Minggu, 01 November 2026
06:43 WIB
TERKINI
Lampung Barat Pesan Bupati Lambar: Patriotik, Gigih, dan Berempati Kunci Masa Depan Bangsa Bandar Lampung 343 Polisi Disiagakan Kawal Aksi Sumpah Pemuda 2026 di Bandar Lampung Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Solar Subsidi Terbongkar di Lampung Selatan, Tiga Tersangka Diamankan Bandar Lampung Perpanjangan SIM A/C Kini Lebih Praktis: Cek Jadwal dan Syarat di Bandar Lampung Lampung Selatan Gunung Anak Krakatau: Asap Hitam Viral Bukan Erupsi, Status Tetap Siaga Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Rokok Ilegal Senilai Rp14,85 Miliar Terbongkar di Bakauheni Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare Bandar Lampung BSU 2026 Segera Disalurkan: Rp900 Ribu dan Analisis Pakar Terkait Tantangan Pekerja Bandar Lampung Optimisme Harga Singkong Lampung 2027: Bibit dan Pupuk Kunci Utama Bandar Lampung Krisis Asap dan Ribuan Titik Panas: WALHI Desak Audit Ekologis TNWK Lampung Barat Pesan Bupati Lambar: Patriotik, Gigih, dan Berempati Kunci Masa Depan Bangsa Bandar Lampung 343 Polisi Disiagakan Kawal Aksi Sumpah Pemuda 2026 di Bandar Lampung Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Solar Subsidi Terbongkar di Lampung Selatan, Tiga Tersangka Diamankan Bandar Lampung Perpanjangan SIM A/C Kini Lebih Praktis: Cek Jadwal dan Syarat di Bandar Lampung Lampung Selatan Gunung Anak Krakatau: Asap Hitam Viral Bukan Erupsi, Status Tetap Siaga Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Rokok Ilegal Senilai Rp14,85 Miliar Terbongkar di Bakauheni Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare Bandar Lampung BSU 2026 Segera Disalurkan: Rp900 Ribu dan Analisis Pakar Terkait Tantangan Pekerja Bandar Lampung Optimisme Harga Singkong Lampung 2027: Bibit dan Pupuk Kunci Utama Bandar Lampung Krisis Asap dan Ribuan Titik Panas: WALHI Desak Audit Ekologis TNWK
Pemangsaan biji

Pemangsaan biji

Bagikan:
250px-Aardbei_muizenschade.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Stroberi yang rusak karena biji-bijinya dimakan tikus.

Pemangsaan benih atau granivori adalah sejenis interaksi hewan-tumbuhan yang mana granivor (predator benih) memakan biji-bijian tumbuhan sebagai sumber makanan eksklusif atau utama mereka,[1] yang, pada beberapa kasus, menyebabkan biji-bijian tersebut rusak. Granivor dapat ditemuka pada banyak famili vertebrata (terkhususnya mamalia dan burung) dan invertebrata (terkhususnya serangga);[2] oleh karena itu, pemangsaan biji dapat ditemukan pada semua ekosistem daratan. Pemangsaat biji dapat terbagi menjadi dua kategori, yaitu predasi pra-penyebaran yang memengaruhi kesehatan tumbuhan parental dan pasca-penyebaran, yang memengaruhi anakan yang disebar (biji). Memitigasi pemangsaan kedua jenis dapat melibatkan banyak strategi. Untuk menangkal pemangsaan biji, beberapa tumbuhan telah mengembangkan perlindungan-perlindungan fisik (seperti bentuk dan kekerasan lapisan luar biji) dan kimiawi (metabolit sekunder seperti tanin dan alkaloid). Namun, sebagai respons dari hal ini, predator biji juga telah beradaptasi untuk menangkal perlindungan ini (seperti kemampuan untuk menetralkan racun pada benih). Oleh karena itu, banyak contoh menarik koevolusi muncul dari hubungan ini.

Referensi

  1. ↑ Hulme, P.E. and Benkman, C.W. (2002) "Granivory", pp. 132–154 in Plant animal Interactions: An Evolutionary Approach, ed. C.M. Herrera and O. Pellmyr. Oxford: Blackwell. ISBN978-0-632-05267-7.
  2. ↑ Janzen, D H (1971). "Seed Predation by Animals". Annual Review of Ecology and Systematics. 2: 465–492. doi:10.1146/annurev.es.02.110171.002341.
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan