Selasa, 03 November 2026
14:05 WIB
TERKINI
Bandar Lampung Senator Bustami Zainudin dan Staf DPD Lampung Ikuti Program Cek Kesehatan Gratis Bandar Lampung Padatnya Agenda Pemprov Lampung 2 November 2026: Dari Apel Hingga Forum Ekonomi Bandar Lampung Imigrasi Lampung Ungkap Modus Kawin Pesanan, Empat WNA China Diamankan di Pesawaran Lampung Barat Pesan Bupati Lambar: Patriotik, Gigih, dan Berempati Kunci Masa Depan Bangsa Bandar Lampung 343 Polisi Disiagakan Kawal Aksi Sumpah Pemuda 2026 di Bandar Lampung Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Solar Subsidi Terbongkar di Lampung Selatan, Tiga Tersangka Diamankan Bandar Lampung Perpanjangan SIM A/C Kini Lebih Praktis: Cek Jadwal dan Syarat di Bandar Lampung Lampung Selatan Gunung Anak Krakatau: Asap Hitam Viral Bukan Erupsi, Status Tetap Siaga Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Rokok Ilegal Senilai Rp14,85 Miliar Terbongkar di Bakauheni Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare Bandar Lampung Senator Bustami Zainudin dan Staf DPD Lampung Ikuti Program Cek Kesehatan Gratis Bandar Lampung Padatnya Agenda Pemprov Lampung 2 November 2026: Dari Apel Hingga Forum Ekonomi Bandar Lampung Imigrasi Lampung Ungkap Modus Kawin Pesanan, Empat WNA China Diamankan di Pesawaran Lampung Barat Pesan Bupati Lambar: Patriotik, Gigih, dan Berempati Kunci Masa Depan Bangsa Bandar Lampung 343 Polisi Disiagakan Kawal Aksi Sumpah Pemuda 2026 di Bandar Lampung Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Solar Subsidi Terbongkar di Lampung Selatan, Tiga Tersangka Diamankan Bandar Lampung Perpanjangan SIM A/C Kini Lebih Praktis: Cek Jadwal dan Syarat di Bandar Lampung Lampung Selatan Gunung Anak Krakatau: Asap Hitam Viral Bukan Erupsi, Status Tetap Siaga Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Rokok Ilegal Senilai Rp14,85 Miliar Terbongkar di Bakauheni Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare
Ibis karau

Ibis karau

spesies burung

Bagikan:
Ibis karau
250px-White-shouldered_ibis_in_Cambodia_July_2022%2C_crop.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Dewasa yang sedang terbang di atas sawah dan hutan di Kamboja timur
Klasifikasi ilmiah Sunting klasifikasi ini
Kerajaan: Animalia
Filum: Chordata
Kelas: Aves
Ordo: Pelecaniformes
Famili: Threskiornithidae
Genus: Pseudibis
Spesies:
P. davisoni
Nama binomial
Pseudibis davisoni
(Hume, 1875)
250px-Pseudibis_davisoni_distribution.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
      Sebaran spesies
Sinonim
  • Pseudibis papillosa davisoni

Ibis karau (Pseudibis davisoni) merupakan salah satu jenis burung air yang termasuk ke dalam anggota famili Threskiornithidae.[2] Spesies ini berasal dari Asia Tenggara, dan dianggap sebagai salah satu jenis burung paling terancam di sana.[3]

Morfologi

Ibis Karau memiliki beberapa ciri seperti paruh yang panjang dan cenderung melengkung ke bawah. Postur tubuhnya berbentuk lonjong dengan sayap yang lebar serta leher yang panjang, tetapi biasanya terlihat pendek karena bentuknya menekuk.[2]

Bulu pada spesies ini cenderung berwarna gelap yaitu berwarna coklat kehitaman serta memiliki bercak putih pada bagian bahu dan tengkuk yang berwarna putih kebiruan.[2]

Distribusi dan habitat

Biasanya menempati area tertentu yang ideal dan dominan dengan air atau lumpur untuk mencari makan seperti tempat yang memiliki lumpur di tepi sungai atau area sungai yang mengering sehingga timbul batu kerikil dan tepi sungai yang memiliki pasir.[2]

Spesies ini ditemukan hidup di Asia Tenggara seperti Myanmar, China, Pakistan, Hong Kong, Bangladesh, India, Nepal, Vietnam, Laos, Thailand, Sri Lanka, Taiwan, dan Indonesia.[4] Di Indonesia, spesies ini menempati sepanjang area Sungai Mahakam, Kalimantan Timur, yang terletak antara Kecamatan Long Iram hingga Long Bagun.[2]

Perilaku

Pada musim kemarau, Ibis Karau mencari makan di berbagai kawasan yang memiliki lahan basah secara intens karena di musim ini spesies tersebut memasuki fase reproduksi dan aktif berkembang biak sehingga memerlukan banyak makanan. Mereka mulai bersarang ketika memasuki pertengahan hingga akhir musim kemarau dengan cara menyendiri di bagian atas pohon.[5]

Di musim hujan, spesies ini lebih banyak terlihat di daratan yang memiliki kolam kecil atau tanah yang basah dan berlumpur untuk mencari makan.[5]

Ibis Karau memiliki beberapa cara untuk mencari makan seperti probing yaitu memasukkan paruh ke dalam area lumpur, tanah yang basah, atau air dan menggerakkannya untuk mencari mangsa yang bersembunyi; pecking yaitu mematukkan paruhnya pada mangsa dengan cepat yang berada di permukaan air atau air; flipping yaitu membalikkan benda-benda kecil seperti batu menggunakan paruhnya untuk mencari mangsa yang bersembunyi; groping yaitu cara mencari mangsa dengan meraba air atau lumpur menggunakan paruhnya yang dimasukkan ke dalam air atau lumpur dengan sedikit terbuka.[2]

Referensi

  1. ↑ BirdLife International (2018). "Pseudibis davisoni". IUCN Red List of Threatened Species (dalam bahasa Inggris). 2018 e.T22697531A134189710. doi:10.2305/IUCN.UK.2018-2.RLTS.T22697531A134189710.en. Diakses tanggal 19 November 2021.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  2. 1 2 3 4 5 6 Imanudin; Sutrisno, Edy (2024-07-26). "Penyebaran, Populasi dan Perilaku Makan Ibis Karau (Pseudibis davisoni) di Sungai Mahakam, Kalimantan Timur". Media Konservasi. 8 (1): 19–22. doi:10.29244/medkon.8.1.19-22. ISSN 2502-6313.
  3. ↑ BirdLife International. 2017 Species factsheet: Pseudibis davisoni. Downloaded from http://www.birdlife.org on 31/03/2017.
  4. ↑ IUCN (2018-08-17). "Pseudibis davisoni: BirdLife International: The IUCN Red List of Threatened Species 2018: e.T22697531A134189710" (dalam bahasa Inggris). doi:10.2305/iucn.uk.2018-2.rlts.t22697531a134189710.en.{{cite journal}}: Kutipan journal memerlukan |journal=
  5. 1 2 Wright, Hugh L.; Wright, Hugh L.; Collar, Nigel J.; Lake, Iain Richard; Vorsak, Bou; Dolman, Paul M. (2012). "Foraging ecology of sympatric white-shouldered ibis Pseudibis davisoni and giant ibis Thaumatibis gigantea in northern Cambodia". Forktail. 28: 93––100.
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan