Minggu, 01 November 2026
23:49 WIB
TERKINI
Lampung Barat Pesan Bupati Lambar: Patriotik, Gigih, dan Berempati Kunci Masa Depan Bangsa Bandar Lampung 343 Polisi Disiagakan Kawal Aksi Sumpah Pemuda 2026 di Bandar Lampung Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Solar Subsidi Terbongkar di Lampung Selatan, Tiga Tersangka Diamankan Bandar Lampung Perpanjangan SIM A/C Kini Lebih Praktis: Cek Jadwal dan Syarat di Bandar Lampung Lampung Selatan Gunung Anak Krakatau: Asap Hitam Viral Bukan Erupsi, Status Tetap Siaga Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Rokok Ilegal Senilai Rp14,85 Miliar Terbongkar di Bakauheni Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare Bandar Lampung BSU 2026 Segera Disalurkan: Rp900 Ribu dan Analisis Pakar Terkait Tantangan Pekerja Bandar Lampung Optimisme Harga Singkong Lampung 2027: Bibit dan Pupuk Kunci Utama Bandar Lampung Krisis Asap dan Ribuan Titik Panas: WALHI Desak Audit Ekologis TNWK Lampung Barat Pesan Bupati Lambar: Patriotik, Gigih, dan Berempati Kunci Masa Depan Bangsa Bandar Lampung 343 Polisi Disiagakan Kawal Aksi Sumpah Pemuda 2026 di Bandar Lampung Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Solar Subsidi Terbongkar di Lampung Selatan, Tiga Tersangka Diamankan Bandar Lampung Perpanjangan SIM A/C Kini Lebih Praktis: Cek Jadwal dan Syarat di Bandar Lampung Lampung Selatan Gunung Anak Krakatau: Asap Hitam Viral Bukan Erupsi, Status Tetap Siaga Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Rokok Ilegal Senilai Rp14,85 Miliar Terbongkar di Bakauheni Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare Bandar Lampung BSU 2026 Segera Disalurkan: Rp900 Ribu dan Analisis Pakar Terkait Tantangan Pekerja Bandar Lampung Optimisme Harga Singkong Lampung 2027: Bibit dan Pupuk Kunci Utama Bandar Lampung Krisis Asap dan Ribuan Titik Panas: WALHI Desak Audit Ekologis TNWK

Petrus Asuy

pegiat lingkungan Indonesia

Bagikan:
Petrus Asuy
Lahir
Petrus Asuy

7 Mei 1964 (umur 62)
Masa aktif1999-sekarang
Dikenal karenaPegiat lingkungan

Petrus Asuy adalah tokoh adat Dayak benuaq yang dikenal karena mempertahankan hak komunitas masyarakat dan hutan adat Dayak Benuaq di Muara Tae, kecamatan Jempang, kabupaten Kutai Barat, Kalimantan Timur sejak tahun 1999.[1] Pada 21 September 2015 Petrus Asuy dan komunitas adat Dayak Benuaq lainnya mendapatkan anugerah Equator Price. Penghargaan bergengsi yang diberikan Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) ini merupakan pengakuan atas perjuangan Komunitas Adat Dayak Benuaq yang gigih mempertahankan, melindungi, dan memulihkan hutan wilayah adat mereka dari perusahaan tambang batubara dan perkebunan kelapa sawit. Dari 11 ribu hektar wilayah adat mereka, kini hanya tersisa 4 ribu hektar yang terus dipertahankan.[2]

Referensi

Catatan kaki
  1. ↑ "Gigih Pertahankan Hutan Adat Muara Tae, Petrus Asuy Malah Dapat Ancaman". Mongabay Environmental News (dalam bahasa American English). 2016-06-28. Diakses tanggal 2020-09-02.
  2. ↑ "Penerima Equator Prize, Petrus Asuy". VOA Indonesia. Diakses tanggal 2020-09-02.
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan