| Nama sebelumnya | PT Pertajaya Lubrindo |
|---|---|
| Jenis | Perseroan terbatas |
| IndustrI | Perdagangan |
Wilayah yang dilayani | Indonesia |
Tokoh kunci | Iin Febrian[1] (Direktur Utama) Muhammad Idris Froyoto Sihite[2] (Komisaris Utama) |
| Produk | |
| Merek |
|
| Layanan | Keagenan Bright Gas |
| Pendapatan | Rp 10,702 triliun (2020)[3] |
| Rp 128,204 miliar (2020)[3] | |
| Total aset | Rp 1,837 triliun (2020)[3] |
| Total ekuitas | Rp 1,124 triliun (2020)[3] |
| Pemilik | Pertamina Patra Niaga (99,9996%) Pertamina Pedeve (0,0004%) |
Jumlah karyawan | 6.110 (2020)[3] |
PT Pertamina Retail adalah anak usaha dari Pertamina Patra Niaga yang berbisnis di bidang pengelolaan stasiun pengisian bahan bakar. Hingga akhir tahun 2020, perusahaan ini mengelola 181 unit SPBU Pertamina, 16 unit SPBG Pertamina, dan 451 unit Pertashop (SPBU mini) yang tersebar di seluruh Indonesia.[3]
Sejarah
Perusahaan ini memulai sejarahnya pada bulan Juni 1997 dengan nama PT Pertajaya Lubrindo dengan bisnis di bidang perdagangan pelumas. Pada bulan September 2005, perusahaan ini mengubah namanya menjadi seperti sekarang, dan pada bulan Maret 2006, perusahaan ini mulai berbisnis di bidang pengelolaan SPBU. Pada tahun 2013, perusahaan ini mengakuisisi delapan unit SPBU milik Petronas di Indonesia.[4] Pada tahun 2015, perusahaan ini mulai mengelola sendiri bengkel yang terletak di dalam SPBU miliknya.[5]
Pada tahun 2020, perusahaan ini mulai mendirikan Pertashop, yakni SPBU berukuran kecil untuk memudahkan masyarakat pedesaan dalam membeli bahan bakar yang kualitas dan harganya sama dengan SPBU biasa. Pada tanggal 1 September 2021, Pertamina resmi menyerahkan 99,99996% saham perusahaan ini ke Pertamina Patra Niaga, yang sebelumnya telah ditunjuk sebagai induk dari subholding Komersial & Perdagangan di lingkungan Pertamina.[3][6]
Kontroversi
Oktan Pertamax rendah dan berkontaminan di Kalimantan Timur
Pada masa angkutan Hari Raya Idulfitri tahun 2025, terjadi peristiwa brebet atau mogok massal kendaraan di seluruh Kalimantan Timur (Kaltim), termasuk Samarinda.[7] Pada tanggal 5 Mei 2025, Pemerintah Samarinda melalui Politeknik Negeri Samarinda mengungkap uji laboratorium bahwa BBM Pertamax yang seharusnya beroktan 92 ternyata malah beroktan 86, sampai 91. Kandungan timbal kelewat tinggi yakni 66 PPM, sedangkan 50 PPM saja sudah merupakan indikator yang terlalu besar.[8]
Pertamax juga mengandung air sebanyak 742 PPM, total aromatik 51,16% serta benzen 8,38% v/v. Terdapat pula sedimen logam berat diantaranya timah, rhenium dan timbal. Akibatnya, terbentuk gum atau residu lengket yang merusak sistem bahan bakar kendaraan secara massal di Kaltim.[8]
Hasil uji laboratorium Pertamax tersebut akan diserahkan Pemerintah Samarinda ke kepolisian agar segera dilakukan penindakan.[7] YLKI Kaltim menuntut Pertamina mengganti rugi kerusakan seluruh kendaraan masyarakat Kaltim akibat kasus penipuan ini.[9]
Sementara masyarakat Samarinda yang diwakili 8 korban telah mengajukan gugatan hukum terhadap Pertamina Patra Niaga di Pengadilan Negeri Samarinda.[10]
Referensi
- ↑ "Dewan Direksi". PT Pertamina Retail. Diakses tanggal 8 Desember 2021.
- ↑ "Dewan Komisaris". PT Pertamina Retail. Diakses tanggal 8 Desember 2021.
- 1 2 3 4 5 6 7 "Laporan Tahunan 2020" (PDF). PT Pertamina Retail. Diakses tanggal 8 Desember 2021.
- ↑ Amri, Asnil Bambani (16 Agustus 2013). "Pertamina akuisisi SPBU Petronas di Bandung". Kontan. Diakses tanggal 5 Maret 2025.
- ↑ Supriyanto, Bambang (27 Januari 2014). "Pertamina Retail Swakelola Bright Oli Mart, Gelar Super Promo Sebulan". Bisnis Indonesia. Diakses tanggal 5 Maret 2025.
- ↑ "Sejarah Perusahaan". PT Pertamina Retail. Diakses tanggal 8 Desember 2021.
- 1 2 "Motor Brebet Massal di Samarinda, Andi Harun: Kualitas BBM Yang Rusak". Natmed. Diakses tanggal 6 Mei 2025.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - 1 2 "Pemkot Samarinda Beberkan Temuan BBM Bermasalah: Timbal Tinggi, RON Turun". Disway. Diakses tanggal 6 Mei 2025.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ "YLKI Kaltim Tagih Tanggung Jawab Pertamina, Tanggapi Dugaan BBM Jadi Penyebab Kendaraan Brebet". Radar Tarakan. Diakses tanggal 6 Mei 2025.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ "Sidang Gugatan Korban BBM Bermasalah terhadap Pertamina Patra Niaga Ditunda, Konsumen Desak Penarikan Produk". Kaltim Today. Diakses tanggal 8 Mei 2025.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
Perusahaan stasiun pengisian bahan bakar umum di Indonesia | |
|---|---|
| Beroperasi | |
| Ditutup | |