Rabu, 21 Oktober 2026
11:49 WIB
TERKINI
Pemprov Lampung Kolaborasi Pemprov Padamkan Kebakaran TPA Bandarjaya, Tol Bakter Terganggu Asap Tebal Bandar Lampung Lampung Agendakan Beragam Rapat Penting, Revitalisasi Stadion Pahoman Jadi Sorotan Utama Lampung Selatan Kulkas Bekas Raib, Tiga Pria di Lampung Selatan Terancam Tujuh Tahun Penjara Hiburan Wendy Red Velvet Bersiap Comeback Solo November 2026, Janjikan Eksplorasi Vokal Hiburan Eiichiro Oda Ambil Jeda Dua Pekan, One Piece Chapter 1197 Tayang November 2026 Lampung Cuaca Lampung 20 Oktober 2026: Cerah Berawan Dominan, Waspada Hujan Lokal Lampung Tengah Kebakaran Landa TPA Bandarjaya Lampung Tengah, Gas Metan Diduga Pemicu Utama Pesawaran Pesawaran Jadi Pelopor Lampung, Lantik Pengurus Abpednas di 11 Kecamatan Lampung Tengah Asap Tebal TPA Bandar Jaya Picu Tabrakan Beruntun di Tol Trans-Sumatera, Dua Korban Luka Lampung Prakiraan Cuaca Lampung 19 Oktober 2026: Waspada Hujan Malam Hari Pemprov Lampung Kolaborasi Pemprov Padamkan Kebakaran TPA Bandarjaya, Tol Bakter Terganggu Asap Tebal Bandar Lampung Lampung Agendakan Beragam Rapat Penting, Revitalisasi Stadion Pahoman Jadi Sorotan Utama Lampung Selatan Kulkas Bekas Raib, Tiga Pria di Lampung Selatan Terancam Tujuh Tahun Penjara Hiburan Wendy Red Velvet Bersiap Comeback Solo November 2026, Janjikan Eksplorasi Vokal Hiburan Eiichiro Oda Ambil Jeda Dua Pekan, One Piece Chapter 1197 Tayang November 2026 Lampung Cuaca Lampung 20 Oktober 2026: Cerah Berawan Dominan, Waspada Hujan Lokal Lampung Tengah Kebakaran Landa TPA Bandarjaya Lampung Tengah, Gas Metan Diduga Pemicu Utama Pesawaran Pesawaran Jadi Pelopor Lampung, Lantik Pengurus Abpednas di 11 Kecamatan Lampung Tengah Asap Tebal TPA Bandar Jaya Picu Tabrakan Beruntun di Tol Trans-Sumatera, Dua Korban Luka Lampung Prakiraan Cuaca Lampung 19 Oktober 2026: Waspada Hujan Malam Hari

Phang Tjin Nio

Bagikan:
Artikel ini memiliki beberapa masalah. Tolong bantu memperbaikinya atau diskusikan masalah-masalah ini di halaman pembicaraannya. (Pelajari bagaimana dan kapan saat yang tepat untuk menghapus templat pesan ini)
Artikel ini membutuhkan lebih banyak rujukan. Mohon bantu kami mengembangkan artikel ini dengan cara menambahkan rujukan ke sumber tepercaya. Pernyataan tak bersumber bisa saja dipertentangkan dan dihapus.
Cari sumber: "Phang Tjin Nio" – berita · surat kabar · buku · cendekiawan · JSTOR
(April 2025)
60px-Question_book-new.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Artikel ini tidak memiliki referensi atau sumber tepercaya sehingga isinya tidak bisa dipastikan. Tolong bantu perbaiki artikel ini dengan menambahkan referensi yang layak. Tulisan tanpa sumber dapat dipertanyakan dan dihapus sewaktu-waktu.
Cari sumber: "Phang Tjin Nio" – berita · surat kabar · buku · cendekiawan · JSTOR
(Pelajari cara dan kapan saatnya untuk menghapus pesan templat ini)
40px-Crystal_Clear_app_kedit.svg.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Artikel ini perlu ditulis ulang agar memenuhi standar Wikipedia. Silakan membantu. Ada saran di halaman pembicaraan. (Juni 2024)
Pang Tjin Nio
Lahir
Pang Tjin Nio

( 1926-01-12)12 Januari 1926
Meninggal26 Januari 2014(2014-01-26) (umur 88)
Sewan, Tangerang, Banten, Indonesia
Nama lainMasnah
Pekerjaan
Masa aktif1940 - 2014
Pasangan menikahOen Oen Hok (w.1994)
Orang tuaPang An Tjong (ayah)

Maestro Gambang Kromong Klasik Pang Tjin Nio atau Encim Masnah (12 Januari 1926 – 26 Januari 2014) adalah penyanyi dan penari cokek tiga zaman. Ia mulai menyanyi dan penari cokek sejak berusia 14 tahun. Ia adalah satu dari dua wayang cokek yang menguasai Gambang Kromong klasik (Lagu Dalem). Ia berguru pada Encek Tek Kho (pimpinan Gambang Kromong Irama Persatuan di Pecah Kulit-Jakarta) sebelum terjun dalam dunia Gambang Kromong. Masnah pernah pula bermain lenong.

Disekitar tahun 1960an hanya ada beberapa penyanyi gambang kromong klasik spesialis lagu dalem selain Pang Tjin Nio seperti, Lim Ating, Pak Dompet, Tan Win Nio, Leni, dan Anah. Yang paling terkenal hanya Pang Tjin Nio dan Lim Ating.

Kehidupan awal

Pang Tjin Nio Maestro lagu klasik Gambang Kromong yang pernah menjadi primadona pada tahun 1960-an ini dilahirkan di Banten, 1926. Berasal dari keluarga peranakan Tionghoa. Ibunya orang Indonesia asli berasal dari Mauk, sebuah daerah pinggir pantai utara Tangerang, provinsi Banten, sedangkan ayahnya orang Tionghoa (Pang An Tjong). Memiliki nama asli Pang Tjin Nio, sedangkan nama Masnah sendiri merupakan panggilan dari orang. Nama tersebut dilengkapi dengan “encim” di depannya, yang merupakan panggilan umum perempuan peranakan Tionghoa.[1]

Dilahirkan sebagai anak tunggal. Ibunya seorang penyanyi gambang kromong. Masnah yang tak sempat kenal ayahnya kemudian dinikahkan oleh ibunya dalam usia yang masih sangat muda. Pada usia 14 tahun, ia sudah menikah enam kali. Suaminya yang keenam, Kim Siu, juga tak berumur panjang. Ia semakin terpukul ketika ibunya dan anak satu-satunya meninggal dunia.

Karier sebagai seniman Gambang Kromong

Awal mula mengenal Gambang Kromong adalah ketika ia diajak temannya menonton Gambang Kromong. Salah seorang pemusik, Oen Oen Hok, yang kemudian menjadi suaminya, mengajaknya ikut tampil di panggung. Berbekal bakat menyanyi yang menurun dari ibunya, dalam tempo singkat ia mampu menghafal semua lagu klasik Betawi. Kemampuan menyanyinya juga diasah oleh seniman gambang kromong tenar pada masa itu, Tek Kho. Sejak saat itu ia menjadi penyanyi gambang kromong yang beredar dari satu panggung ke panggung yang lain bersama Gambang Kromong Irama Masa pimpinan suaminya Oen Oen Hok.

Di tahun 1960-an Encim Masnah sangat aktif tampil di panggung. Pada masa itu penyanyi Gambang Kromong hanya sedikit, sehingga namanya cepat dikenal di Jakarta dan Banten. Kesuksesannya tersebut sampai bisa membuatnya membeli sebuah rumah. Kariernya sempat terhenti pada tahun 1980-an karena larangan dari pemerintah, dan baru tampil kembali pada tahun 1990-an. Pada masa kepopulerannya ia bebas mengikuti kelompok mana pun yang mau menanggapnya, berbeda dengan sekarang. Ia tak mematok harga, di mana bayaran menyanyi tiga lagu dapat mencapati Rp. 1 juta lebih ditambah hasil saweran.

Encim Masnah ternyata pernah masuk "dapur rekaman". Adalah Smithsonian Institute dari Amerika Serikat (Smithsonian Folkways) yang merekam suara Masnah. Kala itu ia menyanyikan lagu klasik Gambang Kromong diiringi oleh suaminya yang terakhir, Oen Oen Hok. Judul albumnya: Music from the Outskirt of Jakarta-Gambang Kromong yang diproduksi pada tahun 1991. Masnah juga pernah manggung di Esplanade, Singapura, selama beberapa hari (18-21 September 2006) diiringi grup Gambang Kromong Sinar Gemilang pimpinan Souw Ong Kian.

Disekitar tahun ±1950an Encim Masnah bersama Suaminya Oen Oen Hok mendirikan grup Gambang Kromong Irama Masa yang berpangkal di Kp. Sewan Kongsi, Neglasari, Kota Tangerang, dan di awal tahun 1980an encim Masnah bersama grup Gambang Kromong Irama Masa banyak mengeluarkan album rekaman kaset diantaranya :

1. Album Kong Ji Lok

2. Album Bunga Siantan Wetan

3. Album Stambul Bujuk

4. Album Cong Bang (Kroncong Gambang)

5. Album Jali-Jali Sewan Kongsi

6. Album Jali-Jali Kampung Nanggul

7. Album Ayam Jago Gaya Baru

8. Album Aneka Stambul

9. Album Hidup di Bui

10. Album Sirih Kuning

11. Album Gunung Payung

12. Album Pecah Piring

13. Album Gambang Jakarta

14. Album Jali-Jali Gusuran

15. Dll.

Kematian

Terakhir, 28 Desember 2007, Pang Tjin Nio mendapat penghargaan dari Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Jero Wacik karena dianggap sebagai sebagai praktisi dan pelestari Gambang Kromong. Di masa tuanya, Encim Masnah menderita asma dan hipertensi. Encim Masnah meninggal dunia pada tanggal 26 Januari 2014.[2]

Penghargaan

  • Diundang menyanyi ke Singapura (2006)
  • Penghargaan sebagai seniman yang setia merawat tradisi dari Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata RI (2007),
  • Penghargaan seniman dan budayawan Provinsi Banten dari Gubernur Banten (2009),
  • Penghargaan dari Lembaga Kebudayaan Betawi (2011),
  • Bentara Budaya Award (2012)
  • HUT PSMTI Awards Ke 25 - Kategori kreativitas seni dan kebudayaan (2023)

Filmografi

Film The Legend of Pang Tjin Nio merupakan film yang didekasikan untuk Maestro Gambang Kromong Pang Tjin Nio (Masnah). Film ini menuturkan perjalanan Sang Maestro, sejak ia mengenal gambang kromong, kiprahnya dari panggung ke panggung, juga sekelumit kehidupan sederhananya di Desa Sewan, Tangerang, Banten. Selain menuturkan kisahnya, Pang Tjin Nio juga memperdengarkan kesahajaan lagu klasik dan lagu sayur (pop) gambang kromong di panggung-panggung hajatan di kalangan Cina Benteng. Selain itu, film juga memperlihatkan keberadaan cokek, tradisi ngibing, sisi buram kesenian akselerasi Cina, Betawi, dan Sunda ini, serta sekilas keberadaan warga Cina Benteng di daerah Tangerang.

Premis yang diusung film ini adalah perjuangan perempuan berusia senja dengan bakat menyanyinya dan sisi lain kehidupan warga Cina Benteng. Dua konsep kunci film ini adalah perjuangan perempuan dan kesederhanaan kaum minoritas bernama Cina Benteng. Ini sekaligus memberikan gambaran tentang feminisme, identitas, sekaligus keberadaan kaum minoritas di negeri ini.

Pranala luar

Referensi

  1. ↑ Nurhan, K., Hastuti, R. S., & Hartono, Y. S. (2008). Maestro seni tradisi. Departemen Kebudayaan dan Pariwisata, Jakarta.
  2. ↑ Darmawan, Ariani. "Selamat Jalan, Cim Masnah…". kineruku. Diakses tanggal 11 April 2019.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan