Naqqali (نقالی, naqqālī) adalah seni bercerita dramatik tradisional dari Iran. Pelakunya disebut naqqal (نقال), yaitu penutur yang membawakan kisah kepahlawanan, kerajaan, dan keagamaan dalam bentuk syair maupun prosa, disertai gerak tubuh dan mimik, dan pada sebagian pertunjukan diiringi musik atau lukisan di atas kain (parda).[1][2] UNESCO menyebut naqqali sebagai bentuk pertunjukan dramatik tertua di Iran. Pada 2011, seni ini dicatat dalam Daftar Warisan Budaya Takbenda yang Memerlukan Perlindungan Mendesak.[1]
Istilah dan ruang lingkup
Dalam pemakaian modern, istilah naqqali merujuk pada seni bercerita secara umum, sedangkan Shahnameh-khani (pembacaan Shahnameh) dipandang sebagai cabangnya. Perbedaan keduanya terutama terletak pada gaya tampil. Pembaca Shahnameh duduk di kursi dengan buku atau naskah cerita di hadapannya, sedangkan naqqal kerap berpindah tempat dan memeragakan adegan yang dituturkan dari ingatan.[2]
Istilah naqqali dan naqqal sendiri relatif baru dan kemungkinan tidak lebih tua daripada masa Dinasti Qajar. Pada masa Safawi, para penutur disebut qessa-khan (pencerita) atau shahnameh-khan (pembaca Shahnameh).[2] Meskipun begitu, para naqqal masa kini memandang tradisi mereka sebagai kelanjutan dari seni bertutur yang jauh lebih tua.
Sejarah
Akar awal
Catatan tertulis paling awal tentang seni pertunjukan Persia berasal dari penulis Yunani klasik dan berkisar pada tokoh Kourosh Agung (Koresh). Pada masa Partia dikenal penghibur keliling bernama gosan yang menuturkan kisah raja dan pahlawan, sedangkan pada masa Ghaznawiyah para pencerita tampil di lingkungan istana dan menuturkan kisah malam hari atas perintah penguasa. Kisah-kisah yang kelak membentuk legenda nasional Iran diperkirakan berkembang melalui para penutur semacam ini, walaupun para peneliti masih memperdebatkan seberapa jauh epos dituturkan secara lisan pada masa Sasaniyah.[2]
Pada masa pra-Mongol dan masa Mongol, para pencerita sempat dikritik oleh kalangan agamawan karena menuturkan kisah-kisah pahlawan pra-Islam seperti Rostam dan Esfandiyar.[2]
Masa Safawi
Pada masa Syah Abbas I (memerintah 1588–1629), kedai kopi berkembang di kota-kota seperti Isfahan dan Qazvin, dan bercerita menjadi salah satu hiburan utamanya. Tempat yang tetap dan penonton yang setia memungkinkan para penutur membawakan kisah yang lebih panjang dan rumit secara bersambung. Kegiatan ini tetap mendapat kecaman sebagian ulama Syiah, yang menyebut kedai kopi tempat bercerita sebagai "sekolah setan". Kecaman itu mendorong para penutur menambahkan kisah-kisah Islami ke dalam repertoar mereka.[2]
Sejumlah naqqal abad ke-20 meyakini bahwa seni ini bermula pada masa Safawi, ketika Syah Ismail I menugaskan para darwis untuk menyebarkan Syiah Dua Belas Imam dan sebagian dari mereka menuturkan kisah kepahlawanan untuk menarik perhatian pendengar. Namun, kajian Encyclopaedia Iranica mencatat bahwa istilah naqqali sendiri baru muncul belakangan.[2]
Masa Qajar
Dinasti Qajar (1779–1925) dipandang sebagai masa puncak seni bercerita di Iran, sebagaimana dicatat oleh para pelancong Barat. Pangeran-pangeran Qajar memiliki naqqal-bashi (kepala pencerita) yang menuturkan kisah malam hari. Di luar istana, para penutur, termasuk banyak darwis dari tarekat Sufi, tampil di masjid, pasar, alun-alun, dan kedai kopi.[2]
Kemunduran pada abad ke-20
Naqqali mulai surut pada masa Dinasti Pahlevi (1925–1979). Sekitar 1929 para naqqal dilarang menuturkan roman populer seperti Amir Arsalan dan Hosayn-e Kord-e Shabestari, sehingga mereka hanya dapat meneruskan profesinya dengan membawakan Shahnameh karya Ferdowsi. Setelah itu siaran radio sejak 1940-an, lalu televisi, bioskop, dan teater sejak akhir 1950-an, menggeser naqqali dari kedai kopi. Pada 1974–1975 peneliti Mary Ellen Page hanya menemukan empat naqqal penuh waktu di Shiraz, dan pada awal 1990-an hanya satu naqqal profesional yang tercatat di Teheran.[2]
Seni yang semula didominasi laki-laki ini kembali mendapat perhatian lewat Fatemeh Habibizad yang tampil dengan nama panggung Gordafarid, naqqal perempuan pertama di Iran.[2] UNESCO mencatat bahwa naqqal perempuan tampil di hadapan penonton campuran laki-laki dan perempuan.[1]
Pertunjukan
Pada akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20, naqqal tampil terutama pada malam musim dingin dan selama bulan Ramadan. Pertunjukan dibuka dengan lantunan syair klasik dan seruan salawat, lalu terbagi atas beberapa bagian yang berisi syair dan penuturan prosa dari Shahnameh. Selama bertutur, naqqal bergerak ke sana kemari, memeragakan berbagai tokoh, dan mengubah nada suara sesuai adegan. Pada bagian akhir ia berhenti pada saat genting dan meminta imbalan dari penonton.[2]
Pertunjukan khusus seperti Sohrab-koshi (kisah gugurnya Sohrab) dibayar lebih tinggi. Pada acara itu kedai kopi dihias dengan lampu dan lilin atau dibungkus kain hitam, dan sebagian penonton yang tidak tahan melihat sang pahlawan muda gugur memberi uang atau ternak agar naqqal menyelamatkannya.[2]
Dalam bentuk modern, cerita dibawakan dalam beberapa episode yang masing-masing berlangsung sekitar satu setengah jam. Morshed Vali-Allah Torabi (1936–2013) tercatat menamatkan seluruh Shahnameh dalam enam bulan dengan satu sesi per hari.[2] Penonton biasa menyapa naqqal profesional dengan gelar morshed ("guru spiritual").[2] Seorang naqqal dituntut memiliki daya ingat kuat dan kemampuan berimprovisasi untuk memikat penonton. Busananya sederhana, tetapi kadang ia mengenakan topi baja atau jaket baja kuno untuk menghidupkan adegan perang.[1]
Tumar dan pewarisan
Di Iran tidak ada sistem pelatihan naqqali yang baku. Murid menghafal bagian-bagian Shahnameh di bawah bimbingan guru (ostad), dan pendidikannya belum dianggap tuntas sebelum ia memiliki sedikitnya satu tumar, yaitu naskah cerita milik naqqal. Murid menyalin tumar gurunya, dan setelah selesai menyalin ia dianggap telah menguasai seni ini.[2]
Sebagian tumar hanya berfungsi sebagai catatan pengingat, tetapi sebagian lain berupa naskah naratif yang lengkap. Contohnya Haft Lashkar, yang disusun oleh sekelompok pencerita pada abad ke-19. Karena tumar lengkap dianggap berharga, beberapa naqqal bahkan menulisnya dengan bahasa sandi untuk menjaga rahasia profesi.[2]
Repertoar
Sebelum pembatasan pada masa Pahlevi, repertoar naqqali mencakup Samak-e Ayyar, Qesse-ye Hamza, Abu Moslem-nameh, Darab-nameh, Eskandar-nameh, Khavaran-nameh, Mokhtar-nameh, dan Shahnameh. Seorang naqqal biasanya hanya mengkhususkan diri pada satu atau dua karya, bergantung pada selera penontonnya. Versi naqqali dari Shahnameh juga menyisipkan epos-epos yang lebih muda ke dalam urutan kisah Ferdowsi. Pada masa Safawi dan Qajar muncul pula karya baru seperti Hosayn-e Kord-e Shabestari dan Amir Arsalan.[2]
Pengakuan UNESCO
Naqqali dimasukkan ke dalam Inventarisasi Nasional Warisan Budaya Takbenda Iran pada 2009. Pada 2011 UNESCO mencatatnya dalam Daftar Warisan Budaya Takbenda yang Memerlukan Perlindungan Mendesak.[3] Keputusan itu diambil dalam sidang Komite Antarpemerintah di Bali, Indonesia, bersama tujuh unsur lain.[4]
Komite menilai jumlah naqqal dan murid yang masih ada cukup besar, tetapi menurunnya minat generasi muda dan berkurangnya kesempatan tampil mengancam pewarisannya. UNESCO juga mencatat bahwa merosotnya kedai kopi tradisional, munculnya hiburan baru, dan menuanya para morshed membuat jumlah naqqal terampil turun tajam. Langkah pelindungan yang diusulkan melibatkan para naqqal, peneliti, pemerintah daerah, dan lembaga negara.[3][1]
UNESCO juga mencantumkan naqqali dalam tema warisan budaya takbenda pada program Jalur Sutra.[5]
Pengaruh pada seni modern
Para seniman Iran memanfaatkan gaya naqqali dalam karya panggung dan film. Bahram Bayzai memakai seni pertunjukan tradisional, termasuk naqqali, dalam lakon, skenario, dan filmnya, sedangkan Hossein Jamali memakai bentuk naqqal untuk menuturkan ulang Hamlet dalam pementasan Hamlet: The Retribution Affair, di mana semua tokoh sekaligus berperan sebagai aktor dan narator.[2]
Lihat pula
Referensi
- 1 2 3 4 5 "Naqqāli, Iranian dramatic story-telling". UNESCO Intangible Cultural Heritage (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 1 November 2026.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 Yamamoto, Kumiko (28 Oktober 2021). "Naqqāli". Encyclopaedia Iranica (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 1 November 2026.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - 1 2 "Decision of the Intergovernmental Committee: 6.COM 8.9". UNESCO Intangible Cultural Heritage (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 1 November 2026.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ "UN-backed committee adds eight items to list of intangible heritage in peril". UN News (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 1 November 2026.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ "Naqqāli, Iranian dramatic story-telling". UNESCO Silk Roads Programme (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 1 November 2026.
{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link)
Pranala luar
- Naqqāli, Iranian dramatic story-telling di situs UNESCO