Sabtu, 26 September 2026
07:02 WIB
TERKINI
Regional Bupati Gowa Sitti Husniah Talenrang Tersangka Pemerasan Perizinan Bangunan dan TPPU Bandar Lampung Puluhan Siswa di Lampung Tengah Diduga Keracunan Makanan Program MBG Account KG Media ID: Satu Akun untuk Kemudahan Akses Seluruh Layanan Digital Ekonomi Dan Bisnis Harga Buyback Emas Antam Anjlok Rp20 Ribu per Gram pada 25 September 2026 Lampung DPRD Lampung Tengah Soroti Perubahan Substansi Perda SOTK Tanpa Pemberitahuan Teknologi Meta Rilis Muse Charm: Gadget Saku Cerdas dengan Asisten AI Revolusioner Berita KAI Siap Gerakkan Rail Clinic ke Pelosok, Perluas Akses Kesehatan Masyarakat Bandar Lampung Inovasi Pendidikan Lampung: Guru Ahli Mengajar Lintas Sekolah Tingkatkan Mutu Nasional Bandar Lampung Tragedi Kelengkeng di Lampung Tengah: Siswa 9 Tahun Meninggal, Program MBG Dievaluasi Account KG Media ID: Satu Akun untuk Seluruh Ekosistem Digital Kompas Gramedia Regional Bupati Gowa Sitti Husniah Talenrang Tersangka Pemerasan Perizinan Bangunan dan TPPU Bandar Lampung Puluhan Siswa di Lampung Tengah Diduga Keracunan Makanan Program MBG Account KG Media ID: Satu Akun untuk Kemudahan Akses Seluruh Layanan Digital Ekonomi Dan Bisnis Harga Buyback Emas Antam Anjlok Rp20 Ribu per Gram pada 25 September 2026 Lampung DPRD Lampung Tengah Soroti Perubahan Substansi Perda SOTK Tanpa Pemberitahuan Teknologi Meta Rilis Muse Charm: Gadget Saku Cerdas dengan Asisten AI Revolusioner Berita KAI Siap Gerakkan Rail Clinic ke Pelosok, Perluas Akses Kesehatan Masyarakat Bandar Lampung Inovasi Pendidikan Lampung: Guru Ahli Mengajar Lintas Sekolah Tingkatkan Mutu Nasional Bandar Lampung Tragedi Kelengkeng di Lampung Tengah: Siswa 9 Tahun Meninggal, Program MBG Dievaluasi Account KG Media ID: Satu Akun untuk Seluruh Ekosistem Digital Kompas Gramedia

Neopositivisme

Neo-positivisme merupakan salah satu trend aliran filsafat pada abad ke-20 yang membentuk aliran positivisme modern.[1] Neo-positivisme mencabut filsafat dari pokok persoalannya.[1] Menurut sistem ini, pengetahuan tentang kenyataan diberikan hanya dalam ranah pemikiran ilmiah konkret.[1] Sedangkan filsafat mungkin hanya sebagai suatu bentuk analisis kebahasaan.[1] Dalam analisis ini, hasil dari bentuk pemikiran kemudian diungkapkan. Menurut kaum neo-positivis, analisis filosofis tidak menjangkau kenyataan obyektif dan hanya terbatas pada pengalaman langsung atau kebahasaan.[1] Salah satu bentuk ekstrem dari neo-positivisme adalah neo-positivime Lingkungan Wina. Dengan membatasi bidang filsafat pada emosi individual, mereka langsung tiba pada solipsisme.[1] Positivisme logis merupakan jenis neo-positivisme yang paling berpengaruh. Para filsuf analitis Inggris, para pengikut Moore mengikuti pandangan umum neo-positivisme.[1] Penggabungan ideologis dan organisasional ilmiah beraneka kelompok filsuf dan filsuf-filsusf secara individual yang memeluk pandangan neo-positivis logis terjadi pada dasawarsa 1930-an.[1] Mereka adalah para neo-positivis logis Jerman-Austria dari Lingkungan Wina.[1] neo-positivisme (atau disebut juga: positivisme logis, empirisme logis, filsafat analitis, atau filsafat bahasa) adalah aliran yang mengarahkan: perhatiannya pada bahasa sebagai objek penyelidikan dan menganggap hal, menciptakan kejelasan di bidang pemakaian bahasa sebagai sasaran aktivis mereka.

menurut neo-positivisme, ucapan yang bermakna itu pertama harus memuat tautologi; dan kedua, kalau tidak memuat tautologi, ucapan tersebut harus dapat dicek secara empiris. ucapan tautologi yakni ucapan di mana predikatnya hanya menjelaskan subjeknya saja (ucapan logika dan matematika).[2]

Referensi

  1. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Van Peursen (1980). Filsafat. Jakarta: Gramedia. hlm. 107-108.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  2. ↑ Shindunata (1982). Teori Kritis Sekolah Fankfurt. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. hlm. 101–102.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan