Selasa, 20 Oktober 2026
16:51 WIB
TERKINI
Pemprov Lampung Kolaborasi Pemprov Padamkan Kebakaran TPA Bandarjaya, Tol Bakter Terganggu Asap Tebal Bandar Lampung Lampung Agendakan Beragam Rapat Penting, Revitalisasi Stadion Pahoman Jadi Sorotan Utama Lampung Selatan Kulkas Bekas Raib, Tiga Pria di Lampung Selatan Terancam Tujuh Tahun Penjara Hiburan Wendy Red Velvet Bersiap Comeback Solo November 2026, Janjikan Eksplorasi Vokal Hiburan Eiichiro Oda Ambil Jeda Dua Pekan, One Piece Chapter 1197 Tayang November 2026 Lampung Cuaca Lampung 20 Oktober 2026: Cerah Berawan Dominan, Waspada Hujan Lokal Lampung Tengah Kebakaran Landa TPA Bandarjaya Lampung Tengah, Gas Metan Diduga Pemicu Utama Pesawaran Pesawaran Jadi Pelopor Lampung, Lantik Pengurus Abpednas di 11 Kecamatan Lampung Tengah Asap Tebal TPA Bandar Jaya Picu Tabrakan Beruntun di Tol Trans-Sumatera, Dua Korban Luka Lampung Prakiraan Cuaca Lampung 19 Oktober 2026: Waspada Hujan Malam Hari Pemprov Lampung Kolaborasi Pemprov Padamkan Kebakaran TPA Bandarjaya, Tol Bakter Terganggu Asap Tebal Bandar Lampung Lampung Agendakan Beragam Rapat Penting, Revitalisasi Stadion Pahoman Jadi Sorotan Utama Lampung Selatan Kulkas Bekas Raib, Tiga Pria di Lampung Selatan Terancam Tujuh Tahun Penjara Hiburan Wendy Red Velvet Bersiap Comeback Solo November 2026, Janjikan Eksplorasi Vokal Hiburan Eiichiro Oda Ambil Jeda Dua Pekan, One Piece Chapter 1197 Tayang November 2026 Lampung Cuaca Lampung 20 Oktober 2026: Cerah Berawan Dominan, Waspada Hujan Lokal Lampung Tengah Kebakaran Landa TPA Bandarjaya Lampung Tengah, Gas Metan Diduga Pemicu Utama Pesawaran Pesawaran Jadi Pelopor Lampung, Lantik Pengurus Abpednas di 11 Kecamatan Lampung Tengah Asap Tebal TPA Bandar Jaya Picu Tabrakan Beruntun di Tol Trans-Sumatera, Dua Korban Luka Lampung Prakiraan Cuaca Lampung 19 Oktober 2026: Waspada Hujan Malam Hari
Nepenthes hamata

Nepenthes hamata

Bagikan:
250px-Nepenthes_hamata10.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Nepenthes hamata

Nepenthes hamata atau Nepenthes dentata adalah jenis tumbuhan pemakan serangga endemik dari Pulau Sulawesi, Indonesia.[1] Nama hamata berasal dari terjemahan bahasa Latin "seperti kait". Tumbuhan ini hidup di dataran tinggi Sulawesi dari ketinggian 1400 hingga 2500 meter.[1]

Ahli botani Pierre Joseph Eyma pertama kali mengumpulkan sampel Nepenthes hamata pada tahun 1938 yang kemudian digunakan sebagai spesimen.[1] Namun, baru sampai tahun 1984 dua deskripsi resmi mengenai Nepenthes hamata diumumkan secara hampir bersamaan oleh Shigeo Kurata serta John R. Turnbull dan Anne T.Middleton. Turnbull dan Middleton menamakanannya Nepenthes hamatus dalam jurnal Reinwardtia, sementara Kurata menamakannya Nepenthes dentata dalam The Garden's Bulletin.[1]

Shigeo Kurata menemukan tanaman ini pertama kali pada tahun 1972 saat sedang melakukan penelitian di Herbarium Bogoriense.[2] Dari koleksi Herbarium Bogoriense, Kurata banyak meneliti material yang kurang diketahui dari pulau-pulau di Indonesia.[2] Saat sedang melihat koleksi Pierre Joseph Eyma, ia tertarik dengan jenis kantong semar dari Sulawesi.[2] Ia kemudian mulai menelitinya supaya bisa dipublikasikan sebagai spesies baru.[2]

Karakteristik paling utama dari Nepenthes hamata adalah peristom-peristomnya yang mengait.[1] Pada bagian bawah, peristom itu berwarna ungu gelap. Tutupnya sering kali memiliki rambut-rambut unik di permukaan yang menghadap ke atas. Peristom menjadi ringan di tubuh bagian atas, sering kali berwarna hijau limau. Dalam beberapa varietas, tubuh tumbuhan ini sesuai warna dengan peristom yang hijau, sementara yang lainnya dihiasi dengan bercak merah atau tanda berwarna ungu.[1] Sebagai tanaman dataran tinggi, Nepenthes hamata membutuhkan temperatur yang rendah di malam hari untuk bisa bertahan hidup.[3] Ketika tingkat kelembapan menurun, ia akan menutup dalam beberapa jam dan membuka kembali ketika kelembapan meningkat.[3]

Referensi

Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan