
Rembesan (bahasa Inggris: seep atau flush)[1] adalah tempat yang lembap atau basah saat air, biasanya air tanah, mencapai permukaan Bumi dari akuifer bawah tanah.
Deskripsi
Rembesan biasanya tidak memiliki volume yang cukup untuk mengalir melampaui lokasi langsungnya di atas tanah. Rembesan merupakan bagian dari sistem limnologi-geomorfologi. Seperti mata air yang bervolume lebih besar, airnya hanya berasal dari sumber bawah tanah. Rembesan sebagian besar terjadi di daerah berelevasi lebih rendah karena air mengalir ke bawah, tetapi dapat terjadi di tempat yang lebih tinggi jika air tanah yang ada cukup melimpah. Selain rembesan alami, rembesan buatan manusia dapat terjadi dengan menggali di tempat mana pun yang terdapat tanah basah. Metode ini dapat berguna untuk tujuan kelangsungan hidup dan membantu satwa liar setempat dengan menambah sumber air lain di area tersebut.[butuh rujukan]
Rembesan sering kali membentuk kubangan, serta penting bagi habitat dan kebutuhan kelembapan satwa liar kecil, burung, dan kupu-kupu. Saat mendukung perilaku menyerap lumpur (mud-puddling), banyak spesies kupu-kupu (Lepidoptera), termasuk beberapa jenis yang merupakan spesies terancam endemik, dapat memperoleh nutrisi seperti garam dan asam amino.[butuh rujukan]
Teknologi lingkungan
Istilah rembesan sering digunakan dalam ilmu lingkungan untuk mendefinisikan zona eksfiltrasi (zona perembesan) tempat air yang terkontaminasi, misalnya dari tempat pembuangan sampah, keluar dari area sistem limbah.
Rembesan sering kali menjadi sumber air penting bagi satwa liar yang lebih kecil, serta ditandai oleh vegetasi riparian yang lebih rendah.
Sistem pengisian ulang aliran sungai
Rembesan juga dapat berkontribusi pada aliran sungai. Jika suatu aliran sungai mengalir di bawah muka air tanah, sungai tersebut menerima pasokan dari air tanah melalui perembesan. Hal ini memungkinkan drainase air tanah dan aliran sungai yang lebih substansial. Rembesan dapat sangat efektif selama periode tanpa hujan di wilayah tersebut, yang mana rembesan dapat memperpanjang aliran sungai dengan menambahkan air dari air tanah.
Belik



Belik adalah mata air kecil,[2] yang umumnya berupa mata air rembesan (Ingg. seep) yang muncul ke permukaan. Istilah ini berasal dari bahasa Jawa, belik, yang artinya sumber air.[3]
Belik pada umumnya muncul atau berada di tebing-tebing sungai, atau di lekukan lembah kecil; baik di tengah ladang maupun di celah bongkahan batu-batu cadas. Belik sering muncul di bawah pohon besar yang tumbuh di pangkal lembah. Namun sebaliknya, karena peran pentingnya sebagai sumber air, lingkungan di sekitar belik acap kali dilindungi dan dijaga warga setempat agar selalu hijau berpohon-pohon. Dalam pengertian aslinya, belik juga mencakup lubang-lubang atau cekungan dangkal yang dibuat manusia untuk menampung air di tebing atau di dasar sungai kering.
Hidrologi
Belik atau mata adalah tempat, biasanya kecil saja, di mana air tanah merembes keluar secara perlahan ke permukaan tanah.[4] Secara hidrologis, belik merupakan bagian penting dari siklus hidrologi, sebagai tempat-tempat di mana air tanah pertama kali keluar untuk kemudian mengalir dan bergabung dengan aliran air permukaan, seperti saliran, sungai, sungai besar, hingga ke laut.[5]
Belik dalam budaya Jawa
Karena nilai pentingnya, beberapa belik ada yang dikeramatkan oleh warga setempat. Misalnya dijadikan objek ritual acara adat penduduk setempat seperti untuk memandikan pengantin, memandikan pusaka, dan lain-lain.[6][7][8]
Catatan kaki
- ↑ "Upland spring, flush and fen". The Wildlife Trusts. Diakses tanggal 16 September 2018.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ KBBI Daring: belik. Diakses 02/02/2020
- ↑ Kamus UGM: belik. Diakses 02/02/2020
- ↑ USGS: seep. Diakses 02/02/2020
- ↑ Shaxson, F. & R. Barber. (2003) Ch. 2. Hydrology, soil archithecture and water movement, in "Optimizing Soil Moisture for Plant Production, the significance of soil porosity." FAO Soils Bulletin 79. Rome: Food and Agriculture Organization. ISBN 92-5-104944-0
- ↑ Puspitasari, M.D. (2012). Fungsi kesenian tradisional jaranan Manggolo Yudho dalam upacara adat Nyadran Belik di Desa Sumbergedong Kabupaten Trenggalek. Skripsi Program Studi Pendidikan Seni Tari, Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang. Malang (tidak diterbitkan).
- ↑ Radar Banyumas OL: Festival Ramadan Grebeg Onje – Ritual Ambil Air dari Tujuh Belik Diarsipkan 2020-02-06 di Wayback Machine. Berita Jumat, 19 Mei 2017; diakses 02/02/2020
- ↑ Jawa Pos OL: Sudah Tujuh Generasi Kepala Desa yang Meneruskan Tradisi Monggang. Berita 21 Juli 2019, 16:23:15 WIB; diakses 02/02/2020
- Meinzer, Oscar E., ed. Hydrology. New York: Dover, 1949. Print.
Pranala luar
- Disbud DIY: "Umbul Donga Kali Belik" Kelurahan Terban[pranala nonaktif permanen]. Berita Rabu, 8 Agustus 2018
- Mongabay: Pesan Lingkungan dari Ritual-ritual Adat Yogyakarta. Artikel 4 Agustus 2016