Jumat, 23 Oktober 2026
23:04 WIB
TERKINI
Bandar Lampung Polisi Hadir di Jalanan: Ratusan Makan Siang Gratis Eratkan Hubungan Warga Bandar Lampung Bandar Lampung Ancaman Serius TNBBS: 23 Kasus Pidana Kehutanan Terungkap dalam Satu Dekade Bandar Lampung Penipuan Rekrutmen Honorer Rp20 Juta di Bandar Lampung Berakhir Damai Bandar Lampung Transformasi 40 Tahun FISIP Unila: Dari Prestasi Global hingga Riset Solutif Lampung Bandar Lampung Sinergi Lintas Sektor: TNBBS Perkuat Penegakan Hukum Lingkungan dengan Enam Strategi Bandar Lampung Dorong Gaya Hidup Sehat, Pemkot Bandar Lampung Dukung Jalan Sehat Akbar di Panjang Bandar Lampung Peringatan Petugas Diabaikan, Pemotor Tewas Tertabrak Kereta Babaranjang di Bandar Lampung Lampung Selatan Kolom Abu Anak Krakatau Capai 500 Meter, Warga Lampung Selatan Diimbau Waspada Pesawaran Unila Dampingi Orkes Gambus Al-Anwar: Tradisi Bertemu Teknologi Modern Bandar Lampung Kualitas Udara Bandar Lampung: Kelompok Sensitif Diminta Tetap Waspada Bandar Lampung Polisi Hadir di Jalanan: Ratusan Makan Siang Gratis Eratkan Hubungan Warga Bandar Lampung Bandar Lampung Ancaman Serius TNBBS: 23 Kasus Pidana Kehutanan Terungkap dalam Satu Dekade Bandar Lampung Penipuan Rekrutmen Honorer Rp20 Juta di Bandar Lampung Berakhir Damai Bandar Lampung Transformasi 40 Tahun FISIP Unila: Dari Prestasi Global hingga Riset Solutif Lampung Bandar Lampung Sinergi Lintas Sektor: TNBBS Perkuat Penegakan Hukum Lingkungan dengan Enam Strategi Bandar Lampung Dorong Gaya Hidup Sehat, Pemkot Bandar Lampung Dukung Jalan Sehat Akbar di Panjang Bandar Lampung Peringatan Petugas Diabaikan, Pemotor Tewas Tertabrak Kereta Babaranjang di Bandar Lampung Lampung Selatan Kolom Abu Anak Krakatau Capai 500 Meter, Warga Lampung Selatan Diimbau Waspada Pesawaran Unila Dampingi Orkes Gambus Al-Anwar: Tradisi Bertemu Teknologi Modern Bandar Lampung Kualitas Udara Bandar Lampung: Kelompok Sensitif Diminta Tetap Waspada

Penyakit ketinggian

Bagikan:

Penyakit ketinggian atau dikenal juga dengan altitude sickness merupakan kondisi medis yang disebabkan oleh paparan cepat terhadap ketinggian, di mana kadar oksigen di udara menjadi lebih rendah. Kondisi ini terjadi ketika tubuh belum sempat beradaptasi dengan lingkungan yang memiliki tekanan udara dan kadar oksigen yang lebih rendah dibandingkan permukaan laut.[1][2] Gejala yang muncul dapat berupa sakit kepala, mual, kelelahan, pusing, kesulitan tidur, dan kebingungan.[3]

Penyakit gunung dapat berkembang menjadi bentuk yang lebih berat, yaitu edema paru akibat ketinggian (high-altitude pulmonary edema atau HAPE) dan edema otak akibat ketinggian (high-altitude cerebral edema atau HACE). HAPE ditandai dengan penumpukan cairan di paru-paru yang menyebabkan sesak napas dan batuk, sedangkan HACE melibatkan pembengkakan otak yang dapat menyebabkan disorientasi, gangguan koordinasi, dan, pada kasus berat, kehilangan kesadaran.[1]

Penyakit ini umumnya muncul pada ketinggian di atas 2.500 meter, meskipun pada beberapa orang, gejala dapat timbul pada ketinggian yang lebih rendah.[4] Gejala biasanya berkembang dalam beberapa jam hingga satu hari setelah naik ke ketinggian tertentu. Tingkat keparahan dapat bervariasi tergantung pada kecepatan kenaikan, ketinggian yang dicapai, dan respons individu terhadap ketinggian.[5]

Referensi

  1. 1 2 "Altitude Diseases - Injuries; Poisoning - Merck Manuals Professional Edition". Merck Manuals Professional Edition (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2025-10-08.
  2. ↑ Rose, Stuart R.; Keystone, Jay S. (2006). International travel health guide 2006-2007 (Edisi 13th edition). Philadelphia: Mosby. ISBN 978-0-323-04050-1.{{cite book}}: |edition= memiliki teks tambahan
  3. ↑ Ferri, Fred F. (2016-05-27). Ferri's Clinical Advisor 2017 E-Book: 5 Books in 1 (dalam bahasa Inggris). Elsevier Health Sciences. ISBN 978-0-323-44838-3.
  4. ↑ Simancas-Racines, Daniel; Arevalo-Rodriguez, Ingrid; Osorio, Dimelza; Franco, Juan VA; Xu, Yihan; Hidalgo, Ricardo (2018-06-30). Cochrane Emergency and Critical Care Group (ed.). "Interventions for treating acute high altitude illness". Cochrane Database of Systematic Reviews (dalam bahasa Inggris). 2018 (12). doi:10.1002/14651858.CD009567.pub2.
  5. ↑ Meier, David; Collet, Tinh-Hai; Locatelli, Isabella; Cornuz, Jacques; Kayser, Bengt; Simel, David L.; Sartori, Claudio (2017-11-14). "Does This Patient Have Acute Mountain Sickness?: The Rational Clinical Examination Systematic Review". JAMA (dalam bahasa Inggris). 318 (18): 1810. doi:10.1001/jama.2017.16192. ISSN 0098-7484.
Ikon rintisan

Artikel bertopik kedokteran atau medis ini adalah sebuah rintisan. Anda dapat membantu Wikipedia dengan mengembangkannya.

Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan