Selasa, 22 September 2026
09:44 WIB
TERKINI
Regional Solo Safari Bantah Larang Hijab, Akui Ada Kesalahan Komunikasi Berita Banjir Bandang Landa Kompleks Pemkab Solok, Peralatan Kantor Hanyut dan Warga Mengungsi Berita Mengungkap Jaringan Video Asusila "A Day in My Life": Dua Pelaku Raup Jutaan Rupiah Berita Nusron Wahid Mundur dari Golkar, Serahkan Detail ke Bahlil Lahadalia Wawancara Tragedi 1965: Oka Rusmini Soroti Perampasan Hak Hidup Perempuan Prelude Dua Mantan Menteri Keuangan: Riwayat Berbeda di Kursi Kasir Negara Politik Kepala BGN Gencar Beriklan di Medsos, Benahi Citra Program Makan Bergizi Gratis Bisnis Jerat Pungli Ancam UMKM Indonesia: Kisah Bolosego dan Solusi Mendesak Hukum & Kriminal Empat Eks Pejabat LPEI Divonis 6 Tahun Penjara dalam Skandal Korupsi Pembiayaan Ekspor Hukum & Kriminal Mantan Bupati Sidoarjo Gus Muhdlor Bebas Bersyarat Usai Dua Tahun Dipenjara Regional Solo Safari Bantah Larang Hijab, Akui Ada Kesalahan Komunikasi Berita Banjir Bandang Landa Kompleks Pemkab Solok, Peralatan Kantor Hanyut dan Warga Mengungsi Berita Mengungkap Jaringan Video Asusila "A Day in My Life": Dua Pelaku Raup Jutaan Rupiah Berita Nusron Wahid Mundur dari Golkar, Serahkan Detail ke Bahlil Lahadalia Wawancara Tragedi 1965: Oka Rusmini Soroti Perampasan Hak Hidup Perempuan Prelude Dua Mantan Menteri Keuangan: Riwayat Berbeda di Kursi Kasir Negara Politik Kepala BGN Gencar Beriklan di Medsos, Benahi Citra Program Makan Bergizi Gratis Bisnis Jerat Pungli Ancam UMKM Indonesia: Kisah Bolosego dan Solusi Mendesak Hukum & Kriminal Empat Eks Pejabat LPEI Divonis 6 Tahun Penjara dalam Skandal Korupsi Pembiayaan Ekspor Hukum & Kriminal Mantan Bupati Sidoarjo Gus Muhdlor Bebas Bersyarat Usai Dua Tahun Dipenjara
Pucuk

Pucuk

Pucuk
250px-Saussurea_%C2%BF_costus_%3F_%287839595576%29.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
CITES Apendiks I (CITES)[1]
Klasifikasi ilmiah Sunting klasifikasi ini
Kerajaan: Plantae
Klad: Tracheophyta
Klad: Angiospermae
Klad: Eudikotil
Klad: Asteridae
Ordo: Asterales
Famili: Asteraceae
Genus: Dolomiaea
Spesies:
D. costus
Nama binomial
Dolomiaea costus
Sinonim[2]
  • Aplotaxis lappa Decne.
  • Aucklandia costus Falc.
  • Aucklandia lappa (Decne.) Decne.
  • Saussurea costus (Falc.) Lipsch.
  • Saussurea lappa (Decne.) Sch.Bip.
  • Theodorea costus (Falc.) Kuntze

Dolomiaea costus (sebelumnya bernama Saussurea costus) atau pucuk adalah spesies tumbuhan dalam genus Saussurea yang berasal dari India. Minyak atsiri yang diekstraksi dari akarnya telah lama dimanfaakan dalam pengobatan tradisional dan wewangian sejak dahulu kala.[3][4] Genus Saussurea tergolong ke dalam famili Asteraceae yang terdiri dari sekitar 300 spesies di dunia di mana 61 spesiesnya ditemukan di India.[5] Aucklandia, yang juga dikenal sebagai costus atau mu xiang, adalah akar dari tumbuhan Saussurea costus. Akar tumbuhan ini adalah bagian inti dari pengobatan dengan khasiat hemoepati.[6]

Tumbuhan ini punya sejumlah nama lokal dalam bahas lain, termasuk kustha (Sanskrit), kust atau qust (Arab dan Persia), kut, kur, dan pachak (Hindi dan Bengali), kostum, gostham, dan pocuk (Tamil), upaleta dan kur (Gujarat), kot atau kust (Punjabi), changala (Telugu), sepuddy (Malayalam), kostha (Kannada), kuth atau postkhai (Kashmir), dan kosht (Hebrew).[7][8]

Budidaya

Tanaman dibudidayakan sebagai tanaman obat. Penanamannya sebagian besar di India, tepatnya di Himachal Pradesh, Jammu-Kashmir, tempat asalnya. Kajian oleh Parmaret et al. (2012) menemukan pengaruh ketinggian terhadap persentase daya tumbuh dan perkecambahan biji. Ini alasan mengapa tumbuh subur di Wilayah Himalaya yang bergunung-gunung. Budidaya difokuskan pada akar tanaman. Akarnya diekspor ke Cina dan Jepang, dan merupakan komoditas perdagangan di Kashmir. Bagaimanapun juga, jenis perdagangan ini saat ini diatur oleh negara dikarenakan sudah sangat tereksploitasi. Tanaman ini dipanen berlebihan dan ditempatkan pada daftar spesies terancam punah CITES (Apendiks I) yang artinya perdagangan antarnegara (untuk ekspor) adalah ilegal.

Habitat

Umum ditemukan pada ketinggian 2.500 m sampai 3.000 m (8.200 sampai 9.800 kaki) di atas permukaan laut di India; termasuk Himalaya, Kashmir, Jammu, Ghats Barat, dan Lembah Kishenganga.[7] Musim berbunganya dari Juli sampai Agustus, dengan biji yang matang dari Agustus hingga September. Tumbuhan ini dapat tumbuh pada berbagai macam tanah, dari berpasir ringan, medium, sampai tanah liat berat yang asam, netral, atau basa, tanah alkalin, meski lebih menyukai tanah yang gembur. Banyaknya cahaya matahari yang dibutuhkan bervariasi dari area semi-naungan atau area tanpa naungan[9].

250px-Saussurea_costus_on_way_from_Gangria_to_Hemkund_at_Valley_of_Flowers_National_Park_-_during_LGFC_-_VOF_2019_%286%29.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Pucuk di perjalanan Gangria menuju Hemkund, Taman Nasional Lembah Berbunga

Keragaan

Pucuk digolongkan dalam tumbuhan tahunan, dengan tinggi sekitar 1–2 m (3.3-6.6 kaki) dengan lebar 1 m (3.3 kaki).[9] Tumbuhan ini punya daun lyrate dan bagian atasnya keunguan. Dasar daunnya berbentuk daun telinga, dengan bergerigi, polanya mirip gigi di bagian bawah daunnya dan rata-rata memiliki panjang 0.50-1.25 m (1.6-4.1 kaki). Akarnya gemuk dan dapat mencapai panjang 40 cm (16 in).[10][11]

Referensi

  1. "Appendices | CITES". cites.org. Diakses tanggal 2022-01-14.
  2. "Dolomiaea costus (Falc.) Kasana & A.K.Pandey". Plants of the World Online. Kew Science. Diakses tanggal 2021-07-24.
  3. Sambamurty, A. V. S. S. (2005). Taxonomy of angiosperms. New Delhi: I.K. International. ISBN 81-88237-16-7. OCLC 841013792.
  4. Lohberger, Birgit; Rinner, Beate; Stuendl, Nicole; Kaltenegger, Heike; Steinecker-Frohnwieser, Bibiane; Bernhart, Eva; Rad, Ehsan Bonyadi; Weinberg, Annelie Martina; Leithner, Andreas (2013-06-14). "Sesquiterpene Lactones Downregulate G2/M Cell Cycle Regulator Proteins and Affect the Invasive Potential of Human Soft Tissue Sarcoma Cells". PLoS ONE. 8 (6). doi:10.1371/journal.pone.0066300. ISSN 1932-6203. PMC 3682952. PMID 23799090.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: DOI bebas tanpa ditandai (link)
  5. Kour, Sumeet; et al. (2015). "Conservation Strategies of Saussurea costus, Critically Endangered Medicinal Herb Growing in Kashmir Himalaya-A Review". International Journal of Science and Research. 4 (7): 257–260.{{cite journal}}: Penggunaan et al. secara eksplisit dalam: |first=
  6. Tish, Davidson (2014). Fundukian, Laurie (ed.). The Gale Encyclopedia of Alternative Medicine. Vol. 1. Gale. hlm. 197–198. ISBN 1410394336.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  7. 1 2 Madhuri, K.; Elango, K.; Ponnusankar, S. (2012-03). "Saussurea lappa (Kuth root): review of its traditional uses, phytochemistry and pharmacology". Oriental Pharmacy and Experimental Medicine (dalam bahasa Inggris). 12 (1): 1–9. doi:10.1007/s13596-011-0043-1. ISSN 1598-2386.{{cite journal}}: Periksa nilai tanggal dalam: |date=
  8. Kuniyal, Chandra P.; Rawat, Yashwant S.; Oinam, Santaram S.; Kuniyal, Jagdish C.; Vishvakarma, Subhash C. R. (2005-05). "Kuth (Saussurea lappa) cultivation in the cold desert environment of the Lahaul valley, northwestern Himalaya, India: arising threats and need to revive socio-economic values". Biodiversity and Conservation (dalam bahasa Inggris). 14 (5): 1035–1045. doi:10.1007/s10531-004-4365-x. ISSN 0960-3115.{{cite journal}}: Periksa nilai tanggal dalam: |date=
  9. 1 2 Lipsch. "Saussurea costus". Plants For A Future. Diakses tanggal 15 Mei 2020.
  10. Upadhyay, C.B.; Ojha, J.K.; Datta, S.K. (1993). "Pharmacognostic study of the root of Saussurea lappa". Sachitra Ayurveda. 8: 608–612.
  11. Hajra, P.K.; Sharma, B.D.; Sanjappa, M.; Sastry, A.R.K. (1996). Flora of India. New Delhi: Botanical Survey of India. hlm. 187.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan