Rabu, 28 Oktober 2026
03:08 WIB
TERKINI
Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare Bandar Lampung BSU 2026 Segera Disalurkan: Rp900 Ribu dan Analisis Pakar Terkait Tantangan Pekerja Bandar Lampung Optimisme Harga Singkong Lampung 2027: Bibit dan Pupuk Kunci Utama Bandar Lampung Krisis Asap dan Ribuan Titik Panas: WALHI Desak Audit Ekologis TNWK Bandar Lampung Polda Lampung Luncurkan Operasi Patuh Krakatau 2026: 702 Personel Siap Tingkatkan Disiplin Lalu Lintas Bandar Lampung Pembakaran Sampah Diduga Picu Kebakaran Lahan di Panjang Bandar Lampung Bandar Lampung Waspada Hujan Ringan: Prakiraan Cuaca Lampung Sepanjang 24 Oktober 2026 Bandar Lampung Penundaan Pembahasan APBD Lampung 2027: Berkas dan Data Terkini Jadi Kunci Bandar Lampung Fokus Pendidikan dan Ekonomi Desa, Lampung Matangkan APBD 2027 Bandar Lampung Polisi Hadir di Jalanan: Ratusan Makan Siang Gratis Eratkan Hubungan Warga Bandar Lampung Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare Bandar Lampung BSU 2026 Segera Disalurkan: Rp900 Ribu dan Analisis Pakar Terkait Tantangan Pekerja Bandar Lampung Optimisme Harga Singkong Lampung 2027: Bibit dan Pupuk Kunci Utama Bandar Lampung Krisis Asap dan Ribuan Titik Panas: WALHI Desak Audit Ekologis TNWK Bandar Lampung Polda Lampung Luncurkan Operasi Patuh Krakatau 2026: 702 Personel Siap Tingkatkan Disiplin Lalu Lintas Bandar Lampung Pembakaran Sampah Diduga Picu Kebakaran Lahan di Panjang Bandar Lampung Bandar Lampung Waspada Hujan Ringan: Prakiraan Cuaca Lampung Sepanjang 24 Oktober 2026 Bandar Lampung Penundaan Pembahasan APBD Lampung 2027: Berkas dan Data Terkini Jadi Kunci Bandar Lampung Fokus Pendidikan dan Ekonomi Desa, Lampung Matangkan APBD 2027 Bandar Lampung Polisi Hadir di Jalanan: Ratusan Makan Siang Gratis Eratkan Hubungan Warga Bandar Lampung
Orang Kuman

Orang Kuman

orang Turkik nomaden

Bagikan:
250px-Asia_1200ad.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Peta yang menunjukkan migrasi suku Kuman pada abad ke-12.

Suku Kuman (bahasa Yunani Pertengahan:Κο(υ)μάνοι, translit. Ko(u)manoi;[1] bahasa Hungaria:kun / plural kunok;[2] Turkik: kuman / plural kumanlar)[3] adalah bangsa Turkik nomaden yang pada pertengahan abad ke-10 bermigrasi dari Mongolia ke arah barat. Berkebalikan dengan bangsa Turki Oğuz (Turkmen/Oğuz), suku Kuman berjalan menuju utara Laut Kaspia lalu ke barat. Keturunan cabang suku Kipchak ini dapat ditemukan di Krim, Turki, Bulgaria, Rumania, Moldavia dan Hungaria. Mereka menuturkan bahasa Kipchak Kuman, yang berhubungan dekat dengan bahasa Kipchak.

Bangsa ini amat istimewa karena mereka amat sedikit mewarisi ciri-ciri wajah khas Mongolia. Sumber-sumber Rusia menyebutkan tentang bangsa Turkik yang memiliki ciri-ciri khusus: rambut pirang (hitam) dan mata biru, tak seperti bangsa Turkik lainnya. Dalam dialek Turki Kipchak, kata Kuman berarti 'pucat'.

Referensi

  1. ↑ Oxford Dictionary of Byzantium, p. 563
  2. ↑ Encyclopædia Britannica Online - Cuman
  3. ↑ Loewenthal, Rudolf (1957). The Turkic Languages and Literatures of Central Asia: A Bibliography. Mouton. Diakses tanggal 2008-03-23.

Pranala luar


Ikon rintisan

Artikel bertopik kelompok etnik ini adalah sebuah rintisan. Anda dapat membantu Wikipedia dengan mengembangkannya.

Ikon rintisan

Artikel bertopik sejarah ini adalah sebuah rintisan. Anda dapat membantu Wikipedia dengan mengembangkannya.

Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan