Senin, 19 Oktober 2026
01:42 WIB
TERKINI
Universitas Teknokrat Indonesia Mahasiswa Universitas Teknokrat Raih Empat Gelar Bergengsi di Kompetisi Bahasa Inggris Nasional Pesisir Barat Pesisir Barat Jalin Kemitraan Strategis, Dorong Akses Pendidikan Tinggi Terjangkau Universitas Teknokrat Indonesia Teknokrat dan PMD Pesawaran Bersinergi Wujudkan Desa Digital Berkelanjutan Humaniora Memperkuat Hak Konstitusional Perempuan Adat untuk Kedaulatan Bangsa Pesawaran Lampung Dorong Rantai Pasok Hijau Kakao, Kopi, Lada ke Pasar Global Pesawaran Pengalihan Status Guru PPPK ke Penuh Waktu: DPRD Pesawaran Soroti Isu Penempatan Lampung Timur Gotong Royong Fantastis: Warga Bandar Agung Himpun Rp15 Miliar untuk Jalan Desa Bandar Lampung JNE Lampung Sukses Ubah Komplain Milea Cutting Jadi Kemitraan Strategis Bandar Lampung Jadwal Padat Pemprov Lampung 16 Oktober 2026: Pisah Sambut Kapolda dan Rapat Strategis Bandar Lampung Lampung Waspada: BMKG Deteksi 212 Titik Panas di Sepuluh Kabupaten Universitas Teknokrat Indonesia Mahasiswa Universitas Teknokrat Raih Empat Gelar Bergengsi di Kompetisi Bahasa Inggris Nasional Pesisir Barat Pesisir Barat Jalin Kemitraan Strategis, Dorong Akses Pendidikan Tinggi Terjangkau Universitas Teknokrat Indonesia Teknokrat dan PMD Pesawaran Bersinergi Wujudkan Desa Digital Berkelanjutan Humaniora Memperkuat Hak Konstitusional Perempuan Adat untuk Kedaulatan Bangsa Pesawaran Lampung Dorong Rantai Pasok Hijau Kakao, Kopi, Lada ke Pasar Global Pesawaran Pengalihan Status Guru PPPK ke Penuh Waktu: DPRD Pesawaran Soroti Isu Penempatan Lampung Timur Gotong Royong Fantastis: Warga Bandar Agung Himpun Rp15 Miliar untuk Jalan Desa Bandar Lampung JNE Lampung Sukses Ubah Komplain Milea Cutting Jadi Kemitraan Strategis Bandar Lampung Jadwal Padat Pemprov Lampung 16 Oktober 2026: Pisah Sambut Kapolda dan Rapat Strategis Bandar Lampung Lampung Waspada: BMKG Deteksi 212 Titik Panas di Sepuluh Kabupaten
Pareo

Pareo

Bagikan:
330px-Pareu_haka.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Orang Tahiti memakai pareo

Pareo atau pareu adalah kain persegi panjang berwarna-warni, bermotif bunga-bunga besar yang dililitkan dan ditalikan ke samping atau di pinggang bagian depan. Kain ini dipakai sebagai rok bawah sekaligus pakaian serba guna di Kepulauan Pasifik.[1] Pereo dipakai wanita, dan kadang-kadang pria, populer sejak tahun 1960-an di Polinesia Prancis dan kepulauan lain di Pasifik yang berkaitan dengan Prancis,[2] Di Samoa, kain serupa disebut lavalava.

Bila dililitkan hingga ke dada dan ditalikan di belakang leher, maka pareo berfungsi sebagai gaun. Ukuran kain lebar kira-kira 100 cm, panjang kira-kira 200 cm. Pareu sebenarnya adalah penemuan abad modern, karena di Polinesia tidak mengenal kain hasil tenunan sebelum tibanya penjelajah Eropa tiba di tempat ini. Tidak ada hewan mamalia yang dapat diambil bulunya atau bahan pengganti kapas.[3]

Sebelum terjadi kontak dengan penjelajah Eropa, pria mengenakan cawat yang disebut hami, sementara wanita mengenakan kain pinggang yang disebut ka'eu. Keduanya dibuat dari tapa (kulit kayu yang dipukul-pukul hingga tipis).[4]

  • Wanita mengenakan pareo (1887)
    Wanita mengenakan pareo (1887)

Lihat pula

Referensi

  1. ↑ Hunt, Errol (2003). Rarotonga & the Cook Island. Lonely Planet. hlm. 82. Diakses tanggal 2012-06-28.
  2. ↑ Cumming, Valerie (2010). The Dictionary of Fashion History. Berg. hlm. 150. Diakses tanggal 2012-06-29.{{cite book}}: Parameter tidak dikenal |coauthors= diabaikan (|author= disarankan)
  3. ↑ Islands Magazine, 1996 Sep-Oct
  4. ↑ Ember, Melvin (2003). Encyclopedia of Sex and Gender: Men and Women in the World's Cultures. Gale. hlm. 636.{{cite book}}: |access-date= memerlukan |url=; Parameter tidak dikenal |coauthors= diabaikan (|author= disarankan)
Ikon rintisan

Artikel bertopik pakaian ini adalah sebuah rintisan. Anda dapat membantu Wikipedia dengan mengembangkannya.

Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan