung Fokus Pendidikan dan Ekonomi Desa, Lampung Matangkan APBD 2027 Bandar Lampung Polisi Hadir di Jalanan: Ratusan Makan Siang Gratis Eratkan Hubungan Warga Bandar Lampung Bandar Lampung Ancaman Serius TNBBS: 23 Kasus Pidana Kehutanan Terungkap dalam Satu Dekade Bandar Lampung Penipuan Rekrutmen Honorer Rp20 Juta di Bandar Lampung Berakhir Damai Bandar Lampung Transformasi 40 Tahun FISIP Unila: Dari Prestasi Global hingga Riset Solutif Lampung Bandar Lampung Krisis Asap dan Ribuan Titik Panas: WALHI Desak Audit Ekologis TNWK Bandar Lampung Polda Lampung Luncurkan Operasi Patuh Krakatau 2026: 702 Personel Siap Tingkatkan Disiplin Lalu Lintas Bandar Lampung Pembakaran Sampah Diduga Picu Kebakaran Lahan di Panjang Bandar Lampung Bandar Lampung Waspada Hujan Ringan: Prakiraan Cuaca Lampung Sepanjang 24 Oktober 2026 Bandar Lampung Penundaan Pembahasan APBD Lampung 2027: Berkas dan Data Terkini Jadi Kunci Bandar Lampung Fokus Pendidikan dan Ekonomi Desa, Lampung Matangkan APBD 2027 Bandar Lampung Polisi Hadir di Jalanan: Ratusan Makan Siang Gratis Eratkan Hubungan Warga Bandar Lampung Bandar Lampung Ancaman Serius TNBBS: 23 Kasus Pidana Kehutanan Terungkap dalam Satu Dekade Bandar Lampung Penipuan Rekrutmen Honorer Rp20 Juta di Bandar Lampung Berakhir Damai Bandar Lampung Transformasi 40 Tahun FISIP Unila: Dari Prestasi Global hingga Riset Solutif Lampung
Putra Mahkota Sado dari Joseon

Putra Mahkota Sado dari Joseon

Bagikan:
Putra Mahkota Sado dari Joseon
250px-%EC%82%AC%EB%8F%84%EC%84%B8%EC%9E%90.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Nama Korea
Hangul
장조
Hanja
莊祖
Alih AksaraJangjo
McCune–ReischauerChangjo
Nama anumerta
Hangul
사도 세자
Hanja
思悼 世子
Alih AksaraSado Seja
McCune–ReischauerSado Seja

Putra Mahkota Sado (13 Februari 1735 – 12 Juli 1762) adalah putra kedua dari Raja Yeongjo dari Dinasti Joseon (1694 – 1776). Kelahirannya merupakan kegembiraan bagi Dinasti Joseon Karena kematian kakandanya Pangeran Hyojang (1728), yang menyebabkan krisis penerus takhta. Sehingga saat baru lahir pangeran langsung diangkat sebagai Putra Mahkota. Namun Pangeran Sado tidak diberi kesempatan untuk memerintah. Pada usia 27, ia dieksekusi atas perintah ayahandanya, dan meninggal karena kelaparan saat dikurung di sebuah peti penyimpanan beras.[1]

Eksekusi

Sejarah menunjukkan Sado menderita penyakit mental; difitnah membunuh para kasim di istana dan menjadi pemerkosa berantai, dan sering mengunjungi gibang dan bersenang-bersenang dengan para gisaeng. Dengan aturan istana Raja Yeongjo tidak bisa membunuh anaknya dengan tangannya sendiri. Akibatnya, Yeongjo, dengan persetujuan dari ibunda Sado, Nyonya Yi, mengumumkan dekret kerajaan yang memerintahkan Sado untuk masuk ke dalam sebuah kotak penyimpanan beras yang terbuat dari kayu kokoh yang kemudian dikunci pada hari terpanas di bulan Juli pada tahun 1762. Setelah delapan hari terkurung, Sado meninggal.[2]

Teori konspirasi

Pada abad ke-19, terdapat rumor bahwa Pangeran Sado sesungguhnya tidak pernah menderita sakit mental; Namun rumor ini dibantah oleh istrinya, Nyonya Hyegyeong, dalam The Memoirs of Lady Hyegyeong. Kematian Sado tetap menjadi masalah yang selalu diperdebatkan apakah kematiannya adalah hukuman karena kesalahan yang sebenarnya atau ia hanyalah seorang korban dari sebuah konspirasi lawan-lawan politiknya.

Pemakaman

Putra Mahkota Sado kemudian dimakamkan di Gunung BaebongSan di Yangju. Pada tahun 1789, jenazahnya dipindahkan oleh putranya, Raja Jeongjo, ke lokasi saat ini, yang kemudian disebut sebagai Hyeollyungwon di dekat Suwon, 30 kilometer selatan kota Seoul. Lima tahun kemudian, Benteng Hwaseong Suwon dibangun oleh Jeongjo, khususnya untuk mengenang dan menghormati ayahandanya (konstruksi berlangsung dari tahun 1794-1796, sementara pembukaan resmi pada tahun 1795). Pada tahun 1816, Nyonya Hyegyeong meninggal dan kemudian dimakamkan bersama dengan suaminya.

Pada tahun 1899, Pangeran Sado dan Nyonya Hyegyeong secara anumerta statusnya dinaikkan dan diberikan gelar Raja Jangjo dan Permaisuri Heonyeong. Makam mereka diperbaharui karenanya dan berganti nama menjadi Yunggeolleung.

Referensi

  1. ↑ The Memoirs of Lady Hyegyeong, translated Haboush Jahyun Kim, p. 321
  2. ↑ The Memoirs of Lady Hyegyeong (한중록, 閑中錄)

Pranala luar

Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan