Jumat, 09 Oktober 2026
18:37 WIB
TERKINI
Teknologi Sega Siapkan DLC Penutup dan Final Kejuaraan Dunia Sonic Racing: CrossWorlds Otomotif Bengkel Mini di Rumah: 6 Alat Penting untuk Perbaikan Ringan Kendaraan Teknologi School Party Craft: Rasakan Sensasi Unik Simulasi Kehidupan di Dunia Terbuka Hukum Polemik Dokumen Pencalonan Gibran: KPU Didesak Transparan Pasca Putusan MK Hiburan Syahrini Kembali Guncang Panggung Musik: Rilis Lagu Baru dan Gebrak Pestapora 2026 Regional LPS Periksa Aset Debitur BPR Tripanca Setiadana di Lampung untuk Pemulihan Regional Bandar Lampung Meriahkan Acara Bersholawat, Eratkan Persaudaraan Umat Lampung Pesisir Lampung Waspada Banjir Rob, BMKG Ingatkan Pasang Maksimum 12-15 Oktober Hukum Pujianto Divonis 8 Bulan Penjara: Perdagangan Ajinomoto Palsu Merugikan Konsumen Lampung Lampung Diprediksi Cerah Berawan, Hujan Lokal Sambangi Beberapa Wilayah Teknologi Sega Siapkan DLC Penutup dan Final Kejuaraan Dunia Sonic Racing: CrossWorlds Otomotif Bengkel Mini di Rumah: 6 Alat Penting untuk Perbaikan Ringan Kendaraan Teknologi School Party Craft: Rasakan Sensasi Unik Simulasi Kehidupan di Dunia Terbuka Hukum Polemik Dokumen Pencalonan Gibran: KPU Didesak Transparan Pasca Putusan MK Hiburan Syahrini Kembali Guncang Panggung Musik: Rilis Lagu Baru dan Gebrak Pestapora 2026 Regional LPS Periksa Aset Debitur BPR Tripanca Setiadana di Lampung untuk Pemulihan Regional Bandar Lampung Meriahkan Acara Bersholawat, Eratkan Persaudaraan Umat Lampung Pesisir Lampung Waspada Banjir Rob, BMKG Ingatkan Pasang Maksimum 12-15 Oktober Hukum Pujianto Divonis 8 Bulan Penjara: Perdagangan Ajinomoto Palsu Merugikan Konsumen Lampung Lampung Diprediksi Cerah Berawan, Hujan Lokal Sambangi Beberapa Wilayah

Realisme depresif

hipotesis psikologi bahwa penderita depresi memiliki penilaian realitas yang lebih akurat

Bagikan:

Realisme depresif adalah hipotesis yang dikembangkan oleh Lauren Alloy dan Lyn Yvonne Abramson[1] bahwa individu yang mengalami depresi membuat kesimpulan yang lebih realistis daripada individu yang tidak mengalami depresi. Meskipun individu yang mengalami depresi dianggap memiliki bias kognitif negatif yang menghasilkan pikiran negatif otomatis yang berulang, perilaku maladaptif, dan keyakinan dunia yang disfungsional,[2][3][4] realisme depresif berpendapat bahwa negativitas ini tidak hanya mencerminkan penilaian dunia yang lebih akurat, tetapi juga bahwa penilaian individu yang tidak mengalami depresi memiliki bias positif.[1]

Bukti pendukung

Ketika para partisipan diminta untuk menekan tombol dan menilai kendali yang mereka rasakan atas menyala atau tidaknya sebuah lampu, individu yang mengalami depresi membuat penilaian kendali yang lebih akurat daripada individu yang tidak mengalami depresi.[5] Di antara para partisipan yang diminta untuk menyelesaikan suatu tugas dan menilai kinerja mereka tanpa umpan balik apa pun, individu yang mengalami depresi membuat penilaian diri yang lebih akurat daripada individu yang tidak mengalami depresi.[6][7][8][9] Dalam penelitian ini, para partisipan diminta menyelesaikan serangkaian tugas dan diberikan umpan balik mengenai kinerja mereka setelah setiap tugas. Setelah menyelesaikan semua tugas, mereka diminta menilai sendiri kinerja secara keseluruhan. Hasilnya menunjukkan bahwa individu yang mengalami depresi cenderung memberikan penilaian diri yang lebih akurat daripada individu yang tidak mengalami depresi.[10][11][12][13][14][15] Ketika diminta mengevaluasi kinerja mereka sesaat setelah tugas selesai maupun beberapa waktu kemudian, individu yang mengalami depresi tetap memberikan penilaian yang akurat pada kedua kondisi tersebut.[16]

Dalam sebuah studi otak berbasis fMRI, pasien yang mengalami depresi terbukti lebih akurat dalam atribusi kausal mereka terhadap peristiwa sosial positif dan negatif dibandingkan dengan partisipan yang tidak mengalami depresi, yang menunjukkan adanya bias positif.[17] Perbedaan ini juga tercermin dalam aktivasi diferensial pada jaringan fronto-temporal; terdapat aktivasi yang lebih tinggi untuk atribusi yang tidak mementingkan diri sendiri pada partisipan yang tidak mengalami depresi dan untuk atribusi yang mementingkan diri sendiri pada pasien yang mengalami depresi. Selain itu, terjadi penurunan hubungan antara wilayah sumber korteks prefrontal dorsomedial dan area limbik ketika pasien yang mengalami depresi membuat atribusi yang mementingkan diri sendiri.

Bukti penentang

Ketika diminta untuk menilai kinerja mereka sendiri dan kinerja orang lain, individu yang tidak mengalami depresi menunjukkan bias positif saat menilai diri mereka sendiri, tetapi tidak menunjukkan bias saat menilai orang lain. Sebaliknya, individu yang mengalami depresi tidak menunjukkan bias saat menilai diri mereka sendiri, tetapi menunjukkan bias positif saat menilai orang lain.[18][19][20]

Ketika mengevaluasi pikiran partisipan dalam situasi publik versus privat, pikiran individu yang tidak mengalami depresi cenderung lebih optimis di ranah publik daripada di ranah privat, sedangkan individu yang mengalami depresi menjadi kurang optimis di ranah publik.[21][22][23][24][butuh klarifikasi]

Ketika diminta untuk menilai kinerja mereka segera setelah menyelesaikan tugas dan setelah beberapa saat berlalu, individu yang mengalami depresi lebih akurat ketika menilai diri mereka segera setelah tugas tersebut, tetapi menjadi lebih negatif setelah waktu berlalu. Sementara itu, individu yang tidak mengalami depresi bersikap positif segera setelah tugas dan beberapa saat setelahnya.[10][14]

Meskipun individu yang mengalami depresi membuat penilaian yang akurat tentang ketiadaan kendali dalam situasi yang sebenarnya tidak dapat mereka kendalikan, penilaian ini juga terbawa ke situasi ketika mereka memiliki kendali. Hal ini menunjukkan bahwa perspektif depresi tidak lebih akurat secara keseluruhan.[25]

Sebuah studi menunjukkan bahwa dalam situasi dunia nyata, individu yang mengalami depresi sebenarnya kurang akurat dan terlalu percaya diri dalam prediksi mereka dibandingkan dengan rekan-rekan mereka yang tidak mengalami depresi.[26] Keakuratan atribusi partisipan juga mungkin lebih berkaitan dengan gaya atribusi mereka secara keseluruhan alih-alih keberadaan dan keparahan gejala depresi mereka.[27]

Kritik terhadap bukti pendukung

Beberapa pihak berpendapat bahwa bukti tersebut tidak cukup meyakinkan karena tidak adanya standar untuk realitas, diagnosis yang meragukan, dan hasil yang mungkin tidak berlaku untuk dunia nyata.[28] Karena banyak studi bergantung pada laporan mandiri mengenai gejala depresi dan laporan mandiri diketahui memiliki bias, diagnosis depresi dalam studi-studi ini mungkin tidak valid, sehingga memerlukan penggunaan pengukuran objektif lainnya. Karena oleh sebagian besar studi tersebut menggunakan desain yang tidak selalu mendekati fenomena dunia nyata, validitas eksternal dari hipotesis realisme depresif menjadi tidak jelas.[28] Terdapat juga kekhawatiran bahwa efek realisme depresif hanyalah produk sampingan dari orang yang mengalami depresi berada dalam situasi yang sesuai dengan bias negatif mereka.[5][29][30]

Lihat pula

Referensi

  1. 1 2 Alloy, L.B.; Abramson, L.Y. (1988). Depressive realism: four theoretical perspectives.
  2. ↑ Beck, A.T. (1967). Depression: Clinical, experimental, and theoretical aspects. Vol. 32. Philadelphia: University of Pennsylvania Press.
  3. ↑ Beck, Aaron T., ed. (1979). Cognitive Therapy of Depression (dalam bahasa Inggris). New York: Guilford Press. ISBN 9780898629194.
  4. ↑ Beck, A.T.; Brown, G.; Steer, R.A.; Eidelson, J.I.; Riskind, J.H. (1987). "Differentiating anxiety and depression: a test of the cognitive content-specificity hypothesis". Journal of Abnormal Psychology. 96 (3): 179–183. doi:10.1037/0021-843x.96.3.179. PMID 3680754.
  5. 1 2 Alloy, L.B.; Abramson, L.Y. (1979). "Judgment of contingency in depressed and nondepressed students: Sadder but wiser?". Journal of Experimental Psychology: General. 108 (4): 441–485. doi:10.1037/0096-3445.108.4.441. PMID 528910. S2CID 18002755.
  6. ↑ Alloy, L.B.; Abramson, L.Y.; Kossman, D.A. (1985), "The judgment of predictability in depressed and nondepressed college students", dalam Brush, F.R.; Overmeir, J.B. (ed.), Affect, conditioning, and cognition: Essays on the determinants of behavior, Hillsdale, NJ: Erlbaum, hlm. 229–246
  7. ↑ Alloy, L.B.; Abramson, L.Y.; Viscusi, D. (1981). "Induced mood and the illusion of control". Journal of Personality and Social Psychology. 41 (6): 1129–1140. doi:10.1037/0022-3514.41.6.1129. S2CID 54890341.
  8. ↑ Musson, R.F.; Alloy, L.B. (1989). "Depression, self-consciousness, and judgments of control: A test of the self-focused attention hypothesis". Unpublished.
  9. ↑ Vasquez, C.V. (1987). "Judgment of contingency: Cognitive biases in depressed and nondepressed subjects". Journal of Personality and Social Psychology. 52 (2): 419–431. doi:10.1037/0022-3514.52.2.419. PMID 3559899.
  10. 1 2 DeMonbreun, B.G.; Craighead, W.E. (1977). "Distortion of perception and recall of positive and neutral feedback in depression". Cognitive Therapy and Research. 1 (4): 311–329. doi:10.1007/bf01663996. S2CID 12735350.
  11. ↑ Dennard, D.O.; Hokanson, J.E. (1986). "Performance on two cognitive tasks by dysphoric and nondysphoric students". Cognitive Therapy and Research. 10 (3): 377–386. doi:10.1007/bf01173473. S2CID 40508547.
  12. ↑ Gotlib, I.H. (1983). "Perception and recall of interpersonal feedback: Negative bias in depression". Cognitive Therapy and Research. 7 (5): 399–412. doi:10.1007/bf01187168. S2CID 24017766.
  13. ↑ Lobitz, W.C.; Post, R.D. (1979). "Parameters of self-reinforcement and depression". Journal of Abnormal Psychology. 88 (1): 33–41. doi:10.1037/0021-843x.88.1.33. PMID 422802.
  14. 1 2 Nelson, R.E.; Craighead, W.E. (1977). "Selective recall of positive and negative feedback, self-control behaviors and depression". Journal of Abnormal Psychology. 86 (4): 379–388. doi:10.1037/0021-843x.86.4.379. PMID 903490.
  15. ↑ Rozensky, R.H.; Rehm, L.P.; Pry, G.; Roth, D. (1977). "Depression and self-reinforcement behavior in hospitalized patients". Journal of Behavior Therapy and Experimental Psychiatry. 8: 35–38. doi:10.1016/0005-7916(77)90102-1.
  16. ↑ Wenzlaff, R.M.; Berman, J. S. (Agustus 1985), Judgmental accuracy in depression, The Meeting of the American Psychological Association, Los Angeles{{citation}}: Pemeliharaan CS1: Lokasi tanpa penerbit (link)
  17. ↑ Seidel, Eva-Maria; Satterthwaite, Theodore D.; Eickhoff, Simon B.; Schneider, Frank; Gur, Ruben C.; Wolf, Daniel H.; Habel, Ute; Derntl, Birgit (2012). "Neural correlates of depressive realism — An fMRI study on causal attribution in depression". Journal of Affective Disorders. 138 (3): 268–276. doi:10.1016/j.jad.2012.01.041. PMC 3565123. PMID 22377511.
  18. ↑ Gotlib, I.H.; Meltzer, S.J. (1987). "Depression and the perception of social skill in dyadic interaction". Cognitive Therapy and Research. 11: 41–54. doi:10.1007/bf01183131. S2CID 25349029.
  19. ↑ Javna, C.D. (1981), "Depressed and nondepressed college students' interpretations of and memory for feedback about self and others", Unpublished Doctoral Dissertation, The Ohio State University, Columbus, OH
  20. ↑ Pyszczynski, T.; Holt, K.; Greenberg, J. (1987). "Depression, self-focused attention, and expectancies for positive and negative future life events for self and others". Journal of Personality and Social Psychology. 52 (5): 994–1001. doi:10.1037/0022-3514.52.5.994. PMID 3585706.
  21. ↑ Benassi, V.A. & Mahler, H.I.M. (1985). "Contingency judgments by depressed college students: Sadder but not always wiser". Journal of Personality and Social Psychology. 49 (5): 1323–1329. doi:10.1037/0022-3514.49.5.1323. PMID 4078679.
  22. ↑ Sacco, W.P.; Hokanson, J.E. (1978). "Expectations of success and anagram performance of depressives in a public and private setting". Journal of Abnormal Psychology. 87 (1): 122–130. doi:10.1037/0021-843x.87.1.122. PMID 649845.
  23. ↑ Sacco, W. P. & Hokanson, J. E. (1982). "Depression and self-reinforcement in a public and private setting". Journal of Personality and Social Psychology. 42 (2): 377–385. doi:10.1037/0022-3514.42.2.377. PMID 7057358.
  24. ↑ Strack, S.; Coyne, J.C. (1983). "Social confirmation of dysphoria: Shared and private reactions". Journal of Personality and Social Psychology. 44 (4): 798–806. doi:10.1037/0022-3514.44.4.798. PMID 6842366.
  25. ↑ Dykman, B.M.; Abramson, L.Y.; Alloy, L.B.; Hartlage, S. (1989). "Processing of ambiguous and unambiguous feedback by depressed and nondepressed college students: Schematic biases and their implications for depressive realism". Journal of Personality and Social Psychology. 56 (3): 431–445. doi:10.1037/0022-3514.56.3.431. PMID 2926638.
  26. ↑ Dunning D, Story AL (1991). "Depression, realism, and the overconfidence effect: are the sadder wiser when predicting future actions and events?" (PDF). Journal of Personality and Social Psychology. 61 (4): 521–532. doi:10.1037/0022-3514.61.4.521. PMID 1960645. Diarsipkan dari asli (PDF) tanggal 19 November 2011. Diakses tanggal 2 Januari 2011.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  27. ↑ Michael Thomas Moore; David Fresco (2007). "Depressive realism and attributional style: implications for individuals at risk for depression" (PDF). Behavior Therapy. 38 (2): 144–154. doi:10.1016/j.beth.2006.06.003. PMID 17499081. S2CID 15551427.
  28. 1 2 Michael Thomas Moore; David Fresco (2012). "Depressive Realism: A Meta-Analytic Review". Clinical Psychology Review. 32 (1): 496–509. doi:10.1016/j.cpr.2012.05.004. PMID 22717337.
  29. ↑ Langer, E.J. (1975). "The illusion of control". Journal of Personality and Social Psychology. 32 (2): 311–328. doi:10.1037/0022-3514.32.2.311. S2CID 30043741.
  30. ↑ Msetfi RM, Murphy RA, Simpson J, Kornbrot DE (2005). "Depressive realism and outcome density bias in contingency judgments: the effect of the context and intertrial interval" (PDF). Journal of Experimental Psychology. General. 134 (1): 10–22. doi:10.1037/0096-3445.134.1.10. hdl:10344/2360. PMID 15702960. Diarsipkan dari asli (PDF) tanggal 29 Juni 2011.

Bacaan lanjutan

Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan