Senin, 19 Oktober 2026
09:18 WIB
TERKINI
Universitas Teknokrat Indonesia Mahasiswa Universitas Teknokrat Raih Empat Gelar Bergengsi di Kompetisi Bahasa Inggris Nasional Pesisir Barat Pesisir Barat Jalin Kemitraan Strategis, Dorong Akses Pendidikan Tinggi Terjangkau Universitas Teknokrat Indonesia Teknokrat dan PMD Pesawaran Bersinergi Wujudkan Desa Digital Berkelanjutan Humaniora Memperkuat Hak Konstitusional Perempuan Adat untuk Kedaulatan Bangsa Pesawaran Lampung Dorong Rantai Pasok Hijau Kakao, Kopi, Lada ke Pasar Global Pesawaran Pengalihan Status Guru PPPK ke Penuh Waktu: DPRD Pesawaran Soroti Isu Penempatan Lampung Timur Gotong Royong Fantastis: Warga Bandar Agung Himpun Rp15 Miliar untuk Jalan Desa Bandar Lampung JNE Lampung Sukses Ubah Komplain Milea Cutting Jadi Kemitraan Strategis Bandar Lampung Jadwal Padat Pemprov Lampung 16 Oktober 2026: Pisah Sambut Kapolda dan Rapat Strategis Bandar Lampung Lampung Waspada: BMKG Deteksi 212 Titik Panas di Sepuluh Kabupaten Universitas Teknokrat Indonesia Mahasiswa Universitas Teknokrat Raih Empat Gelar Bergengsi di Kompetisi Bahasa Inggris Nasional Pesisir Barat Pesisir Barat Jalin Kemitraan Strategis, Dorong Akses Pendidikan Tinggi Terjangkau Universitas Teknokrat Indonesia Teknokrat dan PMD Pesawaran Bersinergi Wujudkan Desa Digital Berkelanjutan Humaniora Memperkuat Hak Konstitusional Perempuan Adat untuk Kedaulatan Bangsa Pesawaran Lampung Dorong Rantai Pasok Hijau Kakao, Kopi, Lada ke Pasar Global Pesawaran Pengalihan Status Guru PPPK ke Penuh Waktu: DPRD Pesawaran Soroti Isu Penempatan Lampung Timur Gotong Royong Fantastis: Warga Bandar Agung Himpun Rp15 Miliar untuk Jalan Desa Bandar Lampung JNE Lampung Sukses Ubah Komplain Milea Cutting Jadi Kemitraan Strategis Bandar Lampung Jadwal Padat Pemprov Lampung 16 Oktober 2026: Pisah Sambut Kapolda dan Rapat Strategis Bandar Lampung Lampung Waspada: BMKG Deteksi 212 Titik Panas di Sepuluh Kabupaten
Revolusi Copernicus

Revolusi Copernicus

Bagikan:
500px-Apparent_retrograde_motion.gif?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Gerak Matahari (kuning), Bumi (biru), dan Mars (merah). Di bagian kiri, gerak heliosentris menurut Copernicus. Di bagian kanan, gerak geosentris tradisional.

Revolusi Copernicus adalah perubahan paradigma dari anggapan bahwa Bumi merupakan pusat alam semesta menjadi model heliosentris yang menyatakan bahwa Matahari adalah pusat Tata Surya. Pada 1593, Revolusi Copernicus dimulai.[1] Revolusi tersebut terdiri dari dua fase; yang pertama lebih kepada matematika dan fase kedua bermula pada 1610 dengan publikasi sebuah pamflet oleh Galileo.[2] Bermula dengan penerbitan De revolutionibus orbium coelestium karya Nicolaus Copernicus, kontribusi-kontribusi terhadap “revolusi” tersebut berlanjut sampai akhirnya berakhir dengan karya Isaac Newton pada seabad berikutnya.

Catatan

Referensi

  1. ↑ author., Crowe, Michael J. (2013). Theories of the World from Antiquity to the Copernican Revolution. Dover Publications. ISBN 978-0-486-31559-1. OCLC 968104749.{{cite book}}: |last= memiliki nama generikPemeliharaan CS1: Banyak nama: daftar penulis (link)
  2. ↑ Gillies, Donald (2019-04-10), Why did the Copernican revolution take place in Europe rather than China?, diakses tanggal 2019-12-03

Karya kutipan

Pranala luar

Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan