Selasa, 27 Oktober 2026
10:20 WIB
TERKINI
Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare Bandar Lampung BSU 2026 Segera Disalurkan: Rp900 Ribu dan Analisis Pakar Terkait Tantangan Pekerja Bandar Lampung Optimisme Harga Singkong Lampung 2027: Bibit dan Pupuk Kunci Utama Bandar Lampung Krisis Asap dan Ribuan Titik Panas: WALHI Desak Audit Ekologis TNWK Bandar Lampung Polda Lampung Luncurkan Operasi Patuh Krakatau 2026: 702 Personel Siap Tingkatkan Disiplin Lalu Lintas Bandar Lampung Pembakaran Sampah Diduga Picu Kebakaran Lahan di Panjang Bandar Lampung Bandar Lampung Waspada Hujan Ringan: Prakiraan Cuaca Lampung Sepanjang 24 Oktober 2026 Bandar Lampung Penundaan Pembahasan APBD Lampung 2027: Berkas dan Data Terkini Jadi Kunci Bandar Lampung Fokus Pendidikan dan Ekonomi Desa, Lampung Matangkan APBD 2027 Bandar Lampung Polisi Hadir di Jalanan: Ratusan Makan Siang Gratis Eratkan Hubungan Warga Bandar Lampung Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare Bandar Lampung BSU 2026 Segera Disalurkan: Rp900 Ribu dan Analisis Pakar Terkait Tantangan Pekerja Bandar Lampung Optimisme Harga Singkong Lampung 2027: Bibit dan Pupuk Kunci Utama Bandar Lampung Krisis Asap dan Ribuan Titik Panas: WALHI Desak Audit Ekologis TNWK Bandar Lampung Polda Lampung Luncurkan Operasi Patuh Krakatau 2026: 702 Personel Siap Tingkatkan Disiplin Lalu Lintas Bandar Lampung Pembakaran Sampah Diduga Picu Kebakaran Lahan di Panjang Bandar Lampung Bandar Lampung Waspada Hujan Ringan: Prakiraan Cuaca Lampung Sepanjang 24 Oktober 2026 Bandar Lampung Penundaan Pembahasan APBD Lampung 2027: Berkas dan Data Terkini Jadi Kunci Bandar Lampung Fokus Pendidikan dan Ekonomi Desa, Lampung Matangkan APBD 2027 Bandar Lampung Polisi Hadir di Jalanan: Ratusan Makan Siang Gratis Eratkan Hubungan Warga Bandar Lampung

Perang Rusia-Adighe

artikel daftar Wikimedia

Bagikan:
Perang Rusia-Adighe
Bagian dari Perang Kaukasus
Tanggal1763 – 2 Juni [K.J.: 21 Mei] 1864
Lokasi
Sirkasia, Kaukasus Barat Laut
Hasil Kemenangan Rusia, pengusiran etnis Adighe
Perubahan
wilayah
Sirkasia dikuasai oleh Kekaisaran Rusia
Pihak yang terlibat
Rusia Kekaisaran Rusia 40px-Flag_of_Adygea.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail Sirkasia
40px-Thirdimamateflag.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail Keimaman Kaukasus
Sadzen
Pemimpin atau tokoh terkemuka
Kekaisaran Rusia Katarina II,
Kekaisaran Rusia Tsar Nikolas I,
Kekaisaran Rusia Tsar Alexander I,
Kekaisaran Rusia Tsar Alexander II,
Kekaisaran Rusia Aleksey Yermolov,
Kekaisaran Rusia Mikhail Vorontsov,
Kekaisaran Rusia Aleksandr Baryatinskiy,
Kekaisaran Rusia Nikolai Evdokimov
40px-Flag_of_Adygea.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail Kazbech Tuguzhoko
40px-Flag_of_Adygea.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail Sefer Bey Zanuko
40px-Flag_of_Adygea.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail Jembulat Bolotoko
40px-Thirdimamateflag.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail The Naibs who ruled over Shamil's west
Kekuatan
150.000 – 200.000.[1] 20.000 reguler.[2]
Korban jiwa dan kerugian
Sekitar 500.000[3] orang Adighe diusir ke wilayah Kesultanan Utsmaniyah, dan sebagian kecil ke Persia. Banyak yang mati selama deportasi, tetapi jumlahnya tidak diketahui.[4]

Perang Rusia-Adighe atau Perang Rusia-Sirkasia (1763–1864) adalah peperangan yang terjadi di wilayah Sirkasia di Kaukasus barat laut yang merupakan bagian dari proses penaklukan wilayah Kaukasus oleh Kekaisaran Rusia yang berlangsung selama sekitar 101 tahun (dari masa Tsar Pyotr yang Agung hingga tahun 1864). Sejarawan yang menggunakan istilah "Perang Rusia-Sirkasia" menjadikan tahun 1763 sebagai awal mula peperangan, karena pada tahun tersebut Rusia mulai mendirikan benteng-benteng (termasuk benteng di Mozdok) yang menjadi basis untuk melancarkan penaklukan.[5]

Perang Rusia-Aidghe berakhir setelah para pemimpin Adighe menyatakan sumpah setia pada tanggal 2 Juni [K.J.: 21 Mei] 1864. Kemudian Kesultanan Utsmaniyah menerima orang-orang Adighe yang terusir dari tanah airnya.[5][6] Sebagian kecil mengungsi ke wilayah Persia. Diperkirakan terdapat sekitar 500.000 orang Adighe di dataran tinggi Kaukasus yang dideportasi oleh Rusia pada tahun 1860-an.[3] Banyak di antara mereka yang tewas karena penyakit selama proses deportasi. Sebagian yang tetap setia kepada Rusia menetap di wilayah dataran rendah di tepi kiri Sungai Kuban.

Catatan kaki

  1. ↑ Mackie 1856:291
  2. ↑ Mackie 1856:292
  3. 1 2 King 2008:96
  4. ↑ McCarthy 1995:53, fn. 45
  5. 1 2 Henze 1992
  6. ↑ Shenfield 1999

Daftar pustaka

  • Henze, Paul B. 1992. Circassian resistance to Russia. In Marie Bennigsen Broxup, ed., The North Caucasus Barrier: The Russian Advance Towards The Muslim World. London: C Hurst & Co, 266 pp. (Also New York: St. Martin's Press, 252 pp.) Part of it can be found here Diarsipkan 2007-03-29 di Wayback Machine. Retrieved 11 March 2007.
  • Richmond, Walter (2008). The Northwest Caucasus: Past, Present, Future. Routledge. ISBN 978-0-415-77615-8. Diarsipkan dari asli tanggal 27 September 2007: Chapter 4 (excerpt){{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Postscript (link) Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  • Tsutsiev, Arthur, Atlas of the Ethno-Political History of the Caucasus, 2014


Ikon rintisan

Artikel bertopik sejarah ini adalah sebuah rintisan. Anda dapat membantu Wikipedia dengan mengembangkannya.

Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan