Minggu, 04 Oktober 2026
21:23 WIB
TERKINI
Lampung Musim Hujan Lampung 2026/2027: BMKG Prediksi Puncak Januari, Awalnya Mundur Cuaca Prakiraan Cuaca Lampung 4 Oktober 2026: Cerah Berawan dengan Potensi Hujan Ringan Hukum Pakar Hukum Unila: Objektivitas Fakta Krusial dalam Kasus Diksar Mahepel Lampung Waspada! 406 Titik Panas Terdeteksi di Lampung, Dua Kabupaten Paling Rawan Ekonomi Dan Bisnis Harga Emas Antam 2 Oktober 2026 Melemah, Buyback Ikut Turun Rp5.000 Hukum Ratusan Keluarga di Lampung Timur Bersatu Lawan Dugaan Mafia Tanah ke Polda Regional Laskar Antasari Tundukkan Mahesa Jenar dalam Laga Sengit Liga 1 Regional Barito Putera Raih Kemenangan Krusial atas PSS Sleman Berita Siswa SMA IT Al Firdaus Juara Lomba Gamolan Pekhing se-Lampung, Lestarikan Budaya Berita Barang Tertinggal di Kereta atau Stasiun? Ini Cara KAI Bantu Mengembalikannya Lampung Musim Hujan Lampung 2026/2027: BMKG Prediksi Puncak Januari, Awalnya Mundur Cuaca Prakiraan Cuaca Lampung 4 Oktober 2026: Cerah Berawan dengan Potensi Hujan Ringan Hukum Pakar Hukum Unila: Objektivitas Fakta Krusial dalam Kasus Diksar Mahepel Lampung Waspada! 406 Titik Panas Terdeteksi di Lampung, Dua Kabupaten Paling Rawan Ekonomi Dan Bisnis Harga Emas Antam 2 Oktober 2026 Melemah, Buyback Ikut Turun Rp5.000 Hukum Ratusan Keluarga di Lampung Timur Bersatu Lawan Dugaan Mafia Tanah ke Polda Regional Laskar Antasari Tundukkan Mahesa Jenar dalam Laga Sengit Liga 1 Regional Barito Putera Raih Kemenangan Krusial atas PSS Sleman Berita Siswa SMA IT Al Firdaus Juara Lomba Gamolan Pekhing se-Lampung, Lestarikan Budaya Berita Barang Tertinggal di Kereta atau Stasiun? Ini Cara KAI Bantu Mengembalikannya
Bintil akar

Bintil akar

Bagikan:
330px-Root-nodule01.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Penampang melintang suatu bintil akar kedelai 'Essex'. Bakteri Bradyrhizobium japonicum menginfeksi akar dan bersimbiosis untuk mengikat nitrogen bebas. Tampak bagian sel dengan satu bakteroid dalam simbiosomnya. Tampak pula retikulum endoplasmik, diktiosom, dan dinding sel.

Bintil akar merupakan tonjolan kecil di akar (kebanyakan adalah anggota Fabaceae) yang terbentuk akibat infeksi bakteri pengikat nitrogen yang bersimbiosis dengan tumbuhan. Kerja sama ini memungkinkan tersedianya nitrogen bagi tumbuhan yang bersimbiosis, khususnya pada keadaan kurangnya ketersediaan nitrogen larut di tanah. Bintil akar biasa ditemukan berkelompok.

Bakteri bintil akar (atau rizobia) digunakan untuk menyebut kelompok bakteri yang menyebabkan pembentukan bintil akar. Kebanyakan mencakup anggota famili Rhizobiaceae (filum Proteobacteria) dan menginfeksi Fabaceae (suku polong-polongan). Selain itu, terdapat pula beberapa simbiosis akar-bakteri serupa yang melibatkan bakteri genus Frankia (filum Actinobacteria) yang bersimbiosis membentuk bintil akar pada tumbuhan selain polong-polongan. Simbiosis semacam ini diketahui berkembang secara evolutif pada Fabaceae dan juga beberapa anggota klad Rosidae lainnya.[1]

Struktur dan pembentukan bintil akar legum

Secara umum, tumbuhan menyerap nitrogen dalam bentuk nitrat (NO3-), nitrit (NO2-), dan amonia (atau ion amonium, NH4+) dari cairan tanah. Bakteri bintil akar membantu tumbuhan untuk mengikat nitrogen bebas (N2, diazo) di udara lalu mereduksi menjadi amonia, untuk kemudian diasimilasi menjadi asam amino (penyusun protein), nukleotida (penyusun DNA dan RNA), dan senyawa-senyawa lain seperti vitamin, flavon, dan fitohormon. Proses ini terjadi di dalam sel-sel bintil akar, tepatnya di simbiosom, suatu ruang khusus dalam sel yang terbebas dari oksigen karena oksigen diikat oleh senyawa mirip myoglobin pada hewan yang disebut leghemoglobin (disebut demikian karena warnanya juga kemerahan). Energi untuk reduksi disediakan oleh malat, sebagai produk langsung pemecahan sukrosa.

250px-Medicago_italica_root_nodules_2.JPG?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Bintil tak terbatas (indeterminate) tumbuh pada akar alfalfa Medicago italica.

Berdasarkan proses perkembangannya, dikenal dua kelompok bintil akar: bintil terbatas (determinate) dan tak terbatas (indeterminate).[2] Bintil berkembang terbatas biasa dijumpai pada tumbuhan polong dari daerah tropika dan subtropika, seperti kedelai, buncis, dan berbagai kara. [3]</ref>== Referensi ==

  1. ↑ Doyle, J. J., & Luckow, M. A. (2003). "The Rest of the Iceberg. Legume Diversity and Evolution in a Phylogenetic Context". Plant Physiology. 131 (3): 900–910. doi:10.1104/pp.102.018150. PMC 1540290. PMID 12644643.{{cite journal}}: Pemeliharaan CS1: Banyak nama: daftar penulis (link)
  2. ↑ Martin Crespi and Susana Gálvez (2000). "Molecular Mechanisms in Root Nodule Development" (PDF). Journal of Plant Growth and Regulation. 19 (2): 155–166. doi:10.1007/s003440000023. PMID 11038225.[pranala nonaktif permanen]
  3. ↑ <ref>


Ikon rintisan

Artikel bertopik botani ini adalah sebuah rintisan. Anda dapat membantu Wikipedia dengan mengembangkannya.

Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan