Sabtu, 24 Oktober 2026
02:30 WIB
TERKINI
Bandar Lampung Polisi Hadir di Jalanan: Ratusan Makan Siang Gratis Eratkan Hubungan Warga Bandar Lampung Bandar Lampung Ancaman Serius TNBBS: 23 Kasus Pidana Kehutanan Terungkap dalam Satu Dekade Bandar Lampung Penipuan Rekrutmen Honorer Rp20 Juta di Bandar Lampung Berakhir Damai Bandar Lampung Transformasi 40 Tahun FISIP Unila: Dari Prestasi Global hingga Riset Solutif Lampung Bandar Lampung Sinergi Lintas Sektor: TNBBS Perkuat Penegakan Hukum Lingkungan dengan Enam Strategi Bandar Lampung Dorong Gaya Hidup Sehat, Pemkot Bandar Lampung Dukung Jalan Sehat Akbar di Panjang Bandar Lampung Peringatan Petugas Diabaikan, Pemotor Tewas Tertabrak Kereta Babaranjang di Bandar Lampung Lampung Selatan Kolom Abu Anak Krakatau Capai 500 Meter, Warga Lampung Selatan Diimbau Waspada Pesawaran Unila Dampingi Orkes Gambus Al-Anwar: Tradisi Bertemu Teknologi Modern Bandar Lampung Kualitas Udara Bandar Lampung: Kelompok Sensitif Diminta Tetap Waspada Bandar Lampung Polisi Hadir di Jalanan: Ratusan Makan Siang Gratis Eratkan Hubungan Warga Bandar Lampung Bandar Lampung Ancaman Serius TNBBS: 23 Kasus Pidana Kehutanan Terungkap dalam Satu Dekade Bandar Lampung Penipuan Rekrutmen Honorer Rp20 Juta di Bandar Lampung Berakhir Damai Bandar Lampung Transformasi 40 Tahun FISIP Unila: Dari Prestasi Global hingga Riset Solutif Lampung Bandar Lampung Sinergi Lintas Sektor: TNBBS Perkuat Penegakan Hukum Lingkungan dengan Enam Strategi Bandar Lampung Dorong Gaya Hidup Sehat, Pemkot Bandar Lampung Dukung Jalan Sehat Akbar di Panjang Bandar Lampung Peringatan Petugas Diabaikan, Pemotor Tewas Tertabrak Kereta Babaranjang di Bandar Lampung Lampung Selatan Kolom Abu Anak Krakatau Capai 500 Meter, Warga Lampung Selatan Diimbau Waspada Pesawaran Unila Dampingi Orkes Gambus Al-Anwar: Tradisi Bertemu Teknologi Modern Bandar Lampung Kualitas Udara Bandar Lampung: Kelompok Sensitif Diminta Tetap Waspada

Pertempuran Memel

pertempuran yang terjadi saat Perang Dunia II di Front Timur

Bagikan:
Pertempuran Memel
Bagian dari Front Timur pada saat Perang Dunia II
Tanggal5–22 Oktober 1944 (serangan utama); 28 Januari 1945 (akhir pengepungan)
Lokasi55°40′N 21°30′E / 55.667°N 21.500°E / 55.667; 21.500
Hasil Kemenangan Soviet
Perubahan
wilayah
Uni Soviet berhasil mencaplok Memel dan mengembalikannya ke RSS Lituania
Pihak yang terlibat
Jerman Nazi Jerman Uni Soviet Uni Soviet
Pemimpin atau tokoh terkemuka
Erhard Raus
(Tentara Panzer ke-3)
Hans Gollnick
(Korps XXVIII)
Hovhannes Bagramyan (Front Baltik I)

Pertempuran Memel atau Pengepungan Memel (bahasa Jerman:Erste Kurlandschlacht) adalah pertempuran yang terletak di Front Timur pada saat Perang Dunia II. Pertempuran ini dimulai saat Tentara Merah melancarkan operasi ofensif Memel (bahasa Rusia:Мемельская наступательная операция) pada akhir tahun 1944. Serangan tersebut berhasil mendorong pasukan Jerman yang tersisa di wilayah yang sekarang menjadi Lituania dan Latvia ke sebuah pangkalan terdepan kecil di Klaipėda (Memel) dan pelabuhannya, yang menyebabkan pengepungan selama tiga bulan di posisi tersebut.

Pangkalan terdepan itu akhirnya dihancurkan sebagai bagian dari Serangan Prusia Timur oleh Uni Soviet pada awal tahun 1945.

Awal

Serangan Belarusia oleh Soviet pada bulan Juni–Agustus 1944 (atau yang lebih dikenal sebagai Operasi Bagration) telah mengakibatkan Satuan Darat Grup Tengah Jerman hampir hancur dan terusir di wilayah yang sekarang disebut Belarus, sebagian besar wilayah yang kini disebut Lituania, dan sebagian besar Polandia. Selama Agustus dan September pada tahun yang sama, serangkaian serangan balik Jerman, Operasi Doppelkopf dan Cäsar, berhasil menghentikan laju Soviet dan mempertahankan koneksi antara Satuan Darat Grup Tengah dan Utara milik Jerman; tetapi, Stavka melakukan persiapan untuk serangan oleh Front Baltik I terhadap posisi Tentara Panzer ke-3 dan selanjutnya menuju Memel, sehingga kedua Satuan Darat atau Grup Angkatan Darat tersebut terpecah.

Jenderal Soviet Bagramyan berencana melancarkan serangan utamanya di sektor 19 km di barat Šiauliai. Ia memusatkan hampir separuh pasukannya di area ini, menggunakan teknik penyembunyian untuk menghindari penumpukan pasukan Jerman, dan berusaha meyakinkan komando Jerman bahwa sumbu serangan utama akan menuju Riga.[1]

Penempatan

Wehrmacht

Pada akhir November, Divisi Panzergrenadier Großdeutschland dan Divisi Panzer ke-7 ditarik dan digantikan oleh Divisi Infanteri ke-95.

Tentara Merah

Penyerangan

Pada 5 Oktober, Bagramyan membuka serangan terhadap Tentara Panzer ke-3 di garis depan sejauh enam puluh mil, memusatkan kekuatan terobosannya melawan Divisi Grenadier ke-551 yang relatif lemah.[2] Divisi Grenadier ke-551 runtuh pada hari pertama dan penetrasi sejauh 16 km (10 mil) berhasil dilakukan. Bagramyan kemudian mengerahkan Tentara Tank Garda ke-5 untuk menerobos, dengan tujuan garis pantai di utara Memel. Pada 7 Oktober, terjadi keruntuhan menyeluruh pada posisi Tentara Panzer ke-3, dan penetrasi lebih jauh ke selatan dilakukan oleh Tentara ke-43 Afanasy Beloborodov. Markas besar Tentara Panzer ke-3 telah diserbu oleh Tentara Tank Garda ke-5, dan Raus serta stafnya harus berjuang untuk masuk ke Memel.[3]

Komandan Grup Tentara tetangga, Ferdinand Schörner, memberi sinyal pada 9 Oktober bahwa ia akan melancarkan serangan untuk membebaskan Memel jika pasukan dapat dibebaskan dengan mengevakuasi Riga. Keputusan mengenai hal ini ditunda, tetapi Kriegsmarine berhasil menarik sebagian besar garnisun dan beberapa warga sipil dari pelabuhan tersebut sementara waktu.[4] Korps XXVIII di bawah komando Gollnick mempertahankan garis pertahanan di sekitar kota itu sendiri.

Keberhasilan serangan di sektor utara mendorong komando Soviet untuk mengizinkan Front Belarusia III mencoba menembus ke wilayah utama Prusia Timur. Penyerangan ini, Operasi Gumbinnen, menemui perlawanan Jerman yang sangat kuat dan dihentikan dalam beberapa hari.

Pengepungan

Penghentian Operasi Gumbinnen berarti bahwa pasukan Soviet (terutama dari Tentara ke-43) mulai melakukan blokade terhadap pasukan Jerman yang telah mundur ke Memel. Pasukan Jerman, yang sebagian besar terdiri dari unsur-unsur Divisi Großdeutschland dan Divisi Infanteri ke-58 serta Divisi Panzer ke-7, didukung oleh pertahanan taktis yang sangat diperkuat, tembakan artileri oleh Satuan Tugas Jerman, yang berpusat di sekitar kapal penjelajah berat Prinz Eugen dan Lützow,[5] serta koneksi yang lemah dengan sisa wilayah di Prusia Timur melalui Bura Kuron.

Blokade, dan pertahanan dipertahankan sepanjang November, Desember, dan sebagian besar Januari. Selama periode tersebut, warga sipil yang tersisa dan telah mengungsi ke kota, beserta dengan personel militer yang terluka, dievakuasi melalui laut. Pada periode ini, Divisi Großdeutschland dan Panzer ke-7 ditarik mundur setelah mengalami kerugian besar, dan digantikan oleh Divisi Infanteri ke-95, yang tiba melalui laut.

Kota itu akhirnya ditinggalkan pada tanggal 27 Januari 1945. Keberhasilan Serangan Prusia Timur Soviet ke selatan membuat posisi pangkalan terdepan tidak dapat dipertahankan, dan telah diputuskan untuk menarik Korps XXVIII dari kota tersebut ke Samland untuk membantu pertahanan di sana. Pasukan-pasukan sisa Divisi Infanteri ke-95 dan ke-58 dievakuasi ke Bura Kuron, dengan Divisi Infanteri ke-58 bertindak sebagai barisan belakang untuk penarikan tersebut.[6] Unit-unit terorganisir Jerman yang terakhir pergi meninggalkan tempat tersebut pada pukul 4 pagi, tanggal 28 Januari. Beberapa jam kemudian, pasukan Soviet mengambil alih pelabuhan.

Akibat

Memel, yang sebelumnya merupakan bagian dari Lituania antara tahun 1923 dan 1939 sebelum dimasukkan kembali ke Jerman, diserahkan kepada RSS Lituania di bawah administrasi Soviet. Pada tahun 1947, nama kota tersebut secara resmi diubah menjadi Klaipėda.[7]

Catatan kaki

  1. ↑ Glantz, hlm. 434–435
  2. ↑ Mitcham, hlm. 151
  3. ↑ Glantz, hlm. 440
  4. ↑ Mitcham, hlm. 152
  5. ↑ Prager, hlm. 318–331
  6. ↑ Sebagian besar dari formasi yang dievakuasi kemudian dihancurkan di sekitar Pillau, dengan Divisi Infanteri ke-95 terputus dan dihancurkan di Palmnicken pada pertengahan April.
  7. ↑ Wellmann, Christian. "Recognising Borders: Coping with Historically Contested Territory" (PDF). Diarsipkan dari asli (PDF) tanggal 2006-11-06. Diakses tanggal 2007-03-01.

Referensi

Ikon rintisan

Artikel bertopik sejarah ini adalah sebuah rintisan. Anda dapat membantu Wikipedia dengan mengembangkannya.

Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan