Sabtu, 24 Oktober 2026
06:01 WIB
TERKINI
Bandar Lampung Polisi Hadir di Jalanan: Ratusan Makan Siang Gratis Eratkan Hubungan Warga Bandar Lampung Bandar Lampung Ancaman Serius TNBBS: 23 Kasus Pidana Kehutanan Terungkap dalam Satu Dekade Bandar Lampung Penipuan Rekrutmen Honorer Rp20 Juta di Bandar Lampung Berakhir Damai Bandar Lampung Transformasi 40 Tahun FISIP Unila: Dari Prestasi Global hingga Riset Solutif Lampung Bandar Lampung Sinergi Lintas Sektor: TNBBS Perkuat Penegakan Hukum Lingkungan dengan Enam Strategi Bandar Lampung Dorong Gaya Hidup Sehat, Pemkot Bandar Lampung Dukung Jalan Sehat Akbar di Panjang Bandar Lampung Peringatan Petugas Diabaikan, Pemotor Tewas Tertabrak Kereta Babaranjang di Bandar Lampung Lampung Selatan Kolom Abu Anak Krakatau Capai 500 Meter, Warga Lampung Selatan Diimbau Waspada Pesawaran Unila Dampingi Orkes Gambus Al-Anwar: Tradisi Bertemu Teknologi Modern Bandar Lampung Kualitas Udara Bandar Lampung: Kelompok Sensitif Diminta Tetap Waspada Bandar Lampung Polisi Hadir di Jalanan: Ratusan Makan Siang Gratis Eratkan Hubungan Warga Bandar Lampung Bandar Lampung Ancaman Serius TNBBS: 23 Kasus Pidana Kehutanan Terungkap dalam Satu Dekade Bandar Lampung Penipuan Rekrutmen Honorer Rp20 Juta di Bandar Lampung Berakhir Damai Bandar Lampung Transformasi 40 Tahun FISIP Unila: Dari Prestasi Global hingga Riset Solutif Lampung Bandar Lampung Sinergi Lintas Sektor: TNBBS Perkuat Penegakan Hukum Lingkungan dengan Enam Strategi Bandar Lampung Dorong Gaya Hidup Sehat, Pemkot Bandar Lampung Dukung Jalan Sehat Akbar di Panjang Bandar Lampung Peringatan Petugas Diabaikan, Pemotor Tewas Tertabrak Kereta Babaranjang di Bandar Lampung Lampung Selatan Kolom Abu Anak Krakatau Capai 500 Meter, Warga Lampung Selatan Diimbau Waspada Pesawaran Unila Dampingi Orkes Gambus Al-Anwar: Tradisi Bertemu Teknologi Modern Bandar Lampung Kualitas Udara Bandar Lampung: Kelompok Sensitif Diminta Tetap Waspada

Oei Tjeng Hien

Bagikan:
Oei Tjeng Hien
Anggota Dewan Perwakilan Rakyat
PresidenSukarno
Daerah pemilihanGolongan Minoritas Tionghoa (1956-1959)
Informasi pribadi
Lahir6 Juni 1905
Meninggal14 Oktober 1988 (umur 83)
MakamTPU Tanah Kusir, Jakarta
Partai politikMasyumi
Suami/istriMaemunah Mukhtar
PekerjaanPolitikus, Pengusaha

Abdul Karim Oei atau Oei Tjeng Hien (6 Juni 1905 – 14 Oktober 1988) adalah perintis ajaran Islam dari etnis Tionghoa-Indonesia.[1] Dia mendirikan organisasi warga etnis Tionghoa Islam yang disebut Persatuan Islam Tionghoa Indonesia (PITI).[2] Ia juga merupakan salah satu tokoh nasional yang memperjuangkan kemerdekaan Indonesia bersama dengan Soekarno dan Buya Hamka.[3] Dalam dunia politik, Abdul Karim Oei juga dikenal sebagai anggota DPR (1956-1959) yang mewakili kaum Tionghoa, ketua partai Masyumi Bengkulu (1946-1960), dan lain sebagainya.[1][4]

Biografi singkat

Abdul Karim Oei dilahirkan di Padang Panjang, Sumatera Barat, pada 6 Juni 1905 dengan nama asli Oei Tjeng Hien.[1][4] Sejak usia 2 bulan, dia menjadi piatu dan dibesarkan oleh kakak iparnya.[4] Pendidikan yang pernah ditempuh Abdul Karim Oei adalah Sekolah Dasar Zaman Belanda dan kursus pedagang.[4] Pada tahun 1926, Karim Oei mulai menjadi pemeluk agama Islam yang saat itu sangat jarang dilakukan oleh warga Tionghoa.[1] Abdul Karim Amrullah (ayah Buya Hamka) lalu memberinya nama Islam "Abdul Karim".[5]

Pada tahun 1967-1974, dia aktif menjabat sebagai Pimpinan Harian Masjid Istiqlal Jakarta, anggota Dewan Penyantun BAKOM PKAB, dan anggota Pengurus MUI Pusat.[2]

Meninggal dunia

Abdul Karim Oei meninggal dunia pada 14 Oktober 1988 di usia 83 tahun.[4] Jenazahnya dimakamkan di Taman Pemakaman Umum Tanah Kusir, berdekatan dengan Maemunah Mukhtar, istrinya yang wafat pada tahun 1984.[4] Dalam rangka mengenang Haji Karim Oei, beberapa tokoh organisasi kemasyarakatan, yaitu NU, Muhammadiyah, KAHMI, Al-Washliyah, ICMI, dan beberapa tokoh muslim Tionghoa mendirikan sebuah Yayasan Haji Karim Oei, sebagai pusat informasi Islam khususnya bagi kalangan etnis Tionghoa pada tahun 1991.[2] Yayasan tersebut mendirikan dan mengelola Masjid Lautze yang terletak di daerah Pecinan Jakarta.[2] Ia dianugerahi secara anumerta Bintang Mahaputera Utama sesuai Keppres No.056/TK/TH. 2005 tanggal 9 Agustus 2005.[6]

Dalam budaya populer

Penghargaan

Pita Penghargaan Negara Tanggal Referensi
PIta_%28Ribbon%29_Bintang_Mahaputera_Utama.png?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail_unscaled Bintang Mahaputera Utama  Indonesia 9 Agustus 2005 [7]

Lihat pula

Referensi

  1. 1 2 3 4 "Nurarni Widiastuti. 2009" (PDF). Diarsipkan dari asli (PDF) tanggal 2011-01-24. Diakses tanggal 2011-07-10.
  2. 1 2 3 4 Adang Darajatun.com Diarsipkan 2010-12-19 di Wayback Machine Masjid Lautze dan Karim Oei Tjeng Hien . 22 Agustus 2009. Diakses pada 9 Juli 2011.
  3. ↑ The Jakarta Post Diarsipkan 2011-01-03 di Wayback Machine Sobrina Rosli. Lautze Mosque a Ramadhan favorite for Chinese Muslims. 10 Mei 2007. Diakses pada 9 Juli 2011.
  4. 1 2 3 4 5 6 "Abdul Karim Oei Pengusaha Anti Rentenir". Kabar Toraja.com. Diarsipkan dari asli tanggal 2011-07-02. Diakses tanggal 9 Juli 2011.
  5. ↑ https://ganaislamika.com/mengenal-abdul-karim-oey-2-masuk-islam/#_ftn13
  6. ↑ "Daftar WNI yang Memperoleh Tanda Kehormatan Bintang Mahaputera Tahun 2004–sekarang" (PDF). Kementerian Sekretariat Negara Republik Indonesia. 7 Januari 2020. Diakses tanggal 2021-12-15.
  7. ↑ "Daftar WNI Yang Memperoleh Tanda Kehormatan Bintang Mahaputera Tahun 2004 - Sekarang" (PDF). Kementerian Sekretariat Negara Republik Indonesia. Diakses tanggal 2022-09-26.


Ikon rintisan

Artikel bertopik biografi politikus Indonesia ini adalah sebuah rintisan. Anda dapat membantu Wikipedia dengan mengembangkannya.

Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan