Senin, 02 November 2026
20:27 WIB
TERKINI
Bandar Lampung Senator Bustami Zainudin dan Staf DPD Lampung Ikuti Program Cek Kesehatan Gratis Bandar Lampung Padatnya Agenda Pemprov Lampung 2 November 2026: Dari Apel Hingga Forum Ekonomi Bandar Lampung Imigrasi Lampung Ungkap Modus Kawin Pesanan, Empat WNA China Diamankan di Pesawaran Lampung Barat Pesan Bupati Lambar: Patriotik, Gigih, dan Berempati Kunci Masa Depan Bangsa Bandar Lampung 343 Polisi Disiagakan Kawal Aksi Sumpah Pemuda 2026 di Bandar Lampung Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Solar Subsidi Terbongkar di Lampung Selatan, Tiga Tersangka Diamankan Bandar Lampung Perpanjangan SIM A/C Kini Lebih Praktis: Cek Jadwal dan Syarat di Bandar Lampung Lampung Selatan Gunung Anak Krakatau: Asap Hitam Viral Bukan Erupsi, Status Tetap Siaga Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Rokok Ilegal Senilai Rp14,85 Miliar Terbongkar di Bakauheni Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare Bandar Lampung Senator Bustami Zainudin dan Staf DPD Lampung Ikuti Program Cek Kesehatan Gratis Bandar Lampung Padatnya Agenda Pemprov Lampung 2 November 2026: Dari Apel Hingga Forum Ekonomi Bandar Lampung Imigrasi Lampung Ungkap Modus Kawin Pesanan, Empat WNA China Diamankan di Pesawaran Lampung Barat Pesan Bupati Lambar: Patriotik, Gigih, dan Berempati Kunci Masa Depan Bangsa Bandar Lampung 343 Polisi Disiagakan Kawal Aksi Sumpah Pemuda 2026 di Bandar Lampung Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Solar Subsidi Terbongkar di Lampung Selatan, Tiga Tersangka Diamankan Bandar Lampung Perpanjangan SIM A/C Kini Lebih Praktis: Cek Jadwal dan Syarat di Bandar Lampung Lampung Selatan Gunung Anak Krakatau: Asap Hitam Viral Bukan Erupsi, Status Tetap Siaga Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Rokok Ilegal Senilai Rp14,85 Miliar Terbongkar di Bakauheni Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare
Peristiwa Padang Area

Peristiwa Padang Area

Bagikan:
Pertempuran Padang Area
Bagian dari Revolusi Nasional Indonesia
330px-Monumen_Padang_Area_2024_-_Denas.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Monumen Padang Area yang dibangun untuk mengenang Peristiwa Padang Area pada 27 November 1945
Tanggal17 November 1945 – September 1946
Lokasi
Hasil
  • Kemenangan Indonesia
  • Markas besar Sekutu di Padang dihancurkan dan dibakar oleh pasukan Indonesia
  • Gudang mesiu Sekutu dijarah
Perubahan
wilayah
Zona pendudukan Sekutu direbut kembali oleh pasukan Indonesia
Pihak yang terlibat
 Indonesia  Britania Raya
 Belanda
Pemimpin atau tokoh terkemuka
Jazid Abidin (TKR)
Ahmad Husein (Batalyon I)
Mayor Andreson
Pasukan yang terlibat
Tentara Keamanan Rakyat (sebelumnya Badan Keamanan Rakyat)
Batalyon I
Komando Divisi IX Banteng
Angkatan Darat Britania Raya
KNIL
NICA
Kekuatan
Tidak diketahui Tidak diketahui
Korban jiwa dan kerugian
20 tewas Tidak diketahui
Banyak markas yang hancur
12 sipil tewas

Peristiwa Padang Area adalah perlawanan rakyat Kota Padang, Sumatera Barat terhadap tentara Sekutu yang terjadi pada masa perjuangan mempertahankan kemerdekaan, dimulai pada 27 November 1945 di Sekolah Teknik Simpang Haru (Kageo Gakko, bekas Ambacht School, sekarang SMK). Insiden berawal dari pendudukan sekolah oleh serdadu KNIL secara paksa sehingga memicu protes dari seorang guru sekaligus kepala sekolah di sana, Said Rasad (yang kelak menjadi Wali Kota Padang). Para serdadu KNIL memukul Said Rasad hingga pingsan. Hal ini memicu perlawanan dari pihak Republik sehingga pada malam harinya sekelompok pemuda menyerang para serdadu di sekolah yang telah mereka duduki.[1][2][3]

Jalannya peristiwa

Beberapa minggu sejak kedatangan Sekutu pada Oktober 1945, Padang penuh sesak oleh pengungsi. Sebagian besar pengungsi adalah orang Belanda atau orang Eropa yang bekerja untuk Belanda dan perusahaan swasta. Dalam jumlah kecil, terdapat bekas serdadu KNIL Ambon dan Manado yang mengabdikan diri mereka untuk kepentingan Belanda. Pihak Republik membantu Sekutu menyediakan tempat pengungsian. Namun, seiring bertambahnya jumlah pengungsi, pihak Republik mulai kesulitan menanggulangi.[1][4]

Pada 27 November 1945, sekelompok serdadu KNIL melakukan pendudukan secara paksa terhadap Sekolah Teknik Simpang Haru. Mereka menyerobot masuk ke pekarangan sekolah sekitar pukul 10:00 pagi, saat para murid dan guru sedang belajar di dalam kelas. Mula-mula, mereka melemparkan barang bawaan mereka dari balik pagar gedung sekolah. Seorang guru sekaligus kepala sekolah di sana, bernama Said Rasad, memprotes tindakan tersebut. Said menanyakan kepada para serdadu mengenai keberadaan komandan mereka. Para serdadu lalu mengantar Said ke rumah komandan mereka yang terletak tak jauh dari sekolah. Namun, usai melakukan pembicaraan, para pengawal komandan mengusir Said dan menyerangnya secara brutal hingga jatuh pingsan.[1]

Said segera mendapat pertolongan dari Komisaris Polisi Johnny Anwar. Kasus yang menimpa Said tersiar luas di kalangan Republik. Pada malam hari, sekelompok pemuda di bawah pimpinan Rasyid Boneng bergerak menyerang serdadu KNIL di Sekolah Teknik Simpang Haru. Beberapa orang serdadu KNIL tewas akibat serangan tersebut. Sejawaran Mestika Zed menyebut jumlah korban tidak diketahui. Buntut dari insiden tersebut, tentara Sekutu dan KNIL melakukan penggeledahan terhadap rumah-rumah penduduk di sekitar Simpang Haru, Parak Gadang, hingga Bandar Buat.[5] Sejumlah pemuda dijebloskan ke penjara. Beberapa rumah penduduk dibakar dan memakan korban dari pihak Republik.[1]

Dampak

Sejak insiden penyerangan di Simpang Haru, tentara Sekutu memberlakukan jam malam secara ketat dari pukul 6 sore sampai pukul 6 pagi. Di pihak Republik, peristiwa di Simpang Haru telah menyulut kebencian terhadap tentara Sekutu. Pertempuran antara rakyat dan tentara Sekutu dilaporkan terjadi di Sungai Baramas dan Teluk Bayur.[1]

Untuk mengenang peristiwa ini, Pemerintah Kota Padang pada 1990 membangun Monumen Padang Area di Simpang Haru, persis di depan Sekolah Teknik Simpang Haru yang merupakan lokasi terjadinya insiden.[2]

Lihat pula

Referensi

  1. 1 2 3 4 5 Mestika Zed; Amri, Emizal; Edmihardi (2002). Sejarah perjuangan kemerdekaan 1945-1949 di Kota Padang dan sekitarnya. Yayasan Citra Budaya Indonesia. hlm. 191–194. ISBN 978-979-95830-5-5.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  2. 1 2 Rahmat Irfan Denas (26 Februari 2019). "Tetenger Kota Padang, "Sandera" Sejarah Tugu Padang Lidah Api". Harian Khazanah.
  3. ↑ Mulyadi Mintaraga (1986). Api perjuangan kemerdekaan di kota Padang. Songo Abadi Inti.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  4. ↑ Propinsi Sumatera Tengah. Kementerian Penerangan. 1959.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  5. ↑ Rosihan Anwar (2004). Sejarah kecil "petite histoire" Indonesia. Vol. 4. Penerbit Buku Kompas. hlm. 180. ISBN 978-979-709-532-1.{{cite book}}: Kutipan memiliki parameter tidak dikenal yang kosong: |1=Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan