Senin, 09 November 2026
00:56 WIB
TERKINI
Bandar Lampung Agenda Strategis Pemprov Lampung 6 November 2026: Revitalisasi Stadion Jadi Prioritas Bandar Lampung Harga Beras di Pasar Pasir Gintung Bandar Lampung Merangkak Naik, Stok Aman Bandar Lampung Disdag Bandar Lampung Jamin Pasokan Beras Aman hingga Akhir 2026 Insight Komitmen Pembangunan Negeri, PTBA Sabet Penghargaan Kepatuhan PNBP ESDM 2026 Pemprov Lampung Gubernur Mirza Canangkan Mulang Maya Jadi Magnet Wisata Budaya Unggulan Lampung Tuba Barat Mewujudkan Haji: Pemkab Tubaba dan BSI Ajak Masyarakat Menabung Sejak Dini Lampung Timur Bupati Ela Dekatkan Diri dengan Siswa, Pastikan Kualitas Pendidikan dan Gizi di Lampung Timur Tuba Barat Kemitraan Strategis Pemkab Tubaba dan Kejari: Wujudkan Tata Kelola Pemerintahan Akuntabel Bandar Lampung Mantan Ketua DPRD Lampung Bersaksi dalam Sidang Arinal Djunaidi Bandar Lampung Senator Bustami Zainudin dan Staf DPD Lampung Ikuti Program Cek Kesehatan Gratis Bandar Lampung Agenda Strategis Pemprov Lampung 6 November 2026: Revitalisasi Stadion Jadi Prioritas Bandar Lampung Harga Beras di Pasar Pasir Gintung Bandar Lampung Merangkak Naik, Stok Aman Bandar Lampung Disdag Bandar Lampung Jamin Pasokan Beras Aman hingga Akhir 2026 Insight Komitmen Pembangunan Negeri, PTBA Sabet Penghargaan Kepatuhan PNBP ESDM 2026 Pemprov Lampung Gubernur Mirza Canangkan Mulang Maya Jadi Magnet Wisata Budaya Unggulan Lampung Tuba Barat Mewujudkan Haji: Pemkab Tubaba dan BSI Ajak Masyarakat Menabung Sejak Dini Lampung Timur Bupati Ela Dekatkan Diri dengan Siswa, Pastikan Kualitas Pendidikan dan Gizi di Lampung Timur Tuba Barat Kemitraan Strategis Pemkab Tubaba dan Kejari: Wujudkan Tata Kelola Pemerintahan Akuntabel Bandar Lampung Mantan Ketua DPRD Lampung Bersaksi dalam Sidang Arinal Djunaidi Bandar Lampung Senator Bustami Zainudin dan Staf DPD Lampung Ikuti Program Cek Kesehatan Gratis

Pramastikasi

Bagikan:

Pramastikasi, pra-pengunyahan, atau pemberian makan ciuman (kiss feeding), secara tradisional di masyarakat Indonesia dikenal dengan istilah meloloh[1] atau mengunyahkan makanan,[2] adalah tindakan mengunyah makanan dengan tujuan memecahnya secara fisik demi memberi makan orang lain yang tidak mampu mengunyah makanan itu sendiri. Hal ini sering dilakukan oleh ibu atau kerabat bayi untuk menghasilkan makanan bayi yang dapat dikonsumsi oleh anak selama proses penyapihan. Makanan yang telah dikunyah dalam bentuk bolus dipindahkan dari mulut satu individu ke individu lain, baik secara langsung mulut-ke-mulut, melalui peralatan makan, tangan, atau dimasak maupun diproses lebih lanjut sebelum diberikan.[3][4]

Perilaku ini umum terjadi sepanjang sejarah dan masyarakat manusia serta teramati pada hewan non-manusia. Meskipun pramastikasi kurang umum dalam masyarakat Barat modern, praktik ini dulunya umum dilakukan dan masih dilakukan dalam budaya-budaya yang lebih tradisional.[5] Walaupun manfaat kesehatan dari pramastikasi masih terus dipelajari secara aktif, praktik ini tampaknya memberikan manfaat nutrisi dan imunologis tertentu bagi bayi,[6] dengan catatan bahwa pengasuh dalam keadaan sehat dan tidak terinfeksi oleh patogen.[7]

Akar perilaku

Pramastikasi dan pemberian makan mulut-ke-mulut pada manusia dihipotesiskan berevolusi dari muntahan (regurgitasi) makanan dari orang tua ke anak atau dari jantan ke betina (pemberian makan pinangan) dan telah teramati pada berbagai mamalia dan hewan dari spesies lain, termasuk serangga sosial pemangsa.[8][9][10] Sebagai contoh, perilaku meminta makanan yang teramati pada anak serigala, anjing liar, dan spesies burung camar tertentu, yang melibatkan anak mendekati paruh atau mulut orang dewasa dengan mulut mereka sendiri lalu membuka mulut atau mendesakkan moncongnya, di mana orang dewasa akan meregurgitasi sebagian makanan untuk memberi makan anaknya.[11] Namun, pada hewan-hewan yang disebutkan di atas, perilaku mendesakkan moncong ini dan jenis kontak mulut-ke-mulut lainnya juga digunakan untuk pembentukan ikatan, sosialisasi, dan peminangan.[12]

Pada kera

Orangutan muda juga meminta makanan melalui kontak semacam itu dan pengasuh mereka meregurgitasi makanan untuk memberi makan mereka.[13] Bahkan, perilaku pemberian makan mulut-ke-mulut dari makanan yang dipramastikasi dan kontak mulut-ke-mulut yang diritualkan untuk pembentukan ikatan telah teramati pada kera antropoid seperti gorila, orangutan, dan simpanse. Semua hal ini mendukung gagasan bahwa perilaku manusia dalam berciuman dan memberi makan makanan hasil pramastikasi, baik secara langsung maupun tidak langsung dari mulut, memiliki akar perilaku pada hewan tingkat tinggi dan kera besar leluhur.[14]

Cikal bakal ciuman manusia

Terdapat kemiripan yang tinggi dalam pelaksanaan pemberian makan ciuman dan ciuman manusia (misalnya ciuman Prancis); pada yang pertama, lidah digunakan untuk mendorong makanan dari ibu ke anak dengan anak menerima makanan dan lidah ibu dalam gerakan mengenyut, sedangkan yang kedua hanya tidak menyertakan makanan yang dipramastikasi.[12] Bahkan, pengamatan di berbagai spesies dan budaya mengonfirmasi bahwa tindakan berciuman dan pramastikasi kemungkinan besar berevolusi dari perilaku pemberian makan berbasis hubungan yang serupa.[8][12]

Sejarah dan budaya

Catatan tertulis mengenai pramastikasi telah ditemukan di Mesir Kuno, meskipun praktik ini kemungkinan sudah ada sejak zaman prasejarah pada leluhur non-manusia.[15] Sebagai contoh, dalam papirus medis Ebers Mesir Kuno, seorang ibu diinstruksikan untuk memberikan obat medis kepada seorang anak melalui pramastikasi.[16] Dalam budaya Romawi abad ke-5 M, pramastikasi makanan bayi oleh pengasuh juga merupakan hal yang umum, meskipun kurangnya sanitasi yang menyertai praktik tersebut berkontribusi terhadap kematian bayi.[17] Bayi di Eropa Abad Pertengahan diberi makan berbagai makanan yang dilumatkan, dipramastikasi, atau roti yang dilunakkan dengan cairan.[18]

Akibat pandangan dalam kedokteran Barat pada tahun 1940-an dan 1950-an, masyarakat dan budaya Penduduk Asli Amerika dan Fiji sangat dilarang melakukan pramastikasi karena kekhawatiran mengenai higienitas praktik tersebut. Namun, kurangnya pengetahuan mengenai pramastikasi dan pelarangannya oleh misionaris serta dokter justru menyebabkan anemia berat pada bayi di populasi tersebut,[19] atau menyebabkan bayi dan anak-anak mengalami kurang gizi karena kekurangan asupan nutrisi.[20]

Meskipun kurang lazim dalam masyarakat Barat pasca-industri modern, pemberian makanan yang dipramastikasi kepada bayi ditemukan dalam banyak budaya tradisional dan memberikan banyak manfaat bagi bayi mereka.[21] Di Amerika Utara, pramastikasi masih umum digunakan oleh ibu-ibu kulit hitam dan Hispanik,[22] serta umum digunakan oleh wanita Inuit dan Suku Aleut.[23]

Dalam banyak budaya manusia, tindakan pramastikasi dan pemberian makan langsung dari mulut ke mulut dikaitkan dengan perwujudan kasih sayang, yang dikenal sebagai kiss feeding.[12][15] Dalam budaya Manus di Kepulauan Admiralty, tindakan pramastikasi telah digunakan oleh wanita untuk mengingatkan anak-anak dan keturunan mereka akan kewajiban mereka terhadapnya.[24] Beberapa budaya manusia seperti masyarakat Papua Nugini bahkan menggunakan kontak mulut ke mulut terutama untuk memberi makan makanan yang dipramastikasi, dengan ciuman seksual baru teramati setelah kedatangan orang Eropa.[25] Bentuk pemberian makan ini diyakini telah berevolusi menjadi tindakan manusia modern berupa berciuman dan ciuman Prancis.[12]

Banyak masyarakat Barat memiliki rasa enggan yang kuat terhadap pramastikasi, yang telah dibandingkan dengan kritik dan keengganan serupa terhadap pemberian ASI pada generasi sebelumnya dengan alasan yang serupa,[5] dengan masyarakat yang sama menganggap pemberian ASI sebagai praktik yang tidak menyenangkan yang hanya dilakukan oleh kelas bawah yang tidak berpendidikan atau budaya asing[26] dan mengubah kebijakan kesehatan yang merugikan kesehatan bayi.[27] Pada akhir tahun 1800-an, komunitas medis di Texas terlibat dalam perdebatan tentang pramastikasi, dengan pihak yang mendukung praktik tersebut mengemukakan manfaatnya dan pihak yang menentangnya menyatakan bahwa praktik tersebut "jijik, menjijikkan, dan... barbar".[16]

Kesehatan

Tindakan pramastikasi umum ditemukan di semua masyarakat dan populasi manusia, meskipun kurang prevalen pada sebagian masyarakat dibanding yang lain. Evolusi dan keunggulan selektif dari perilaku pramastikasi adalah bahwa tindakan ini melengkapi diet bayi berupa ASI dengan menyediakan akses ke lebih banyak makro- dan mikro-nutrisi, serta enzim pencernaan.[6] Meskipun penyakit dapat ditularkan melalui air liur dalam makanan yang dipramastikasi, manfaat yang diberikan melebihi risiko praktik tersebut selama evolusi perilaku manusia.[5] Selain itu, melarang pramastikasi sebagai pencegahan penularan penyakit dapat terbukti sebagai kebijakan kesehatan masyarakat bayi yang sama berimbas buruknya seperti ketika pemberian ASI dilarang pada akhir tahun 1980-an dan awal tahun 1990-an.[28] Pada populasi dengan pengasuh yang sehat, pramastikasi tidak berkorelasi dengan konsekuensi kesehatan negatif,[29] dengan potensi manfaat dan risiko praktik ini sangat bergantung pada kondisi diet dan medis dari pemberi dan anak.[30]

Cakupan sebenarnya dari manfaat pramastikasi dan prevalensinya di berbagai masyarakat masih dalam penelitian, meskipun tampaknya ada konsensus mengenai manfaat nutrisi dari praktik ini.[6] Sebagai komorbiditas dengan kesehatan dan pendidikan pengasuh, serta akses masyarakat terhadap layanan kesehatan dan nutrisi yang tepat, dampak pramastikasi terhadap kesehatan anak memerlukan studi dan uji coba lebih lanjut sebelum pengenalan kebijakan yang mendorong atau melarang praktiknya.[29][31]

Lihat pula

Referensi

  1. ↑ "meloloh". kbbi.kemendikdasmen.go.id. Diakses tanggal 2026-10-10.
  2. ↑ Pola Pengasuhan Anak Tradisional dalam Masyarakat Indonesia. Direktorat Tradisi dan Kepercayaan, Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata Republik Indonesia. 2004. hlm. 45–48.
  3. ↑ Holmes, Wendy (2007), "Influences on maternal and child nutrition in the highlands of the northern Lao PDR", Asia Pac J Clin Nutr, 16 (3): 537–545, PMID 17704036
  4. ↑ Zhang, Yuanyuan (Mei 2007), "The role of pre-mastication in the evolution of complementary feeding strategies: a bio-cultural analysis" (PDF), Cornell University College of Agriculture and Life Sciences Honors Theses{{citation}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  5. 1 2 3 Pelto, Greta; Zhang, Yuanyuan; Habicht, Jean-Pierre (Januari 2010), "Premastication: the second arm of infant and young child feeding for health and survival?", Journal of Maternal and Child Nutrition, 6 (1): 4–18, doi:10.1111/j.1740-8709.2009.00200.x, PMC 6860819, PMID 20073131{{citation}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  6. 1 2 3 Aggett, Peter (2010), "Premastication", Maternal and Child Nutrition, 6 (1): 2–3, doi:10.1111/j.1740-8709.2009.00226.x, PMC 6860488, PMID 20055926
  7. ↑ Levison, Judy; Gillespie, Susan L.; Montgomery, Elizabeth (2011), "Think twice before recommending pre-masticated food as a source of infant nutrition", Maternal & Child Nutrition, 7 (1): 104, author reply 105–6, doi:10.1111/j.1740-8709.2010.00289.x, PMC 6860487, PMID 21143589
  8. 1 2 Eibl-Eibesfeldt, Irenäus (1971), Love and hate: the natural history of behavior patterns, Aldine Transaction, ISBN 978-0-202-02038-9
  9. ↑ Wheeler, W.M. 1923. Social life among the insects. 375 pages. London.
  10. ↑ Eberhard, W. (1974) The natural history and behaviour of the wasp Trigonopsis cameronii Kohl (Sphecidae). Trans. Royal Ent. Soc. London 125(3): 295-328
  11. ↑ Wilson, Edward O. (1980), Sociobiology, Harvard University Press
  12. 1 2 3 4 5 Eibl-Eibesfeldt, Irenäus (1983), "Chapter 3: A comparative approach to human ethology", dalam Rajecki, D. W. (ed.), Comparing behavior: studying man studying animals, Routledge
  13. ↑ Russon, Anne E.; Bard, Kim A.; Parker, Sue Taylor, Reaching Into Thought:The Minds of the Great Apes, Cambridge University Press, Nov 26, 1998
  14. ↑ Eibl-Eibesfeldt, Irenäus (Okt 30, 2007), Human Ethology, Transaction Publishers, hlm. 138, ISBN 978-0-202-36661-6{{citation}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  15. 1 2 Kirshenbaum, Sheril (Jan 5, 2011), The Science of Kissing: What Our Lips Are Telling Us, Hachette Digital, Inc.{{citation}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  16. 1 2 Radbill, Samuel X. (Oktober 1981), "Infant Feeding through the Ages", Clin Pediatr, 20 (10): 613–621, doi:10.1177/000992288102001001, PMID 7023787, S2CID 10361664{{citation}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  17. ↑ Soren, David; Soren, Noelle (1999), A Roman Villa and a Late Roman Infant Cemetery:Excavation at Poggio Gramignano, Lugnano in Teverina, L'ERMA di BRETSCHNEIDER
  18. ↑ Forgeng, Jeffrey L.; Singman, Jeffrey L. (1999), Daily Life in Medieval Europe, Greenwood Publishing Group
  19. ↑ Pijoan, M; Elkin, C.A. (1944), "Secondary anemia due to prolonged and exclusive milk feeding among Shoshone indian infants" (PDF), Journal of Nutrition, 27: 67–75, doi:10.1093/jn/27.1.67
  20. ↑ Jansen, A. A. J.; Parkinson, Susan; Robertson, A. F. S. (1990), Food and Nutrition in Fiji: Food production, composition, and intake, editorips usp.ac.fj, hlm. 331–392, ISBN 978-982-02-0060-9
  21. ↑ Konner, Melvin (Mei 31, 2010), The Evolution of Childhood: Relationships, Emotion, Mind, Harvard University Press{{citation}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  22. ↑ Andrews, Margaret M.; Boyle, Joyceen S. (2008), Transcultural Concepts in Nursing Care (Edisi 5), Lippincott Williams & Wilkins
  23. ↑ Sprott, Julie E. (1992), Alaska Native Parents in Anchorage:Perspectives on Childrearing, University Press of America
  24. ↑ Schwartz, Theodore (1975), "Relations among generations in Time-Limited Cultures", Ethos, 3 (2): 309–322, doi:10.1525/eth.1975.3.2.02a00150
  25. ↑ Bailey, K. V. (1963), "Premastication of infant food in the New Guinea Highlands.", South Pacific Commission, Technical. Information Circular., 61 (1): 1–3
  26. ↑ Nathoo, Tasnim; Ostry, Aleck (Jun 1, 2009), The One Best Way?: Breastfeeding History, Politics, and Policy in Canada, Wilfrid Laurier Univ. Press{{citation}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  27. ↑ Kuhn, Louise; Aldrovandi, Grace M.; Sinkala, Moses; Kankasa, Chipepo; Semrau, Katherine; Mwiya, Mwiya; Kasonde, Prisca; Scott, Nancy; Vwalika, Cheswa; Walter, Jan; Bulterys, Marc (2008-07-10). "Effects of Early, Abrupt Weaning on HIV-free Survival of Children in Zambia". The New England Journal of Medicine. 359 (2): 130–141. doi:10.1056/NEJMoa073788. ISSN 0028-4793. PMC 2577610. PMID 18525036.
  28. ↑ Pelto, Gretel H.; Habicht, Jean-Pierre (2011), "Letter to the Editor: Discouraging premastication may do more harm than good: Response to the letter by Levison et al. 2010", Maternal and Child Nutrition, 7 (1): 105–106, doi:10.1111/j.1740-8709.2010.00291.x, PMC 6860494
  29. 1 2 Zhao, Ai; Zheng, Wei; Xue, Yong; Li, Hao; Tan, Shengjie; Zhao, Wenzhi; Wang, Peiyu; Zhang, Yumei (2017-04-06). "Prevalence of premastication among children aged 6–36 months and its association with health: A cross-sectional study in eight cities of China". Maternal & Child Nutrition. 14 (1) e12448. doi:10.1111/mcn.12448. ISSN 1740-8695. PMC 6866172. PMID 28382711.
  30. ↑ Van Esterik, Penny; Williams, Anthony; Fewtrell, Mary S.; Tolboom, Jules J.M.; Lack, Gideon; Penagos, Martin (Januari 2010), "Commentaries on Premastication: the second arm of infant and young child feeding for health and survival? By Gretel Pelto, Yuanyuan Zhang & Jean-Pierre Habicht", Maternal & Child Nutrition, 6 (1): 19–26, doi:10.1111/j.1740-8709.2009.00227.x, PMC 6860646, PMID 20055927{{citation}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  31. ↑ Habicht, Jean-Pierre; Pelto, Gretel H. (2016-05-26). "Addressing epidemiological and public health analytic challenges in outcome and impact research: a commentary on 'Prechewing Infant Food, Consumption of Sweets and Dairy and Not Breastfeeding are Associated with Increased Diarrhea Risk of Ten Month Old Infants'". Maternal & Child Nutrition. 12 (3): 625–631. doi:10.1111/mcn.12327. ISSN 1740-8695. PMC 6860170. PMID 27229538.
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan