Sabtu, 31 Oktober 2026
02:54 WIB
TERKINI
Lampung Barat Pesan Bupati Lambar: Patriotik, Gigih, dan Berempati Kunci Masa Depan Bangsa Bandar Lampung 343 Polisi Disiagakan Kawal Aksi Sumpah Pemuda 2026 di Bandar Lampung Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Solar Subsidi Terbongkar di Lampung Selatan, Tiga Tersangka Diamankan Bandar Lampung Perpanjangan SIM A/C Kini Lebih Praktis: Cek Jadwal dan Syarat di Bandar Lampung Lampung Selatan Gunung Anak Krakatau: Asap Hitam Viral Bukan Erupsi, Status Tetap Siaga Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Rokok Ilegal Senilai Rp14,85 Miliar Terbongkar di Bakauheni Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare Bandar Lampung BSU 2026 Segera Disalurkan: Rp900 Ribu dan Analisis Pakar Terkait Tantangan Pekerja Bandar Lampung Optimisme Harga Singkong Lampung 2027: Bibit dan Pupuk Kunci Utama Bandar Lampung Krisis Asap dan Ribuan Titik Panas: WALHI Desak Audit Ekologis TNWK Lampung Barat Pesan Bupati Lambar: Patriotik, Gigih, dan Berempati Kunci Masa Depan Bangsa Bandar Lampung 343 Polisi Disiagakan Kawal Aksi Sumpah Pemuda 2026 di Bandar Lampung Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Solar Subsidi Terbongkar di Lampung Selatan, Tiga Tersangka Diamankan Bandar Lampung Perpanjangan SIM A/C Kini Lebih Praktis: Cek Jadwal dan Syarat di Bandar Lampung Lampung Selatan Gunung Anak Krakatau: Asap Hitam Viral Bukan Erupsi, Status Tetap Siaga Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Rokok Ilegal Senilai Rp14,85 Miliar Terbongkar di Bakauheni Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare Bandar Lampung BSU 2026 Segera Disalurkan: Rp900 Ribu dan Analisis Pakar Terkait Tantangan Pekerja Bandar Lampung Optimisme Harga Singkong Lampung 2027: Bibit dan Pupuk Kunci Utama Bandar Lampung Krisis Asap dan Ribuan Titik Panas: WALHI Desak Audit Ekologis TNWK
Pertempuran Heliopolis

Pertempuran Heliopolis

Bagikan:
Pertempuran Heliopolis
Bagian dari Perang Muslim-Bizantium
330px-HELIOPOLIS_-_General_view_of_the_Stadium_and_showing_the_Palace_Hotel_%28n.d.%29_-_front_-_TIMEA.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Tanggal6 Juli 640 M
Lokasi
Heliopolis Kairo
Hasil Kemenangan Muslim
Pihak yang terlibat
Pasukan Muslim Pasukan Bizantium
Pemimpin atau tokoh terkemuka
Amr bin Ash Theodore
Kekuatan
12.000 20.000
Korban jiwa dan kerugian
Sedikit korban Hampir semua terbunuh

Pertempuran Heliopolis atau Ain Syams (Arabic : عين شمس) adalah pertempuran yang menentukan pada tahun 19 H / 640 M antara pasukan Muslim Arab yang dipimpin Amru bin Ash dimasa Khalifah Umar bin Khathab dan pasukan Bizantium untuk menguasai Mesir. Kekuatan Bizantium dipimpin Theodore dengan sekitar 20.000 pasukan sementara Amru membawa sekitar 12.000 pasukan yang dimenangkan pasukan muslim di wilayah Memphis.[1][2]

Wilayah Ain Syams berada di Timur Laut dari Benteng Babilon, sekarang dikenal sebagai Distrik Matariyah, pada bagian Timur kota Kairo.

Pertempuran

Theodore merengsek ke 'Ain Syams, namun Amru membuat perangkap di sebuah tempat tersembunyi di daerah Gunung Merah, dan membuat perangkap yang lain lagi di daerah Nil yang dekat dengan Ummu Dunain sebelah utara Kairo.[3] Theodore harus berhadapan dengan sebuah pasukan besar di sana. Perang pun berjibaku antara kedua pasukan di sepanjang jalan dekat kampung al-'Abbasiyah (sekarang di pinggir kota Kairo).[2] Masing-masing pihak yakin bahwa siapa yang menang dalam perang di medan tempur saat itu akan dapat menguasai sebagian besar Mesir. Pertempuran antara kedua pasukan pun semakin memanas.

osm-intl,7,30.059586,31.35498,262x205.png?lang=id&domain=id.wikipedia.org&title=Pertempuran_Heliopolis&revid=29393355&groups=_e286a0bb2b6ae126c070f809e7c0ccfeabe1a04d&parser=parsoid
Lokasi Heliopolis

Ketika perang sudah berada pada puncaknya, pasukan Kharijah bin Hudzafah muncul dari arah gunung dan menyambar layaknya petir ke ekor pasukan Romawi. Barisan pasukan Romawi hancur lebur dan mulai mundur ke barat, tepatnya ke arah Ummu Dunain. Di sana mereka malah bertemu dengan pasukan militer bangsa Arab lagi. Dengan demikian, mereka berada di antara 3 pasukan besar Arab yang akhirnya berhasil memorak-morandakan mereka. Tidak ada yang tersisa selain pasukan itu dalam jumlah kecil saja, sebagiannya berada didaerah Nil, sedangkan sebagiannya lagi melarikan diri ke Babilonia.[2] Selanjutnya pasukan Amr bergerak menuju Babilonia. Penduduknya yang mayoritas Kristen Koptik membuat perjanjian damai dengan muslimin, lalu Amru mendirikan kota Fustat (sebelum Kairo).[4]

'Amr bin al-'Ash menulis untuk mereka surat keamanan: "Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Ini adalah apa yang diberikan 'Amr bin al-'Ash kepada penduduk Mesir berupa keamanan atas diri mereka, agama mereka, harta mereka, gereja mereka, salib mereka, daratan mereka dan lautan mereka. Tidak akan masuk kepada mereka sesuatupun dari hal itu dan tidak akan dikurangi, dan tidak akan mendiami mereka orang-orang Nubah. Atas penduduk Mesir untuk memberikan jizyah ketika mereka berkumpul atas perdamaian ini, dan ketika sungai mereka mencapai kenaikan maksimal, lima puluh ribu ribu (lima puluh juta). Atas mereka apa yang diperbuat oleh penjahat mereka. Jika ada seorang dari mereka yang menolak untuk menerima, maka dikurangkan dari jizyah sesuai jumlah mereka, dan jaminan kami lepas dari orang yang menolak. Jika sungai mereka berkurang dari batas maksimalnya ketika mencapai puncak, maka dikurangkan dari mereka seukuran itu. Barangsiapa masuk dalam perdamaian mereka dari orang-orang Romawi dan Nubah, maka baginya seperti apa yang untuk mereka dan atasnya seperti apa yang atas mereka. Barangsiapa menolak dan memilih untuk pergi, maka ia aman hingga ia sampai ke tempat amannya atau keluar dari kekuasaan kami. Atas mereka apa yang atas mereka, sepertiga-sepertiga, dalam setiap sepertiga pengumpulan sepertiga dari apa yang atas mereka. Atas apa yang ada dalam surat ini adalah jaminan Allah, jaminan rasul-Nya, jaminan Khalifah Amirul Mukminin, dan jaminan kaum mukminin. Atas orang-orang Nubah yang menerima untuk membantu dengan sekian-sekian orang, dan sekian-sekian kuda, dengan syarat mereka tidak diperangi, dan tidak dicegah dari perdagangan keluar maupun masuk." Menjadi saksi az-Zubair dan Abdullah serta Muhammad kedua anaknya, ditulis oleh Wardan dan ia hadir.[5]

Dampaknya

250px-Obelisk-SesostrisI-Heliopolis.JPG?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Obelisk di Heliopolis Mesir.

Selanjutnya pasukan Amr bergerak menuju Babilonia. Penduduknya yang mayoritas Kristen Koptik membuat perjanjian damai dengan muslimin, lalu Amru mendirikan kota Fustat (sebelum Kairo).[6] Maka seluruh penduduk Mesir di sekitar Fustat (Heliopolis) menerima perdamaian. Abu Maryam dan Abu Mariam (pendeta koptik) muncul lalu berbicara mengenai tawanan yang diambil setelah pertempuran, namun 'Amr menolak untuk mengembalikannya kepada mereka, dan memerintahkan untuk mengusir keduanya dan mengeluarkannya dari hadapannya. Ketika hal itu sampai kepada Umar bin al-Khaththab, ia memerintahkan agar setiap tawanan yang diambil dalam lima hari yang mereka beri keamanan kepada mereka untuk dikembalikan kepada mereka, dan setiap tawanan yang diambil dari orang yang tidak berperang demikian juga dari yang berperang, maka tidak dikembalikan tawanan mereka. Dikatakan sesungguhnya ia memerintahkannya agar mereka memberi pilihan kepada tawanan yang ada di tangan mereka antara Islam atau kembali kepada keluarganya. Barangsiapa memilih Islam maka jangan mengembalikannya kepada mereka, dan barangsiapa memilih mereka dikembalikan kepada mereka dan diambil darinya jizyah. Adapun tawanan mereka yang tersebar di berbagai negeri dan sampai ke Haramain (Makkah dan Madinah) dan lainnya, maka tidak mungkin mengembalikan mereka. Maka 'Amr melakukan apa yang diperintahkan oleh Umar, mengumpulkan tawanan dan menawarkan pilihan kepada mereka. Di antara mereka ada yang memilih Islam, dan di antara mereka ada yang kembali kepada agamanya. Maka terjalinlah perdamaian antara mereka.[5]

Meskipun ada beberapa pertempuran besar setelah pertempuran ini, pertempuran ini secara efektif menentukan nasib kekuasaan Bizantium di Mesir, dan membuka pintu bagi penaklukan Muslim atas Kekuasaan Bizantium di Afrika Utara.[7]

Referensi

  1. ↑ Dzahabi, Imam (2017). Terjemah Siyar A'lam an-Nubala. Jakarta: Pustaka Azzam. ISBN 978-602-236-270-8
  2. 1 2 3 Hasan, Dr. Hasan Ibrahim (2018). Amr bin Ash: Panglima Pembebas Mesir. Solo: Tinta Medina. ISBN 978-623-7011-22-4
  3. ↑ Harsono, Yulian. Sejarah Penaklukan-Penaklukan Muslim yang Mengubah Wajah Dunia. DIVA PRESS. hlm. 79. ISBN 978-623-189-646-9.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  4. ↑ Murrad, Mustafa (2009-05-01). Kisah Hidup Umar ibn Khattab. Serambi Ilmu Semesta. hlm. 133. ISBN 978-979-024-065-0.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  5. 1 2 277. Al Bidayah Wa An Nihayah 09. hlm. 72.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  6. ↑ Murrad, Mustafa (2009-05-01). Kisah Hidup Umar ibn Khattab. Serambi Ilmu Semesta. hlm. 133. ISBN 978-979-024-065-0.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  7. ↑ Katsir, Ibnu (2012). Terjemah Al Bidayah wa an-Nihayah. Jakarta: Pustaka Azzam. ISBN 978-602-236-044-5
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan