Jumat, 30 Oktober 2026
04:07 WIB
TERKINI
Lampung Barat Pesan Bupati Lambar: Patriotik, Gigih, dan Berempati Kunci Masa Depan Bangsa Bandar Lampung 343 Polisi Disiagakan Kawal Aksi Sumpah Pemuda 2026 di Bandar Lampung Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Solar Subsidi Terbongkar di Lampung Selatan, Tiga Tersangka Diamankan Bandar Lampung Perpanjangan SIM A/C Kini Lebih Praktis: Cek Jadwal dan Syarat di Bandar Lampung Lampung Selatan Gunung Anak Krakatau: Asap Hitam Viral Bukan Erupsi, Status Tetap Siaga Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Rokok Ilegal Senilai Rp14,85 Miliar Terbongkar di Bakauheni Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare Bandar Lampung BSU 2026 Segera Disalurkan: Rp900 Ribu dan Analisis Pakar Terkait Tantangan Pekerja Bandar Lampung Optimisme Harga Singkong Lampung 2027: Bibit dan Pupuk Kunci Utama Bandar Lampung Krisis Asap dan Ribuan Titik Panas: WALHI Desak Audit Ekologis TNWK Lampung Barat Pesan Bupati Lambar: Patriotik, Gigih, dan Berempati Kunci Masa Depan Bangsa Bandar Lampung 343 Polisi Disiagakan Kawal Aksi Sumpah Pemuda 2026 di Bandar Lampung Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Solar Subsidi Terbongkar di Lampung Selatan, Tiga Tersangka Diamankan Bandar Lampung Perpanjangan SIM A/C Kini Lebih Praktis: Cek Jadwal dan Syarat di Bandar Lampung Lampung Selatan Gunung Anak Krakatau: Asap Hitam Viral Bukan Erupsi, Status Tetap Siaga Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Rokok Ilegal Senilai Rp14,85 Miliar Terbongkar di Bakauheni Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare Bandar Lampung BSU 2026 Segera Disalurkan: Rp900 Ribu dan Analisis Pakar Terkait Tantangan Pekerja Bandar Lampung Optimisme Harga Singkong Lampung 2027: Bibit dan Pupuk Kunci Utama Bandar Lampung Krisis Asap dan Ribuan Titik Panas: WALHI Desak Audit Ekologis TNWK
Pertempuran Firaz

Pertempuran Firaz

pertempuran

Bagikan:
Pertempuran Firaz
Bagian dari ekspansi Islam
330px-Mohammad_adil_rais-Khalid%27s_conquest_of_Iraq.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Tanggalca Januari 634
Lokasi
Mesopotamia (kini Irak)
Hasil Kemenangan Rashidun[1]
Pihak yang terlibat
Kekhalifahan Rasyidin Kekaisaran Sasaniyah
Kekaisaran Bizantium
Pemimpin atau tokoh terkemuka
Khalid bin Walid Hormozd Jadhuyih[2]
Pasukan yang terlibat
Pasukan Rasyidin Pasukan Sasaniyah
Pasukan Bizantium
Kekuatan
~35.000[3][4] 200.000–500.000 (sumber barat)[4]
Korban jiwa dan kerugian
Minimal (sumber sejarawan)[4] 100.000 (sumber sejarawan)[4]

Pertempuran Firaz (bahasa Arab:مَعْرَكَة الْفِرَاض) juga dikenal sebagai Pertempuran Firadh,[5] terjadi sekitar bulan Januari tahun 634 M atau Dzulqoidah 12 H, antara Kekhalifahan Rasyidin dan pasukan gabungan Kekaisaran Sasaniyah dan Kekaisaran Bizantium.[2] Pertempuran ini dimenangkan oleh Rasyidin, menjadi akhir dari invasi pertama Mesopotamia oleh Arab.

Pada akhir tahun 633, kaum Muslim menguasai lembah Eufrat. Di lembah ini, Firaz, di ujung terluar Kekaisaran Persia di perbatasan Suriah (Syam), masih memiliki garnisun Persia. Khalid memutuskan untuk mengusir pasukan Persia dari pos terdepan ini karena khawatir pasukan Persia akan melakukan invasi ulang yang terencana ke wilayah yang telah direbut. Ia berbaris ke Firaz dengan pasukan Muslim setelah Pertempuran Ainut Tamr dan tiba di sana pada minggu pertama bulan Desember 633. Firaz adalah perbatasan antara kekaisaran Persia dan Bizantium, dan garnisun Persia serta Bizantium ditempatkan di sana. Dalam menghadapi pasukan Muslim, garnisun Bizantium memutuskan untuk membantu garnisun Persia.[6]

Khalid memberi musuh pilihan untuk menyeberangi Sungai Eufrat. Segera setelah musuh menyeberangi Sungai Eufrat, Khalid memerintahkan pasukan Muslim untuk bergerak. Pasukan gabungan Persia dan Bizantium menguasai sungai di belakang mereka. Di Firaz, Khalid menerapkan taktik yang sama seperti yang ia terapkan di Mazar. Ketika barisan depan kedua pasukan terlibat dalam pertempuran, Khalid menempatkan musuhnya di kedua sisi dengan bantuan sayap belakangnya. Dengan gerakan cepat, pasukan Muslim bergegas menuju jembatan di sungai, dan berhasil mendudukinya. Dengan demikian, musuh tertahan dalam gerakan menjepit. Khalid memenangkan pertempuran.

Setelah pertempuran ini, Khalid berdiam di al-Firadh selama sepuluh hari, sambil menginstruksikan kepada pasukannya untuk kembali ke Heraat lima hari sebelum berakhirnya bulan Dzulhijjah. Kemudian ia memerintahkan 'Ashim bin Amru agar berjalan terlebih dahulu. Sementara Khalid memerintahkan Syajarah bin al-A'az agar berjalan di tengan. Khalid bergerak ke wilayah Suriah (Syam) untuk membantu Abu Ubaidah bin Jarrah menghadapi Bizantium.[6]

Sumber

  1. ↑ Michael G. Morony, Iraq After the Muslim Conquest, (Gorgias Press, 2005), 225.
  2. 1 2 Parvaneh Pourshariati, Decline and Fall of the Sasanian Empire:The Sasanian-Parthian Confederacy and the Arab Conquest of Iran, (I.B.Tauris, 2008), 201-202.
  3. ↑ Battle of firaz by Fredric p.miller
  4. 1 2 3 4 Abu Ja'far Muhammad ibn Jarir al-Tabari, Tarikh al-Rusul wa al-Muluk (History of the Prophets and Kings), Vol. I, p. 2027
  5. ↑ Takirtakoglou, Konstantinos (2021), Rogers, Clifford J.; France, John; DeVries, Kelly (ed.), "The Battle of Firāḍ: The Day on Which Khālid b. al-Walīd Did [Not] Defeat Both Byzantines and Persians", Journal of Medieval Military History: Volume XIX, Boydell & Brewer, hlm. 1–20, ISBN 978-1-80010-228-6, diakses tanggal 2024-06-16{{citation}}: Pemeliharaan CS1: Parameter work dengan ISBN (link)
  6. 1 2 Katsir, Ibnu (2012). Terjemah Al Bidayah wa an-Nihayah. Jakarta: Pustaka Azzam. ISBN 978-602-236-044-5
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan