Kamis, 15 Oktober 2026
21:34 WIB
TERKINI
Bandar Lampung Masyarakat Lampung Titip Harapan Besar untuk Kapolda Baru: Berantas Narkoba dan Begal Regional Gubernur Herman Deru Minta Polisi Usut Tuntas Pengeroyokan Jurnalis di Palembang Lampung Selatan Bau Menyengat dan Lalat Ungkap Kematian Pria di Natar, Diduga Sakit Kronis Hiburan Daftar Film Paling Dipuji di IMDb 2026: Dari Epik Kolosal hingga Aksi Pahlawan Super Lampung Gubernur Lampung Kembali Raih Grand Baznas Awards 2026, Diakui Dukungan Zakat Terbaik Bandar Lampung Transformasi Pengelolaan Sampah Bandar Lampung: PSEL Beroperasi, TPA Bakung Tutup Permanen Regional Polda Sumsel Buru Aktor Intelektual Penyerang Jurnalis dan Mahasiswa Saat Demo Metro Relasi Kuasa Timpang Pemicu KDRT: Dosen Unila Soroti Kasus Suami Bakar Istri Bandar Lampung BMKG: 471 Titik Panas Terdeteksi di Lampung, 22 Di antaranya Berisiko Tinggi Bandar Lampung Polda Lampung Dalami Kasus Penggelapan Mobil Libatkan Anggota Dewan, Rugi Rp1,1 M Bandar Lampung Masyarakat Lampung Titip Harapan Besar untuk Kapolda Baru: Berantas Narkoba dan Begal Regional Gubernur Herman Deru Minta Polisi Usut Tuntas Pengeroyokan Jurnalis di Palembang Lampung Selatan Bau Menyengat dan Lalat Ungkap Kematian Pria di Natar, Diduga Sakit Kronis Hiburan Daftar Film Paling Dipuji di IMDb 2026: Dari Epik Kolosal hingga Aksi Pahlawan Super Lampung Gubernur Lampung Kembali Raih Grand Baznas Awards 2026, Diakui Dukungan Zakat Terbaik Bandar Lampung Transformasi Pengelolaan Sampah Bandar Lampung: PSEL Beroperasi, TPA Bakung Tutup Permanen Regional Polda Sumsel Buru Aktor Intelektual Penyerang Jurnalis dan Mahasiswa Saat Demo Metro Relasi Kuasa Timpang Pemicu KDRT: Dosen Unila Soroti Kasus Suami Bakar Istri Bandar Lampung BMKG: 471 Titik Panas Terdeteksi di Lampung, 22 Di antaranya Berisiko Tinggi Bandar Lampung Polda Lampung Dalami Kasus Penggelapan Mobil Libatkan Anggota Dewan, Rugi Rp1,1 M

Petulai

Bagikan:

Petulai (ꤶꥎꤳꥈꤾꥁꥇ), disebut juga sebagai Bang Mêgo (ꤷꥏꤸꥎꤱꥋ) merupakan istilah bagi subsuku atau klan asli di antara masyarakat Rejang.[1] Subsuku atau klan tersebut berjumlah empat, oleh karenanya suku Rejang lantas dikenal pula sebagai Rejang Empat Petulai (Jang Pat Pêtulai).[2] Catatan tertua mengenai keempatnya terdapat dalam The History of Sumatra, sebuah monograf tahun 1783 yang ditulis oleh Wiliam Marsden, seorang antropolog berkebangsaan Inggris.[3] Keempat petulai yang dimaksud adalah Bermani, Jurukalang, Selupu, dan Tubei.[4][1][a]

Pembagian masyarakat Rejang ke dalam petulai-petulai dapat ditarik asal-usulnya pada legenda kedatangan empat bikau yang konon katanya berasal dari Majapahit. Para biku diceritakan memiliki kesaktian, kewibawaan, dan kepandaian yang memukau penduduk Rejang, yang saat itu telah diperintah oleh para ajai. Penduduk Rejang meminta agar keempatnya menetap di sana dan menjadi pemimpin mereka. Keempat bikau meliputi bikau Bermano, bikau Bembo, bikau Bejenggo, dan bikau Sepanjang Jiwo pada akhirnya mendirikan masing-masing satu petulai.[5] Biku Bermano mendirikan petulai Bermani, dengan permukiman tertua mereka di Kota Rukam. Biku Bembo mendirikan Topos sebagai pusat petulai Jurukalang.[6] Biku Bejenggo mendirikan petulai Selupu. Sedangkan petulai Tubei didirikan oleh biku Sepanjang Jiwo.[6]

Catatan

  1. ↑ Marsden menulis keempat petulai, masing-masing sebagai Beremanni, Joorcalang, Selopo, dan Toobye.

Referensi

  1. 1 2 Jaspan 1984, hlm. 7.
  2. ↑ Nurdin, Rani, Suhandi, & Siregar 1990, hlm. 20. sfn error: tanpa target: CITEREFNurdin,_Rani,_Suhandi,_&_Siregar1990 (bantuan)
  3. ↑ Marsden 1783, hlm. 178.
  4. ↑ Hazairin 1936, hlm. 1.
  5. ↑ Yuliani 2006, hlm. 112.
  6. 1 2 Hamidy, Sata, Fajar, & Suhandi 1990, hlm. 58. sfn error: tanpa target: CITEREFHamidy,_Sata,_Fajar,_&_Suhandi1990 (bantuan)

Daftar pustaka


Ikon rintisan

Artikel bertopik budaya ini adalah sebuah rintisan. Anda dapat membantu Wikipedia dengan mengembangkannya.

Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan