Artikel ini perlu dikembangkan dari artikel terkait di Wikipedia bahasa Inggris. (Oktober 2024)
klik [tampil] untuk melihat petunjuk sebelum menerjemahkan.
|
| Orang utan kalimantan | |
|---|---|
| Klasifikasi ilmiah | |
| Kerajaan: | Animalia |
| Filum: | Chordata |
| Kelas: | Mammalia |
| Ordo: | Primata |
| Subordo: | Haplorhini |
| Infraordo: | Simiiformes |
| Famili: | Hominidae |
| Genus: | Pongo |
| Spesies: | P. pygmaeus |
| Nama binomial | |
| Pongo pygmaeus | |

Orang utan kalimantan (Pongo pygmaeus) atau juga dikenal dengan nama Kahiu[2] adalah spesies orang utan asli pulau Kalimantan. Bersama dengan orang utan sumatra yang lebih kecil, orang utan kalimantan masuk kedalam genus pongo yang dapat ditemui di Asia. Orang utan kalimantan memiliki lama waktu hidup selama 35 sampai 40 tahun di alam liar, sedangkan di penangkaran dapat mencapai usia 60 tahun.
Habitat
Pada bulan Agustus 2012 Kantor Berita Antara merekam gambar orang utan di Kalimantan Barat yang sedang sekarat menutupi wajahnya dengan luka bakar karena jatuh dari pohon yang dibakar oleh penduduk Desa Parit Wak Dongkak, Wajok Hilir, Kabupaten Pontianak, Kalbar, dalam upaya mereka mengusir satwa langka yang dilindungi tersebut dari kebun mereka.[3]
Riwayat pengamatan Wallace
Orang utan di bagian barat laut Kalimantan menjadi salah satu objek pengamatan Alfred Russel Wallace selama tinggal di Sarawak pada 1854–1856. Dalam The Malay Archipelago, ia menggunakan nama setempat mias dan membahas pengamatan di kawasan Simunjan serta anak-anak sungainya. Catatannya meliputi lingkungan tempat hidup, pergerakan di pepohonan, makanan, sarang, variasi bentuk tubuh, dan pengumpulan kulit serta kerangka. Uraian tersebut merupakan catatan sejarah alam abad ke-19 berdasarkan hewan yang dijumpai, spesimen yang diperiksa, dan keterangan penduduk yang dicatatnya.[4]
Pengamatan di kawasan Simunjan
Wallace tiba di Sarawak pada November 1854 dan meninggalkannya pada Januari 1856. Setelah beberapa bulan mengunjungi kawasan Sungai Sarawak, ia menuju pertambangan batu bara di dekat Sungai Simunjan pada Maret 1855. Simunjan merupakan cabang Sungai Sadong, di sebelah timur kawasan Sarawak yang lebih dahulu dikunjunginya. Lingkungan pertambangan mencakup hutan rawa datar dengan beberapa bukit terpisah. Di tempat itu Wallace membangun rumah kecil dan menggunakan kawasan sekitar sebagai lokasi pengumpulan serangga serta pengamatan orang utan.[1]
Pengamatan orang utan dilakukan ketika Wallace juga mengerjakan koleksi kelompok hewan lain. Pada perjumpaan pertamanya, sekitar satu minggu setelah tiba di pertambangan, ia melihat hewan berambut merah bergerak di pohon dekat tempat tinggalnya. Hewan itu bergantung pada cabang dengan lengannya dan berpindah sampai menghilang di hutan. Wallace tidak dapat mengikutinya karena tanah di bawahnya berawa. Ia sendiri menilai cara bergerak pada perjumpaan itu tidak lazim dibandingkan pergerakan orang utan yang kemudian diamatinya.[4]
Informasi dari penduduk membantu Wallace menemukan orang utan di sekitar tempat tinggal dan pertambangan. Beberapa hewan terlihat ketika mencari makan pada pohon, sedangkan lainnya ditemukan selama perjalanan pengumpulan. Pengambilan spesimen dilakukan dengan menembak hewan, kemudian memperoleh tubuh, kulit, atau kerangkanya. Wallace mencatat bantuan penduduk Dayak, pekerja Tionghoa, dan asistennya dalam pencarian serta pengambilan hewan yang berada di pohon. Keterangan mengenai metode itu menyertai pengukuran dan penyiapan koleksinya.[4]
Hutan rawa dan ketersediaan buah
Dalam rangkuman pengamatannya, Wallace mengaitkan keberadaan orang utan di kawasan Sadong dengan tanah rendah, datar, dan berawa yang masih ditutupi pepohonan tinggi. Bukit-bukit yang muncul di antara rawa memiliki kebun buah milik penduduk. Orang utan datang ke tempat berbuah tersebut untuk makan dan, menurut catatannya, kembali ke lingkungan rawa pada malam hari. Ia membedakan kawasan itu dari lahan yang lebih tinggi dan kering, tempat orang utan tidak lagi dijumpainya dalam perjalanan setempat.[4]
Wallace membandingkan keadaan tersebut dengan lembah Sarawak. Menurut deskripsinya, bagian rendah lembah itu banyak ditumbuhi nipah, sedangkan kawasan yang lebih kering memiliki lahan bergelombang, hutan yang terpisah-pisah, dan pertumbuhan sekunder pada bekas lahan budidaya. Ia mengemukakan bahwa luas serta kesinambungan hutan tinggi dapat membantu menjelaskan perbedaan perjumpaan orang utan antara lembah Sarawak dan kawasan Sadong. Penjelasan itu merupakan dugaan yang disusunnya dari keadaan beberapa lokasi, bukan pemetaan seluruh habitat di Kalimantan.[4]
Hutan yang tajuknya bersambung dianggap Wallace memungkinkan orang utan berpindah tanpa sering turun ke tanah. Sebaliknya, pembukaan lahan dan vegetasi sekunder yang rendah dipandangnya sebagai gangguan terhadap cara bergerak tersebut. Ia juga menafsirkan bukit-bukit berbuah di tengah rawa sebagai tempat yang menyediakan tambahan sumber makanan. Dengan demikian, pembahasannya menghubungkan struktur pepohonan, pembukaan lahan, serta persebaran buah dengan keberadaan hewan yang diamati, dengan tetap menempatkan hubungan itu sebagai penafsiran lapangannya.[4]
Pada perjalanan ke Semabang, Wallace melewati sungai sempit dengan daratan di kedua sisi yang tergenang. Tempat tujuan memiliki bukit dengan banyak pohon buah, termasuk durian dan manggis, tetapi sebagian besar buah belum matang saat ia tiba. Selama beberapa hari pertama ia tidak menemukan orang utan. Pada hari berikutnya ia menjumpai satu individu sedang makan di pohon durian yang tinggi. Pengalaman perjalanan itu menjadi salah satu contoh perjumpaan orang utan pada kawasan berbuah yang dimuat dalam buku.[4]
Pergerakan di pepohonan
Wallace menggambarkan orang utan berjalan pada cabang besar dengan tubuh setengah tegak dan lengan yang relatif panjang dibandingkan tungkainya. Untuk berpindah pohon, hewan memilih bagian tempat cabang dua pohon saling berdekatan. Lengan dijulurkan untuk meraih cabang pohon berikutnya, beberapa ranting digenggam bersama, lalu tubuh dipindahkan ke penopang baru. Ia mengamati gerakan yang tampak teratur dan hati-hati, termasuk pemeriksaan kekuatan cabang sebelum hewan menggantungkan berat badannya.[4]
Pergerakan tidak selalu lambat dalam kaitannya dengan orang yang mengikuti dari bawah. Ketika mengamati tiga orang utan muda bersama asistennya, Wallace harus berlari melalui hutan untuk mempertahankan posisi di dekat hewan yang berpindah antarpohon. Ia mencatat bahwa ranting-ranting kecil dari pohon berdekatan digenggam bersama sebelum hewan bergerak menyeberang. Dalam pembahasannya, kemampuan melintasi tajuk dibedakan dari kesulitan manusia yang harus melewati batu, tumbuhan merambat, dan genangan di permukaan tanah.[4]
Lengan juga digunakan untuk menjangkau buah serta daun muda pada cabang yang tidak dapat menahan seluruh tubuh. Wallace mengaitkan panjang dan kekuatan lengan dengan kemampuan memanjat pohon tinggi, mengambil makanan, serta meraih bahan pembentuk sarang. Ia jarang melihat orang utan turun ke tanah. Salah satu perjumpaan di tanah melibatkan dua individu muda yang berada di cekungan kering dekat bukit Simunjan dan saling memegang lengan. Keterangan tersebut dibedakan dari rangkumannya mengenai pergerakan yang terutama diamati di pohon.[4]
Makanan yang dicatat
Buah merupakan bahan makanan yang paling banyak disebut Wallace, disertai daun, kuncup, dan pucuk muda. Ia mengamati konsumsi buah yang belum matang, termasuk buah dengan rasa masam atau pahit menurut pemeriksaannya. Pada sebagian buah, orang utan mengambil bagian tertentu dan menjatuhkan kulit atau bagian lain. Dalam salah satu perjumpaan pada Juni 1855, seekor jantan memakan buah hijau berbentuk lonjong dan mengambil lapisan merah yang menyelubungi bijinya. Buah serupa juga ditemukan ketika Wallace memeriksa isi lambung spesimen lain.[4]
Durian dibahas sebagai salah satu buah yang dicari orang utan di kawasan pengamatannya. Wallace mencatat hewan makan pada pohon durian dan membuang bagian buah ke tanah. Ia mengemukakan dugaan bahwa kulit berduri dibuka dengan menggigit sebagian duri, membuat lubang, kemudian merobeknya dengan jari. Penjelasan mengenai cara membuka durian tersebut dinyatakan sebagai perkiraannya. Ia juga menyebut bahwa orang utan yang diamatinya tidak melintasi tanah terbuka hanya untuk mencapai pohon durian di sisi lain pembukaan lahan.[4]
Dalam perjalanan melalui daerah berbuah, Wallace memperoleh bantuan penduduk yang mengaitkan orang utan dengan kehilangan hasil kebun. Di Menyille, ia tinggal dekat pohon durian yang sedang berbuah dan kembali mengumpulkan spesimen. Ia menyebut sambutan terhadap kegiatan penembakannya berkaitan dengan anggapan penduduk bahwa orang utan memakan banyak buah mereka. Catatan tersebut memperlihatkan salah satu bentuk hubungan yang dilaporkannya antara pemanfaatan kebun buah dan kegiatan pengumpulan hewan, tanpa menetapkan sikap yang sama bagi seluruh masyarakat Dayak.[4]
Variasi tubuh dan penamaan dalam buku
Wallace membedakan beberapa bentuk orang utan berdasarkan ukuran tubuh dan keadaan bagian sisi wajah. Untuk jantan besar dengan bagian wajah yang melebar, ia mencatat nama Mias Chappan atau Mias Pappan yang digunakan penduduk. Salah satu jantan yang diperiksanya memiliki tinggi sekitar empat kaki dua inci dan rentang lengan lebih dari tujuh kaki. Pengukuran tinggi dilakukan dari puncak kepala ke tumit, sehingga angka tersebut menjelaskan cara pengukuran spesimen, bukan tinggi tubuh dalam posisi alami di pohon.[4]
Di Semabang ia memperoleh jantan dengan gigi yang telah berkembang, tetapi tanpa pelebaran pada sisi wajah seperti individu besar yang sebelumnya dikumpulkan. Ia kemudian memperoleh individu lain dengan keadaan serupa di Menyille. Wallace menghubungkan bentuk yang lebih kecil itu dengan nama Simia morio dan menyebut istilah Mias-kassir. Pembahasan tersebut mengikuti penamaan dan pengelompokan dalam buku; nama-nama itu merupakan bagian dari riwayat deskripsi spesimen yang dibahasnya.[4]
Sejumlah ukuran juga dibahas ketika Wallace memeriksa jantan yang disebutnya sangat tua. Tinggi individu itu sama dengan beberapa jantan lain, tetapi rentang lengan, lebar wajah, dan lingkar tubuhnya lebih besar. Wallace mengemukakan dugaan bahwa beberapa bagian tubuh dapat terus membesar sementara tinggi berdiri berubah lebih sedikit. Kesimpulan tersebut ditulis sebagai penafsirannya atas variasi spesimen dan tidak disertai pengamatan pertumbuhan individu yang sama sepanjang hidupnya.[4]
Catatan kaki
- ↑ IUCN Detail 17975
- ↑ Sugara, Bayu (2021-10-05). "NILAI BUDAYA PALI DAYAK NGAJU (CULTURAL VALUE AS REPRESENTED IN THE PALI OF DAYAK NGAJU)". JURNAL BAHASA, SASTRA, DAN PEMBELAJARANNYA (JBSP) (dalam bahasa American English). 11 (2): 286–300. doi:10.20527/jbsp.v11i2.11724. ISSN 2580-5932.
- ↑ Antara Foto: Evakuasi Orang Utan Sekarat
- 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 Wallace, Alfred Russel (2024). Sejarah Nusantara (The Malay Archipelago): Perjalanan, Penjelajahan, serta Kajian Manusia dan Alam Indonesia. Yogyakarta: Anak Hebat Indonesia. ISBN 978-623-164-492-3.
{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
Lihat pula
Pranala luar
- The Borneo Orangutan Survival Foundation (BOS)
- ARKive - images and movies of the Bornean Orangutan (Pongo pygmaeus) Diarsipkan 2007-09-10 di Wayback Machine
| Pongo pygmaeus |
|
|---|---|
| Simia pygmaeus | |
| Nasional | |
|---|---|
| Lain-lain | |
Artikel bertopik hewan ini adalah sebuah rintisan. Anda dapat membantu Wikipedia dengan mengembangkannya. |