Selasa, 20 Oktober 2026
09:33 WIB
TERKINI
Hiburan Wendy Red Velvet Bersiap Comeback Solo November 2026, Janjikan Eksplorasi Vokal Hiburan Eiichiro Oda Ambil Jeda Dua Pekan, One Piece Chapter 1197 Tayang November 2026 Lampung Cuaca Lampung 20 Oktober 2026: Cerah Berawan Dominan, Waspada Hujan Lokal Lampung Tengah Kebakaran Landa TPA Bandarjaya Lampung Tengah, Gas Metan Diduga Pemicu Utama Pesawaran Pesawaran Jadi Pelopor Lampung, Lantik Pengurus Abpednas di 11 Kecamatan Lampung Tengah Asap Tebal TPA Bandar Jaya Picu Tabrakan Beruntun di Tol Trans-Sumatera, Dua Korban Luka Lampung Prakiraan Cuaca Lampung 19 Oktober 2026: Waspada Hujan Malam Hari Lampung Aktivitas Gunung Anak Krakatau Tetap Siaga, Kegempaan Terus Terjadi Universitas Teknokrat Indonesia Mahasiswa Universitas Teknokrat Raih Empat Gelar Bergengsi di Kompetisi Bahasa Inggris Nasional Pesisir Barat Pesisir Barat Jalin Kemitraan Strategis, Dorong Akses Pendidikan Tinggi Terjangkau Hiburan Wendy Red Velvet Bersiap Comeback Solo November 2026, Janjikan Eksplorasi Vokal Hiburan Eiichiro Oda Ambil Jeda Dua Pekan, One Piece Chapter 1197 Tayang November 2026 Lampung Cuaca Lampung 20 Oktober 2026: Cerah Berawan Dominan, Waspada Hujan Lokal Lampung Tengah Kebakaran Landa TPA Bandarjaya Lampung Tengah, Gas Metan Diduga Pemicu Utama Pesawaran Pesawaran Jadi Pelopor Lampung, Lantik Pengurus Abpednas di 11 Kecamatan Lampung Tengah Asap Tebal TPA Bandar Jaya Picu Tabrakan Beruntun di Tol Trans-Sumatera, Dua Korban Luka Lampung Prakiraan Cuaca Lampung 19 Oktober 2026: Waspada Hujan Malam Hari Lampung Aktivitas Gunung Anak Krakatau Tetap Siaga, Kegempaan Terus Terjadi Universitas Teknokrat Indonesia Mahasiswa Universitas Teknokrat Raih Empat Gelar Bergengsi di Kompetisi Bahasa Inggris Nasional Pesisir Barat Pesisir Barat Jalin Kemitraan Strategis, Dorong Akses Pendidikan Tinggi Terjangkau
Pemberontakan PETA Blitar

Pemberontakan PETA Blitar

Bagikan:
Artikel ini membutuhkan lebih banyak rujukan. Mohon bantu kami mengembangkan artikel ini dengan cara menambahkan rujukan ke sumber tepercaya. Pernyataan tak bersumber bisa saja dipertentangkan dan dihapus.
Cari sumber: "Pemberontakan PETA Blitar" – berita · surat kabar · buku · cendekiawan · JSTOR
(November 2017)
Pemberontakan PETA di Blitar
330px-Hukuman_Peta_Blitar.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Pembacaan vonis oleh pengadilan militer Jepang terhadap anggota PETA yang ikut serta dalam pemberontakan Daidan Blitar.
Tanggal14 Februari 1945
Lokasi
Hasil Kemenangan Jepang
Pihak yang terlibat
PETA  Jepang
Pemimpin atau tokoh terkemuka
Soeprijadi (MIA) Kekaisaran Jepang Miyamoto Shizuo[1]
Korban jiwa dan kerugian
78 ditangkap[2]

Pemberontakan PETA di Blitar (bahasa Jawa: ꦥꦺꦩ꧀ꦧꦺꦫꦺꦴꦤ꧀ꦠꦏꦤ꧀ ꦥꦌꦠꦄ ꦧ꧀ꦭꦶꦠꦂ; bahasa Jepang:ブリタールでのPETAの反乱) adalah pemberontakan antipendudukan di Indonesia, yang terjadi pada tanggal 14 Februari 1945 oleh daidan (batalion) PETA di Blitar. Pemberontakan ini dikenal luas sebagai pemberontakan besar pertama tentara lokal Indonesia selama pendudukan Jepang.[3] Pemberontakan berakhir dengan kegagalan; sebagian besar pemberontak menghentikan serangan, ditangkap, dan dibunuh oleh Jepang. Meskipun demikian, pemerintah Indonesia mengakui pemberontakan tersebut sebagai revolusi yang berarti.

Pemberontak dipimpin oleh Soeprijadi, yang menghilang setelah pemberontakan. [4] Pada tahun 1975, Presiden Soeharto mengeluarkan Keputusan Presiden No. 63 tahun 1975 yang secara resmi mengakui Soeprijadi sebagai pahlawan nasional Indonesia.[5]

Sebab & Akibat

Jepang melakukan penindasan politis dengan mengeluarkan maklumat tanggal 20 Maret 1942 yang berisi berbagai larangan.[4] Larangan tersebut muncul atas upaya Jepang untuk menghapus pengaruh barat dalam kehidupan masyarakat Indonesia. [6] Shodancho Soeprijadi merasa prihatin pada nasib rakyat Indonesia, khususnya di Blitar, Jawa Timur yang hidup sengsara dibawah kekuasaan Kekaisaran Jepang selama Perang Dunia II. Penderitaan yang dialami oleh rakyat pribumi karena Kekaisaran Jepang menerapkan kebijakan yang sangat brutal, seperti kerja paksa (romusha), perampasan hasil pertanian, dan perlakuan rasial seperti halnya kekuasaan fasisme di Eropa, perlakuan rasis tersebut juga dialami oleh tentara PETA yang notabene adalah bentukan Jepang.[4] Berdasarkan hal-hal itulah, Soeprijadi kemudian mengkonsolidasikan pasukannya untuk melakukan pemberontakan melawan Tentara Kekaisaran Jepang.[7]

Pemberontakan itu sendiri berhasil membunuh sejumlah tentara Jepang dan pasukan PETA pimpinan Soeprijadi berhasil melarikan diri dengan membawa banyak perlengkapan dan logistik Jepang, seperti senjata Arisaka dan senapan mesin Type 99. Namun, struktur komando Jepang yang tidak mebuatkan PETA memiliki komando terpusat sendiri, melainkan tetap terpusat pada komando Tentara Jepang berhasil mencegah pemberontakan itu menyebar ke ''daidan'' lainnya. Kemudian Jepang akhirnya memutuskan untuk mengirim tentara PETA yang masih setia pada Jepang untuk memburu Soeprijadi dan pengikutnya.[8]

Dalam pemberontakan, Soeprijadi membentuk beberapa tim untuk mengepung pasukan Jepang di Blitar.[6]Tim ini terdiri dari kelompok utara dipimpin oleh Shodancho Sunardjo dan Soeprijadi sedangkan rombongan selatan dipimpin oleh Shodancho Dasrip dan Budancho Imam Badri.[6]

Tentara PETA yang tertangkap kemudian diadili di Jakarta, pusat komando pemerintahan pendudukan Kekaisaran Jepang di Indonesia. Sebanyak 68 orang anggota PETA yang memberontak berhasil ditangkap - 8 orang dihukum mati, 2 orang dibebaskan - sementara Soeprijadi sendiri tidak ditemukan sampai hari ini. Banyak spekulasi beredar tentang keberadaan Soeprijadi, ada yang mengatakan ia ditangkap dan dibunuh di tempat, melarikan diri ke Trenggalek, kota kelahirannya yang letaknya cukup dekat dengan Blitar dan kondisi geografisnya yang memungkinkan Soeprijadi untuk mengasingkan diri dan bersembunyi, atau sebenarnya Soeprijadi telah tewas dalam pertempuran 14 Februari 1945 itu, sampai sekarang tidak ada yang tahu.[9]

Referensi

  1. ↑ Jenkins, David (2009). "Soeharto and the Japanese occupation". Indonesia. 88: 91.
  2. ↑ Ramadhan, Ramadhan (14 Juni 2022). "14 Februari 1945: Peristiwa Pemberontakan Tentara PETA". asumsi.co. Asumsi. Diakses tanggal 18 Juli 2023.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
  3. ↑ Lebra, Joyce (2010). Japanese-trained Armies in Southeast Asia. Institute of Southeast Asian Studies. hlm. 153.
  4. 1 2 3 Bayu Carisma Putra, Y. Supriyadi, YB Yurahman, Emmanuel (2020). "Pengaruh Perlawanan Tentara Peta Blitar Terhadap Usaha untuk Mencapai Kemerdekaan Indonesia". Jurnal Pendidikan dan Penelitian Sejarah. 1 (1): 13–16.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Banyak nama: daftar penulis (link)
  5. ↑ Said, Julinar; Wulandari, Triana (1995). Ensiklopedi Pahlawan Nasional. Direktorat Jendral Kebudayaan. hlm. 52.
  6. 1 2 3 Suriuyatun, Suriuyatun (2009). "Pemberontakan PETA di Blitar" (PDF). Sejarah dan Kebudayaan Islam UINSUKA: 3–5.
  7. ↑ Nino Oktorino, Ensiklopedi Pendudukan Jepang di Indonesia, (Jakarta: Elex Media Computindo, 2013) hal. 14
  8. ↑ Nino Oktorino, Ensiklopedi Pendudukan Jepang di Indonesia, (Jakarta: Elex Media Computindo, 2013) hal. 14 dan 15
  9. ↑ Nino Oktorino, Ensiklopedi Pendudukan Jepang di Indonesia, (Jakarta: Elex Media Computindo, 2013) hal. 15
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan