Pavin Chachavalpongpun ปวิน ชัชวาลพงศ์พันธ์ | |
|---|---|
Pavin pada tahun 2012 | |
| Lahir | 04 Maret 1971 (umur 55) Bangkok, Thailand |
| Dikenal karena | Kritik terhadap Monarki Thailand |
| Latar belakang akademik | |
| Pendidikan | |
| Tesis | Thainess: Hegemony and Power: A Study of Thai Nationhood and Its Implications on Thai-Burmese Relations, 1988–2000 (2002) |
| Karya akademik | |
| Disiplin | Ilmuwan politik |
| Institusi | Universitas Kyoto |
Pavin Chachavalpongpun (Thai: ปวิน ชัชวาลพงศ์พันธ์; RTGS: Pawin Chatchawanphongphan; lahir 4 Maret 1971) adalah seorang akademisi Thailand yang dikenal karena kritiknya terhadap Monarki Thailand. Saat ini ia tinggal di Jepang sebagai bagian dari pengasingan politik. Ia telah mengajar di Pusat Studi Asia Tenggara di Universitas Kyoto sejak tahun 2012.[1]
Karier
Pavin memperoleh gelar sarjananya dari Universitas Chulalongkorn pada tahun 1993 dan gelar doktor dari SOAS pada tahun 2002. Ia sempat bekerja sebagai diplomat di Kementerian Luar Negeri Thailand selama enam belas tahun, sebelum kemudian beralih menjadi akademisi ilmu politik. Saat ini ia menjabat sebagai profesor di Pusat Studi Asia Tenggara, Universitas Kyoto,[2][3] di mana ia juga menjadi pemimpin redaksi untuk jurnal Kyoto Review of Southeast Asia milik pusat studi tersebut.[4] Ia merupakan penulis dari beberapa buku, termasuk A Plastic Nation: The Curse of Thainess in Thai-Burmese Relations (2005), Reinventing Thailand: Thaksin and His Foreign Policy (2010), Coup, King, Crisis: A Critical Interregnum in Thailand (2020), serta Rama X: The Thai Monarchy under King Vajiralongkorn (2023), yang telah dilarang oleh kepolisian Thailand bahkan sebelum buku tersebut resmi diterbitkan.[5]
Pendidikan
Pavin lulus dengan gelar kehormatan Sarjana Seni (Ilmu Politik) dalam bidang Hubungan Internasional dari Universitas Chulalongkorn pada tahun 1993. Ia kemudian menerima gelar Doktor Filsafat dari SOAS pada tahun 2002.[2]
Kritik terhadap monarki Thailand
Pavin dikenal luas sebagai kritikus vokal terhadap Monarki Thailand dan situasi politik Thailand secara umum. Ia aktif memberikan kuliah umum serta menulis artikel, buku, dan kolom opini untuk berbagai media internasional seperti The Washington Post, The New York Times, dan South China Morning Post.[6][7] Ia mendukung adanya reformasi monarki serta peninjauan kembali terhadap undang-undang lèse-majesté (penghinaan terhadap raja) di negara tersebut. Pada tahun 2011, ia meluncurkan kampanye untuk membebaskan seorang tahanan politik bernama Ah Kong, yang didakwa atas pasal lèse-majesté karena diduga mengirimkan pesan teks berisi hinaan terhadap monarki kepada seseorang yang tidak dikenal.[8]
Setelah peristiwa Kudeta Thailand 2014, pihak junta militer memerintahkannya untuk menyerahkan diri. Namun, Pavin menolak perintah tersebut dan bahkan mengejek surat panggilan itu dengan bertanya apakah ia boleh mengirim anjing Chihuahua peliharaannya saja untuk menemui pemimpin junta, Jenderal Prayut Chan-o-cha.[9][10] Pada 13 Juni 2014, Dewan Nasional untuk Perdamaian and Ketertiban (NCPO) mengeluarkan surat perintah penangkapan terhadap dirinya,[11] dan sejak saat itu ia hidup di pengasingan. Ia kini menetap di Kyoto, Jepang. Pada Juli 2019, ia dilaporkan mengalami serangan fisik di dekat kediamannya, sebuah insiden yang diduga memiliki keterkaitan dengan otoritas Thailand.[6][12]
Pada tahun 2020, ia meluncurkan sebuah grup Facebook bernama "The Royalists Marketplace" sebagai wadah diskusi terbuka untuk mengkritik monarki Thailand secara bebas. Pemerintah Thailand berhasil mendesak pemblokiran akses ke grup tersebut yang saat itu telah mengumpulkan sekitar satu juta anggota, sebuah tindakan yang kemudian coba diajukan banding secara hukum oleh Facebook, Inc.,[13] sementara Pavin sendiri menghadapi tuntutan hukum atas tuduhan kejahatan siber.[14] Sebagai gantinya, ia kemudian mendirikan grup baru bernama "The Royalists Marketplace-Talad Luang".[15][16] Pihak juru bicara Facebook sempat menyatakan, “Permintaan seperti ini tergolong ekstrem, bertentangan dengan hukum hak asasi manusia internasional, dan memberikan efek menakutkan bagi kebebasan berekspresi... Kami berupaya melindungi dan membela hak-hak seluruh pengguna internet dan tengah bersiap untuk menantang permintaan ini secara hukum.”[17]
Referensi
- ↑ "Chachavalpongpun, Pavin | Center for Southeast Asian Studies Kyoto University". kyoto.cseas.kyoto-u.ac.jp (dalam bahasa American English). Diakses tanggal 20 Mei 2025.
- 1 2 Curriculum Vitae Pavin Chachavalpongpun (PDF).
- ↑ "Chachavalpongpun, Pavin". Center for Southeast Asian Studies Kyoto University (dalam bahasa American English). 28 Maret 2018. Diakses tanggal 27 Agustus 2020.
- ↑ "Editorial Committee of the Kyoto Review of Southeast Asia". kyotoreview.org (dalam bahasa American English). Diakses tanggal 27 Agustus 2020.
- ↑ "Pavin's book about monarchy banned in Thailand". Bangkok Post (dalam bahasa Inggris). 8 Juli 2023. Diakses tanggal 20 Mei 2025.
- 1 2 Caryl, Christian. "Opinion | Another Post contributor is under attack — this time from Thailand". Washington Post (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 27 Agustus 2020.
- ↑ "Pavin Chachavalpongpun". South China Morning Post (dalam bahasa Inggris). 29 Januari 2018. Diakses tanggal 27 Agustus 2020.
- ↑ "Thailand's Fearlessness: Free Akong". 2 Desember 2011.
- ↑ Saiyasombut, Saksith (26 Mei 2014). "TIMELINE: Thailand Coup Aftermath 2014 – May 26-28". Asian Correspondent. Diarsipkan dari asli tanggal 31 Mei 2014. Diakses tanggal 10 Juni 2014.
- ↑ "Muzzling Media in Coup-Ed up Thailand". Impact on Net. 3 Juni 2014. Diarsipkan dari asli tanggal 7 Juni 2014. Diakses tanggal 10 Juni 2014.
- ↑ Chachavalpongpun, Pavin (19 Juni 2014). "Thailand junta tries to silence its critics to protect the king". The Washington Post. Diakses tanggal 20 Juni 2014.
- ↑ "Exiled Thai critic attacked with burning chemical at home in Japan". The Japan Times (dalam bahasa American English). 4 Agustus 2019. Diakses tanggal 27 Agustus 2020.
- ↑ "Facebook reportedly plans to sue Thailand's government over its demand that the company block users within the country from accessing a group critical of its king". www.msn.com. Diakses tanggal 27 Agustus 2020.
- ↑ "Thai police arrest activist over monarchy protest". Reuters (dalam bahasa Inggris). 19 Agustus 2020. Diarsipkan dari asli tanggal 19 Agustus 2020. Diakses tanggal 27 Agustus 2020.
- ↑ "รอยัลลิสต์มาร์เก็ตเพลส-ตลาดหลวง". Facebook.com. Diakses tanggal 4 Desember 2021.
- ↑ "Royalist Marketplace returns". Prachatai English (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 27 Agustus 2020.
- ↑ "After block, new Facebook group criticising Thai king gains 500,000 members". Reuters (dalam bahasa Inggris). 25 Agustus 2020. Diakses tanggal 27 Agustus 2020.[pranala nonaktif]