Poliembrioni ialah sebuah fenomena biologis di mana satu sel telur yang telah dibuahi atau satu zigot berkembang dan membelah diri menjadi dua atau lebih embrio yang terpisah. Peristiwa ini berbeda dengan kehamilan kembar pada umumnya yang berasal dari dua sel telur yang berbeda, karena pada poliembrioni semua embrio yang dihasilkan berasal dari satu asal genetik yang sama, sehingga memiliki materi genetik yang identik. Fenomena ini tidak direncanakan dan terjadi secara alami akibat pembelahan awal sel yang tidak biasa setelah proses fertilisasi.[1]
Fenomena poliembrioni dapat ditemukan pada berbagai kelompok makhluk hidup, baik pada manusia, hewan, maupun tumbuhan. Pada manusia, contoh yang paling dikenal adalah kembar identik atau kembar monozigot. Pada hewan seperti armadillo beralur sembilan, poliembrioni bahkan terjadi secara wajib di mana satu zigot selalu menghasilkan empat anak yang identik. Sementara pada dunia tumbuhan, poliembrioni sangat umum terjadi pada tanaman seperti jeruk, mangga, dan bawang, di mana dalam satu biji dapat ditemukan beberapa embrio yang salah satunya berasal dari hasil pembuahan dan yang lainnya berasal dari jaringan induk.
Secara umum, poliembrioni memiliki peran dan makna yang berbeda tergantung pada konteksnya. Dari sudut pandang evolusi, ini dapat menjadi strategi reproduksi untuk meningkatkan jumlah keturunan dari satu kali pembuahan dengan efisien. Namun dalam pertanian, poliembrioni kadang menguntungkan karena dapat menghasilkan bibit klonal yang identik dengan induknya tanpa perlu pencangkokan, tetapi juga bisa merugikan jika embrio yang tidak diinginkan bersaing dengan embrio utama sehingga pertumbuhan bibit menjadi tidak optimal.
Referensi
- ↑ "Polyembryony and Apomixis". Reproductive Biology of Angiosperms: 357–389. 2023-01-05. doi:10.1017/9781009160414.013.