Senin, 02 November 2026
03:23 WIB
TERKINI
Lampung Barat Pesan Bupati Lambar: Patriotik, Gigih, dan Berempati Kunci Masa Depan Bangsa Bandar Lampung 343 Polisi Disiagakan Kawal Aksi Sumpah Pemuda 2026 di Bandar Lampung Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Solar Subsidi Terbongkar di Lampung Selatan, Tiga Tersangka Diamankan Bandar Lampung Perpanjangan SIM A/C Kini Lebih Praktis: Cek Jadwal dan Syarat di Bandar Lampung Lampung Selatan Gunung Anak Krakatau: Asap Hitam Viral Bukan Erupsi, Status Tetap Siaga Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Rokok Ilegal Senilai Rp14,85 Miliar Terbongkar di Bakauheni Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare Bandar Lampung BSU 2026 Segera Disalurkan: Rp900 Ribu dan Analisis Pakar Terkait Tantangan Pekerja Bandar Lampung Optimisme Harga Singkong Lampung 2027: Bibit dan Pupuk Kunci Utama Bandar Lampung Krisis Asap dan Ribuan Titik Panas: WALHI Desak Audit Ekologis TNWK Lampung Barat Pesan Bupati Lambar: Patriotik, Gigih, dan Berempati Kunci Masa Depan Bangsa Bandar Lampung 343 Polisi Disiagakan Kawal Aksi Sumpah Pemuda 2026 di Bandar Lampung Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Solar Subsidi Terbongkar di Lampung Selatan, Tiga Tersangka Diamankan Bandar Lampung Perpanjangan SIM A/C Kini Lebih Praktis: Cek Jadwal dan Syarat di Bandar Lampung Lampung Selatan Gunung Anak Krakatau: Asap Hitam Viral Bukan Erupsi, Status Tetap Siaga Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Rokok Ilegal Senilai Rp14,85 Miliar Terbongkar di Bakauheni Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare Bandar Lampung BSU 2026 Segera Disalurkan: Rp900 Ribu dan Analisis Pakar Terkait Tantangan Pekerja Bandar Lampung Optimisme Harga Singkong Lampung 2027: Bibit dan Pupuk Kunci Utama Bandar Lampung Krisis Asap dan Ribuan Titik Panas: WALHI Desak Audit Ekologis TNWK

Puteri Saadong

Bagikan:
Artikel atau bagian ini sedang dalam perubahan besar untuk sementara waktu. Untuk menghindari konflik penyuntingan, dimohon jangan melakukan penyuntingan pada halaman ini selama pesan ini ditampilkan.
Halaman ini terakhir disunting pada 02.35, 25 November 2024 (UTC) (23 bulan lalu) – (hapus singgahan). Pesan ini dapat dihapus jika halaman ini sudah tidak disunting dalam beberapa jam. Jika Anda adalah penyunting yang menambahkan templat ini, harap diingat untuk menghapusnya setelah selesai atau menggantikannya dengan {{Akan dikerjakan}} di antara masa-masa menyunting Anda.

Puteri Saadong (meninggal 1671), adalah perempuan kedua yang menjadi ratu di Kelantan dan memerintah pada tahun 1667–1671. Ia merupakan anak angkat Siti Wan Kembang (Che Siti) Ratu Kelantan. Ia anak dari Raja Jembal, Raja Loyor bin Raja Sakti, dan istri dari Raja Abdullah.

Puteri Saadong memerintah setelah Siti Wan Kembang turun takhta. Setelah memerintah sebagai Ratu selama empat tahun, Ia diculik dan dijadikan selir Raja Siam.[1]

Legenda

Puteri Saadong dibesarkan di Bukit Marak oleh Che Siti, setelah ibunya meninggal. [2][3]

Che Siti menjodohkan dan menikahkan Puteri Saadong dengan sepupunya sendiri, Raja Abdullah bin Sultan Samiruddin, ketika Ia berusia 15 tahun.[2][3]

Ia ditangkap oleh Kerajaan Siam (sekarang Thailand) dan dipaksa menjadi selir Raja Narai untuk menyelamatkan nyawa suaminya. Karena kejadian itu, Raja Abdullah bersumpah untuk menunggu kepulangan Putri Saadong dan tidak akan menikah lagi. Namun setelah bertahun-tahun menunggu, Raja Abdullah berubah fikiran dan mengingkari sumpahnya untuk menikah lagi.[2][3]

Selama tinggal di Kerajaan Siam, Puteri Saadong mendapat perlakuan yang sangat baik. Meskipun demikan Ia masih memcintai suaminya Raja Abdullah. Ia kemudian memohon kepada Raja Narai untuk dipulangkan jika dapat menyembuhkan penyakitnya. Namun setelah kembali, Ia menemukan kenyataan bahwa suaminya Raja Abdullah telah menikah lagi. Pertengkaran pun terjadi, Puteri Saadong yang diliputi kemarahan, membunuh Raja Abdullah dengan tusuk konde.[2][3]

Lalu Tuan Puteri Sa’dung pun hampir dekat serta angkat pedang, dipancung akan Sultan Abdullah itu tiada sempat lagi hendak membalaskan lalu kena leher Sultan Abdullah itu penggal dua. Maka Sultan Abdullah pun matilah.[4]

Setelah kejadian itu, Puteri Saadong meninggalkan Bukit Marak dan ke.mudian menghilang. Makam Raja Abdullah saat ini masih dapat dilihat dan dikunjungi di Padang Halban, Bachok, Kelantan. Kisah Puteri Saadong memperlihatkan bahawa pengorbanan Puteri Saadong tidak dihargai apabila suaminya telah menikah lagi. Beliau juga merasa telah dikhianati apabila Raja Abdullah telah menikah secara diam-diam tanpa sepengetahuannya.[5]

Lalu Tuan Puteri Sa’dung pun bersabda kepada Sultan Abdullah itu, “Ya kakanda kakanda sampainya hati dan sampainya rasa sungguh kakanda membunuh adinda ini dengan tiada suatu kedosaan. Maka sudah paduka kakanda sampai hati membuat adinda maka adinda pun ingatlah juga budi kakanda itu. Jikalau kakanda buat budi, paduka adinda balas budi. Demikian lagi adinda mendengar daripada orang tua-tua, demikianlah katanya: Utang budi dibayarkan budi, utang darah dibayarkan darah, dan utang malu dibayarkan malu, dan utang mati dibayarkan mati.[4]

Versi lain mengatakan bahwa Putri Saadong sebenarnya telah difitnah. Dikisahkan Raja Abdullah berencana untuk mengembalikan posisi Putri Saadong sebagai Ratu Kelantan, dan sangat bahagia atas kepulangannya. Hal ini membuat istri baru Raja Abdullah cemburu kemudian membunuhnya. Ia berteriak dan mengatakan pada khalayak bahwa Putri Saadong yang telah membunuh Raja.[2][3]

Referensi

  1. ↑ Aljunied, Khairudin (30 Agustus 2019). Islam in Malaysia: An Entwined History. hlm. 90. ISBN 9780190925215.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  2. 1 2 3 4 5 Azhar, Syed (2009-08-05), "Residents erasing Bukit Marak history", The Star, diakses tanggal 2010-03-18
  3. 1 2 3 4 5 Azhar, Syed (2009-08-10), "Museum wants Bukit Marak saved", The Star, diarsipkan dari asli tanggal 2012-10-17, diakses tanggal 2011-03-18
  4. 1 2 Mohd. Taib Osman (2004). Hikayat seri Kelantan. Siri warisan sastera klasik (Edisi Cet. 1). Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka. ISBN 978-983-62-7074-0.
  5. ↑ Arman, Amiruddin; Md. Radzi, Shaiful Bahri. "Kes Poligami: Suatu Teladan Berdasarkan Kisah Puteri Saadong dan Raja Abdullah" (PDF). Seminar Antarabangsa Susastera, Bahasa dan Budaya Nusantara.


Flag of MalaysiaBiography icon

Artikel bertopik biografi Malaysia ini adalah sebuah rintisan. Anda dapat membantu Wikipedia dengan mengembangkannya.

Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan