Selasa, 03 November 2026
15:19 WIB
TERKINI
Bandar Lampung Senator Bustami Zainudin dan Staf DPD Lampung Ikuti Program Cek Kesehatan Gratis Bandar Lampung Padatnya Agenda Pemprov Lampung 2 November 2026: Dari Apel Hingga Forum Ekonomi Bandar Lampung Imigrasi Lampung Ungkap Modus Kawin Pesanan, Empat WNA China Diamankan di Pesawaran Lampung Barat Pesan Bupati Lambar: Patriotik, Gigih, dan Berempati Kunci Masa Depan Bangsa Bandar Lampung 343 Polisi Disiagakan Kawal Aksi Sumpah Pemuda 2026 di Bandar Lampung Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Solar Subsidi Terbongkar di Lampung Selatan, Tiga Tersangka Diamankan Bandar Lampung Perpanjangan SIM A/C Kini Lebih Praktis: Cek Jadwal dan Syarat di Bandar Lampung Lampung Selatan Gunung Anak Krakatau: Asap Hitam Viral Bukan Erupsi, Status Tetap Siaga Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Rokok Ilegal Senilai Rp14,85 Miliar Terbongkar di Bakauheni Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare Bandar Lampung Senator Bustami Zainudin dan Staf DPD Lampung Ikuti Program Cek Kesehatan Gratis Bandar Lampung Padatnya Agenda Pemprov Lampung 2 November 2026: Dari Apel Hingga Forum Ekonomi Bandar Lampung Imigrasi Lampung Ungkap Modus Kawin Pesanan, Empat WNA China Diamankan di Pesawaran Lampung Barat Pesan Bupati Lambar: Patriotik, Gigih, dan Berempati Kunci Masa Depan Bangsa Bandar Lampung 343 Polisi Disiagakan Kawal Aksi Sumpah Pemuda 2026 di Bandar Lampung Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Solar Subsidi Terbongkar di Lampung Selatan, Tiga Tersangka Diamankan Bandar Lampung Perpanjangan SIM A/C Kini Lebih Praktis: Cek Jadwal dan Syarat di Bandar Lampung Lampung Selatan Gunung Anak Krakatau: Asap Hitam Viral Bukan Erupsi, Status Tetap Siaga Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Rokok Ilegal Senilai Rp14,85 Miliar Terbongkar di Bakauheni Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare
Pendidikan di Bhutan

Pendidikan di Bhutan

Bagikan:
250px-Bhutan_-_Buddhist_monk_school_%284%29.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Sekolah Biksu Buddha di Bhutan

Pendidikan di Bhutan merupakan sistem pendidikan yang dikembangkan oleh pemerintah Bhutan melalui perpaduan antara pendidikan formal modern, pendidikan monastik Buddha, dan pendidikan kejuruan. Sistem pendidikan modern mulai berkembang pada awal abad ke-20 dan mengalami perluasan besar sejak pelaksanaan Rencana Pembangunan Lima Tahun pertama pada 1961. Pendidikan di Bhutan dipengaruhi oleh nilai-nilai kebudayaan setempat dan filosofi pembangunan nasional yang dikenal sebagai Kebahagiaan Nasional Bruto (Gross National Happiness).[1]

Pemerintah Bhutan menyediakan pendidikan dasar secara gratis melalui sekolah-sekolah negeri. Sistem pendidikan formal terdiri atas pendidikan prasekolah, sekolah dasar, sekolah menengah, dan pendidikan tinggi. Bahasa Inggris digunakan sebagai bahasa pengantar utama dalam sebagian besar mata pelajaran, sedangkan Dzongkha diajarkan sebagai bahasa nasional. Di samping pendidikan formal, lembaga-lembaga monastik tetap menyelenggarakan pendidikan keagamaan berdasarkan tradisi Buddhisme Vajrayana.[2]

Sejarah

Pendidikan tradisional dan monastik

Sebelum berkembangnya sistem pendidikan formal modern, pendidikan di Bhutan terutama diselenggarakan melalui lembaga-lembaga keagamaan dan biara Buddha. Pendidikan monastik berperan penting dalam kehidupan intelektual dan keagamaan masyarakat Bhutan selama berabad-abad. Materi pembelajarannya meliputi ajaran Buddha, filsafat, bahasa Tibet klasik, sastra keagamaan, ritual, dan pengetahuan tradisional.[3]

Biara dan lembaga keagamaan menjadi pusat pembelajaran bagi para biksu serta sejumlah masyarakat yang mengikuti pendidikan keagamaan. Pendidikan tersebut memiliki hubungan erat dengan perkembangan kebudayaan, administrasi, dan tradisi intelektual Bhutan. Sistem pendidikan monastik tetap berlangsung hingga masa modern dan berkembang berdampingan dengan pendidikan sekuler.[3]

Awal pendidikan modern

Pendidikan modern di Bhutan mulai diperkenalkan pada awal abad ke-20. Pada 1914, sebuah sekolah modern didirikan di Haa atas prakarsa Gongzim Ugyen Dorji dengan dukungan Raja Ugyen Wangchuck. Pada periode yang sama, sejumlah pelajar Bhutan dikirim ke India untuk memperoleh pendidikan dalam sistem sekolah modern.[4]

Meskipun sekolah modern telah berdiri sejak 1914, pendidikan sekuler belum berkembang secara luas. Pendidikan monastik masih menjadi bentuk pendidikan yang dominan hingga pertengahan abad ke-20. Perubahan yang lebih besar berlangsung setelah Bhutan memulai proses modernisasi dan pembangunan nasional pada dekade 1960-an.[1][5]

Perluasan pendidikan setelah 1961

Pelaksanaan Rencana Pembangunan Lima Tahun pertama pada 1961 menjadi titik penting dalam pengembangan pendidikan modern. Pemerintah mulai membangun sekolah, membentuk administrasi pendidikan, memperluas perekrutan tenaga pengajar, dan mengembangkan kurikulum nasional. Pendidikan dipandang sebagai salah satu instrumen untuk menyediakan sumber daya manusia yang diperlukan dalam proses pembangunan negara.[6]

Pada tahap awal, pengembangan pendidikan modern mendapat dukungan dari luar negeri, khususnya India. Sejumlah guru asing direkrut untuk mengajar, sedangkan bahan ajar dan model kurikulum banyak dipengaruhi oleh sistem pendidikan India. Seiring waktu, Bhutan mengembangkan kurikulum dan lembaga pendidikan nasional sendiri.[4][5]

Sistem pendidikan formal

Pendidikan formal Bhutan berada di bawah tanggung jawab kementerian yang menangani pendidikan, yaitu Ministry of Education and Skills Development. Pemerintah menyelenggarakan sekolah negeri dan mengatur lembaga pendidikan swasta melalui kebijakan dan standar pendidikan nasional.[7]

Pendidikan prasekolah dan dasar

Pendidikan formal dimulai pada tingkat prasekolah (pre-primary atau PP), yang menjadi tahap persiapan sebelum pendidikan sekolah dasar. Pendidikan dasar mencakup kelas PP hingga kelas VI. Pada jenjang ini, siswa mempelajari kemampuan dasar membaca, menulis, berhitung, bahasa, ilmu pengetahuan, dan pengetahuan sosial.[8]

Pendidikan dasar merupakan bagian dari kebijakan pemerintah untuk memperluas akses pendidikan dan meningkatkan tingkat literasi masyarakat. Sekolah-sekolah dasar tersebar di wilayah perkotaan maupun pedesaan, termasuk daerah terpencil yang memiliki tantangan geografis.[6]

Pendidikan menengah

Pendidikan menengah terdiri atas tiga tahap, yaitu:

  • Lower Secondary: kelas VII–VIII.
  • Middle Secondary: kelas IX–X.
  • Higher Secondary: kelas XI–XII.

Pendidikan dasar dan menengah hingga kelas X mencakup sebelas tahun pendidikan, termasuk satu tahun prasekolah. Tahap tersebut dikenal sebagai pendidikan dasar gratis (free basic education). Setelah menyelesaikan kelas X, siswa dapat melanjutkan ke jenjang pendidikan menengah atas, mengikuti pendidikan kejuruan, atau memasuki dunia kerja.[8]

Pendidikan kelas XI dan XII diselenggarakan di sekolah menengah atas negeri maupun swasta. Akses terhadap pendidikan menengah atas negeri juga berkaitan dengan kapasitas sekolah dan kebijakan penerimaan siswa. Pemerintah memperluas kesempatan melanjutkan pendidikan setelah kelas X melalui kebijakan bantuan dan beasiswa.[8]

Pendidikan kejuruan dan teknis

Pendidikan dan pelatihan teknis serta kejuruan (Technical and Vocational Education and Training, TVET) merupakan bagian dari sistem pendidikan Bhutan. Pendidikan ini bertujuan mengembangkan keterampilan praktis yang relevan dengan kebutuhan tenaga kerja dan sektor ekonomi.

Program TVET mencakup pelatihan dalam berbagai bidang, antara lain teknik, konstruksi, perhotelan, pariwisata, teknologi, dan keterampilan industri. Pelatihan diselenggarakan melalui lembaga pendidikan dan pusat pelatihan yang berada di bawah pengawasan pemerintah atau penyelenggara terkait.[9]

Pendidikan tinggi

250px-College_of_Natural_Resources%2C_Royal_University_of_Bhutan-min.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Fakultas Sumber Daya Alam (College of Natural Resources), Royal University of Bhutan

Pendidikan tinggi di Bhutan berkembang seiring dengan meningkatnya kebutuhan terhadap tenaga profesional dan sumber daya manusia terdidik. Salah satu lembaga utama pendidikan tinggi adalah Royal University of Bhutan (RUB), yang didirikan pada 2003. Universitas ini menaungi sejumlah perguruan tinggi dan lembaga pendidikan yang tersebar di berbagai wilayah Bhutan.[10]

Institusi pendidikan tinggi di Bhutan menyelenggarakan program diploma, sarjana, dan pendidikan profesional dalam bidang pendidikan, ilmu pengetahuan, teknologi, bisnis, pertanian, kesehatan, dan bidang lainnya. Selain RUB, terdapat lembaga pendidikan tinggi khusus, termasuk institusi yang berfokus pada pendidikan kedokteran tradisional dan pelatihan profesional.[11]

Kurikulum dan bahasa pengantar

Kurikulum sekolah di Bhutan dikembangkan melalui lembaga pendidikan nasional dan disesuaikan dengan kebijakan pendidikan pemerintah. Mata pelajaran yang diajarkan meliputi bahasa, matematika, ilmu pengetahuan, ilmu sosial, teknologi, seni, dan pendidikan jasmani. Pendidikan juga memasukkan unsur kebudayaan dan nilai-nilai nasional Bhutan.[6]

Bahasa Dzongkha merupakan bahasa nasional Bhutan dan diajarkan di sekolah-sekolah. Bahasa Inggris digunakan sebagai bahasa pengantar utama untuk sebagian besar mata pelajaran dalam sistem pendidikan formal. Penggunaan bahasa Inggris berkaitan dengan sejarah perkembangan pendidikan modern dan hubungan pendidikan Bhutan dengan sistem pendidikan internasional.[2]

Pemerintah juga berupaya mempertahankan bahasa dan kebudayaan nasional melalui pengajaran Dzongkha serta pengembangan materi pembelajaran. Kebijakan pendidikan bahasa turut mempertimbangkan keberadaan bahasa-bahasa lokal yang digunakan oleh masyarakat Bhutan.[2]

Pendidikan dan Kebahagiaan Nasional Bruto

Pendidikan di Bhutan memiliki hubungan dengan filosofi pembangunan nasional yang dikenal sebagai Kebahagiaan Nasional Bruto (Gross National Happiness atau GNH). Filosofi ini menempatkan kesejahteraan masyarakat sebagai salah satu tujuan pembangunan, tidak hanya mengandalkan ukuran pertumbuhan ekonomi.

Dalam bidang pendidikan, pendekatan tersebut mendorong pengembangan kemampuan akademik sekaligus pembentukan karakter, kepedulian sosial, tanggung jawab lingkungan, dan pemahaman kebudayaan. Konsep Educating for Gross National Happiness dikembangkan sebagai pendekatan pendidikan yang mengintegrasikan nilai-nilai GNH ke dalam pembelajaran dan kehidupan sekolah.[12]

Penerapan pendekatan tersebut mencakup kegiatan pembelajaran dan aktivitas sekolah yang mendorong kesadaran lingkungan, kepedulian terhadap sesama, keseimbangan kehidupan, serta pelestarian kebudayaan. Para peneliti juga membahas tantangan dalam menerjemahkan filosofi GNH ke dalam praktik pengajaran dan kurikulum sehari-hari.[1][13]

Pendidikan monastik dan pendidikan keagamaan

Pendidikan monastik tetap menjadi bagian dari kehidupan pendidikan Bhutan. Lembaga-lembaga monastik menyelenggarakan pembelajaran agama Buddha, bahasa Tibet klasik atau Chöke, filsafat, ritual, dan disiplin monastik. Pengelolaan pendidikan monastik berada dalam lingkungan lembaga keagamaan, termasuk Central Monastic Body, dan berbeda dari sistem sekolah formal yang dikelola kementerian pendidikan.[3][14]

Pendidikan monastik dan pendidikan formal modern memiliki tujuan serta struktur yang berbeda. Pendidikan formal lebih berorientasi pada kurikulum akademik dan pengembangan keterampilan umum, sedangkan pendidikan monastik berfokus pada pembelajaran agama dan pembentukan kehidupan keagamaan. Keduanya tetap hidup berdampingan dalam masyarakat Bhutan.[14]

Akses, pemerataan, dan tantangan

Akses pendidikan di wilayah pedesaan

Kondisi geografis Bhutan yang didominasi pegunungan dan permukiman yang tersebar menjadi tantangan dalam penyediaan layanan pendidikan. Jarak antara tempat tinggal dan sekolah, keterbatasan infrastruktur, serta distribusi tenaga pengajar dapat memengaruhi akses pendidikan di wilayah terpencil. Pemerintah berupaya memperluas jaringan sekolah dan meningkatkan kualitas fasilitas pendidikan melalui berbagai program pembangunan.[6]

Pendidikan inklusif

Pendidikan inklusif menjadi salah satu tantangan dalam pengembangan sistem pendidikan Bhutan. Anak-anak penyandang disabilitas menghadapi hambatan dalam mengakses pendidikan umum, termasuk keterbatasan fasilitas yang dapat diakses, bahan pembelajaran yang sesuai, serta dukungan tenaga pendidik.

Evaluasi program pendidikan inklusif dan pendidikan khusus yang diterbitkan UNICEF bersama Kementerian Pendidikan Bhutan pada 2023 menunjukkan bahwa masih terdapat kesenjangan antara kebijakan dan pelaksanaannya. Anak-anak penyandang disabilitas memiliki risiko lebih besar untuk tidak bersekolah atau meninggalkan pendidikan dibandingkan siswa lainnya.[15]

Penelitian dan program yang lebih baru juga menyoroti penggunaan teknologi digital untuk meningkatkan akses terhadap materi pembelajaran bagi siswa penyandang disabilitas. Salah satu inisiatif yang dikaji UNICEF adalah uji coba buku teks digital yang dapat diakses (Accessible Digital Textbooks).[16]

Kualitas tenaga pengajar

Kualitas dan pemerataan tenaga pengajar merupakan aspek penting dalam pengembangan pendidikan Bhutan. Pengembangan profesional guru dilakukan melalui pendidikan prajabatan dan pelatihan berkelanjutan. Namun, penelitian mengenai pendidikan guru di Bhutan menunjukkan masih terdapat tantangan dalam mempersiapkan guru untuk menghadapi kelas multibahasa, kebutuhan pendidikan khusus, dan perbedaan kondisi pembelajaran di sekolah dasar dan menengah.[17]

Statistik pendidikan

Kementerian Pendidikan dan Pengembangan Keterampilan Bhutan menerbitkan laporan tahunan yang memuat data mengenai jumlah sekolah, siswa, guru, pendaftaran siswa, dan indikator pendidikan lainnya. Publikasi tersebut dikenal sebagai Annual Education Statistics dan digunakan sebagai salah satu sumber resmi untuk memantau perkembangan sektor pendidikan.[18]

Data pendidikan Bhutan juga dapat ditelusuri melalui Institut Statistik UNESCO (UNESCO Institute for Statistics), yang mengumpulkan indikator pendidikan untuk perbandingan internasional dan pemantauan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan keempat (SDG 4), yaitu pendidikan berkualitas.[19]

Lihat pula

Referensi

  1. 1 2 3 Schuelka, Matthew J.; Maxwell, Thomas W., ed. (2016). Education in Bhutan: Culture, Schooling, and Gross National Happiness. Springer. doi:10.1007/978-981-10-1649-3.
  2. 1 2 3 "Bhutan: Inclusion – Education Profiles". UNESCO Global Education Monitoring Report. Diakses tanggal 2 November 2026.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  3. 1 2 3 Dukpa, Zangley (2016). "The History and Development of Monastic Education in Bhutan". Dalam Schuelka, Matthew J.; Maxwell, Thomas W. (ed.). Education in Bhutan: Culture, Schooling, and Gross National Happiness. Springer. hlm. 39–55. doi:10.1007/978-981-10-1649-3_3.
  4. 1 2 Robles, Chelsea M. (2016). Education and Society in Bhutan: Tradition and Modernisation. Routledge. doi:10.4324/9781315647333.
  5. 1 2 Namgyel, Singye; Rinchen, Phup (2016). "History and Transition of Secular Education in Bhutan from the Twentieth into the Twenty-First Century". Dalam Schuelka, Matthew J.; Maxwell, Thomas W. (ed.). Education in Bhutan: Culture, Schooling, and Gross National Happiness. Springer. hlm. 57–72.
  6. 1 2 3 4 "Bhutan Education Blueprint 2014–2024: Rethinking Education" (PDF). Ministry of Education, Bhutan. Diakses tanggal 2 November 2026.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  7. ↑ "Ministry of Education and Skills Development". Royal Government of Bhutan. Diakses tanggal 2 November 2026.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  8. 1 2 3 "SDG 4 Audit Report" (PDF). Royal Audit Authority of Bhutan. Diakses tanggal 2 November 2026.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  9. ↑ "TVET Statistics of Bhutan 2025". Ministry of Education and Skills Development. Diakses tanggal 2 November 2026.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  10. ↑ "Royal University of Bhutan". Royal University of Bhutan. Diakses tanggal 2 November 2026.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  11. ↑ Schofield, Janet Ward (2016). "Higher Education in Bhutan: Progress and Challenges". Dalam Schuelka, Matthew J.; Maxwell, Thomas W. (ed.). Education in Bhutan: Culture, Schooling, and Gross National Happiness. Springer. hlm. 73–90. doi:10.1007/978-981-10-1649-3_5.
  12. ↑ Teacher learning in changing professional contexts (2017). "Bhutanese teacher educators and the Educating for GNH initiative". Cogent Education. doi:10.1080/2331186X.2017.1384637.
  13. ↑ Wangdi, Phuntsho (2022). "Unpacking the Impacts of Westernisation on Bhutan's Education Policies: A Call for the Infusion of Core Bhutanese Values in the Education Reform". Chiang Mai University Journal of Natural Sciences. doi:10.12982/CMUJASR.2022.014.
  14. 1 2 Sato, Minako (2025). "The Social Inclusion and Educational Dilemmas of Bhutanese Monasteries". Journal of International Development Studies. 34 (2): 203–216. doi:10.32204/jids.34.2_203.
  15. ↑ "Evaluation of the Inclusive and Special Education Programme in Bhutan". UNICEF Bhutan. 2023. Diakses tanggal 2 November 2026.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  16. ↑ "Using Digital Tools to Enable Inclusive Education in Bhutan: Lessons from the Accessible Digital Textbooks Pilot". UNICEF Office of Research – Innocenti. Diakses tanggal 2 November 2026.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  17. ↑ Sopromadzee, Natia; Thompson, Ian (2025). "A study of teacher quality in Bhutan: issues and challenges for initial teacher education and continuing professional development". Journal of Education for Teaching: 291–317. doi:10.1080/1359866X.2025.2478860.
  18. ↑ "Annual Education Statistics 2024". Ministry of Education and Skills Development. 2025. Diakses tanggal 2 November 2026.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  19. ↑ "World Education Statistics 2025". UNESCO Institute for Statistics. 2025. Diakses tanggal 2 November 2026.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)

Daftar pustaka

  • Robles, Chelsea M. (2016). Education and Society in Bhutan: Tradition and Modernisation. London: Routledge.
  • Schuelka, Matthew J. dan Thomas W. Maxwell (penyunting). (2016). Education in Bhutan: Culture, Schooling, and Gross National Happiness. Singapura: Springer.
  • Dukpa, Zangley. (2016). "The History and Development of Monastic Education in Bhutan". Dalam Schuelka dan Maxwell (penyunting), Education in Bhutan: Culture, Schooling, and Gross National Happiness, hlm. 39–55.
  • Namgyel, Singye dan Phup Rinchen. (2016). "History and Transition of Secular Education in Bhutan from the Twentieth into the Twenty-First Century". Dalam Schuelka dan Maxwell (penyunting), Education in Bhutan: Culture, Schooling, and Gross National Happiness, hlm. 57–72.
  • Schofield, Janet Ward. (2016). "Higher Education in Bhutan: Progress and Challenges". Dalam Schuelka dan Maxwell (penyunting), Education in Bhutan: Culture, Schooling, and Gross National Happiness, hlm. 73–90.

Pranala luar

Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan