Rabu, 28 Oktober 2026
16:55 WIB
TERKINI
Lampung Barat Pesan Bupati Lambar: Patriotik, Gigih, dan Berempati Kunci Masa Depan Bangsa Bandar Lampung 343 Polisi Disiagakan Kawal Aksi Sumpah Pemuda 2026 di Bandar Lampung Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Solar Subsidi Terbongkar di Lampung Selatan, Tiga Tersangka Diamankan Bandar Lampung Perpanjangan SIM A/C Kini Lebih Praktis: Cek Jadwal dan Syarat di Bandar Lampung Lampung Selatan Gunung Anak Krakatau: Asap Hitam Viral Bukan Erupsi, Status Tetap Siaga Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Rokok Ilegal Senilai Rp14,85 Miliar Terbongkar di Bakauheni Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare Bandar Lampung BSU 2026 Segera Disalurkan: Rp900 Ribu dan Analisis Pakar Terkait Tantangan Pekerja Bandar Lampung Optimisme Harga Singkong Lampung 2027: Bibit dan Pupuk Kunci Utama Bandar Lampung Krisis Asap dan Ribuan Titik Panas: WALHI Desak Audit Ekologis TNWK Lampung Barat Pesan Bupati Lambar: Patriotik, Gigih, dan Berempati Kunci Masa Depan Bangsa Bandar Lampung 343 Polisi Disiagakan Kawal Aksi Sumpah Pemuda 2026 di Bandar Lampung Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Solar Subsidi Terbongkar di Lampung Selatan, Tiga Tersangka Diamankan Bandar Lampung Perpanjangan SIM A/C Kini Lebih Praktis: Cek Jadwal dan Syarat di Bandar Lampung Lampung Selatan Gunung Anak Krakatau: Asap Hitam Viral Bukan Erupsi, Status Tetap Siaga Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Rokok Ilegal Senilai Rp14,85 Miliar Terbongkar di Bakauheni Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare Bandar Lampung BSU 2026 Segera Disalurkan: Rp900 Ribu dan Analisis Pakar Terkait Tantangan Pekerja Bandar Lampung Optimisme Harga Singkong Lampung 2027: Bibit dan Pupuk Kunci Utama Bandar Lampung Krisis Asap dan Ribuan Titik Panas: WALHI Desak Audit Ekologis TNWK
Zaki al-Arsuzi

Zaki al-Arsuzi

Bagikan:
Zakī al-Arsūzī
250px-The_philosopher_Zaki_al-Arsuzi.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
al-Arsuzi sebelum 1939
LahirJuni 1899
Meninggal2 Juli 1968(1968-07-02) (umur 69)
Damaskus, Suriah
Filsafat
EraFilsafat abad ke-20
WilayahFilsafat Timur
Ba'athisme, Nasionalisme Arab
Minat utama
Politik, filsafat, sosiologi, nasionalisme, filologi, sejarah
Gagasan terkenal
Salah satu pendiri Ba'athisme (dengan Aflaq dan al-Bitar), Kejeniusan Bahasa Arab pada Lidahnya

Zakī al-Arsūzī (bahasa Arab: زكي الأرسوزي; Juni 1899, di Latakia – 2 Juli 1968, di Damaskus) adalah seorang filsuf, filologis, sosiolog, sejarawan dan nasionalis Arab. Gagasannya memainkan peran menonjol dalam perkembangan Ba'athisme dan gerakan politiknya. Ia menerbitkan beberapa buku sepanjang masa hidupnya, terutama Kejeniusan Bahasa Arab dalam Lidahnya (1943).

Lahir dalam sebuah keluarga kelas menengah di Latakia, Suriah, al-Arsuzi belajar di Sorbonne, di mana ia menjadi memahami sejarah. Pada 1930, ia pulang ke Suriah, di mana ia menjadi anggota Liga Aksi Nasional (LAN) pada 1933. Pada 1938, ia pindah ke Damaskus karena ketidaksetujuannya dengan kerja partai, dan pada 1939, ia hengkang dari LAN. Di Damaskus, al-Arsuzi mendirikan dan mengepalai sebuah kelompok yang terdiri dari sebagian besar murid sekolah menengah yang sering kali mendiskusikan filsafat, nasionalisme dan sejarah Eropa. Tak lama setelah meninggalkan LAN, al-Arsuzi mendirikan Partai Nasional Arab, sebuah partai nasionalis Arab. Partai tersebut gagal dan, saat ia kembali ke Suriah pada November 1940 setelah singgah lama di Baghdad, al-Arsuzi mendirikan sebuah partai baru, Partai Ba'ath Arab; tetapi, pada 1944, kebanyakan anggotanya hengkang dan bergabung dengan Gerakan Ba'ath Arab pimpinan Michel Aflaq dan Salah al-Din al-Bitar, yang memiliki doktrin yang nyaris identik.

Pada 1947, dua gerakan tersebut digabung, membentuk sebuah Partai Ba'ath Arab tunggal. Di samping penggabungan tersebut, Al-Arsuzi tidak hadir pada konferensi maupun diberi status keanggotaan.

Sepanjang 1940an dan 1950an, al-Arsuzi keluar dari politik dan bekerja sebagai guru. Ia kembali pada perjuangan kekuasaan 1960an dalam Partai Ba'ath antara Aflaq dan al-Bitar di satu sisi dan Salah Jadid dan Hafiz al-Assad di sisi lainnya. Saat Aflaq dan al-Bitar kehilangan kekuasaan dan terpaksa kabur dari Suriah pada 1966, al-Arsuzi menggantikan Aflaq sebagai pakar ideologi utama faksi pimpinan Suriah dari Partai Ba'ath.

Teori-teori Al-Arsuzi tentang masyarakat, bahasa dan nasionalisme, yang secara kolektif merupakan bagian dari pemikiran Ba'athis, menganggap bahwa Negara Arab akan dipersatukan saat bangsa Arab mendirikan kembali identitas Arab yang hilang sepanjang 1000 tahun lampau. Menurut al-Arsuzi, kunci penyatuan Arab adalah melalui bahasa. Kontras dengan bahasa Latin, al-Arsuzi berpendapat bahwa bahasa Arab paling kurang terarbitrari dan paling lebih terintuisif. Di samping jasa-jasanya pada pemikiran Ba'athis, al-Arsuzi jarang disinggung cendekiawan Barat atau Arab. Hal ini diperkuat dengan kenyataan bahwa Sati' al-Husri, seorang nasionalis Arab yang sezaman dengannya, telah memiliki beberapa gagasan serupa dengan al-Arsuzi tetapi lebih dapat mengartikulasikan mereka.

Karya terpilih

  • Kejeniusan Bahasa Arab dalam Lidahnya (diterbitkan pada 1943)
  • Al-Umma al-Arabiyya (Indonesia: Dunia Arab, diterbitkan pada 1958)
  • Mashakiluna al-Qawmiyya (Indonesia: Masalah Nasionalis Kami, diterbitkan pada 1958)

Referensi

Kutipan

Daftar pustaka

Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan