Minggu, 27 September 2026
16:33 WIB
TERKINI
Bola Lampard Gemilang dengan Coventry: Dari Championship ke Liga Primer, Dipuji Rekan Edukasi Moreno Sidharta: Otodidak Raih Medali Emas Olimpiade Matematika Internasional Bola Mantan Bintang Spanyol Dorong Haaland ke Barcelona: Cocok Gaya Main Flick Lampung Maulid Arbain Lampung Sembilan Tahun: Penguatan Akhlak dan SDM Jadi Prioritas Humaniora Ribuan Warga Hadiri Penutupan Maulid Arbain Lampung 2026: Perkuat Akhlak dan Anti Narkoba Cuaca Ratusan Titik Panas Terdeteksi di Lampung: Way Kanan Paling Banyak Disorot Bandar Lampung BMKG Ungkap Penyebab Kemarau Panjang di Lampung: El Nino Kuat dan Hujan Lokal Bandar Lampung Mantan Gubernur Lampung Disidang Korupsi PI 10 Persen, Begini Respons Uniknya Account Satu Akun, Berbagai Akses: Kemudahan Login Terpadu KG Media ID Bandar Lampung Semangat Anak Sawah: Harumkan Nama Lampung di Kancah Nasional Tanpa Dukungan Pemda Bola Lampard Gemilang dengan Coventry: Dari Championship ke Liga Primer, Dipuji Rekan Edukasi Moreno Sidharta: Otodidak Raih Medali Emas Olimpiade Matematika Internasional Bola Mantan Bintang Spanyol Dorong Haaland ke Barcelona: Cocok Gaya Main Flick Lampung Maulid Arbain Lampung Sembilan Tahun: Penguatan Akhlak dan SDM Jadi Prioritas Humaniora Ribuan Warga Hadiri Penutupan Maulid Arbain Lampung 2026: Perkuat Akhlak dan Anti Narkoba Cuaca Ratusan Titik Panas Terdeteksi di Lampung: Way Kanan Paling Banyak Disorot Bandar Lampung BMKG Ungkap Penyebab Kemarau Panjang di Lampung: El Nino Kuat dan Hujan Lokal Bandar Lampung Mantan Gubernur Lampung Disidang Korupsi PI 10 Persen, Begini Respons Uniknya Account Satu Akun, Berbagai Akses: Kemudahan Login Terpadu KG Media ID Bandar Lampung Semangat Anak Sawah: Harumkan Nama Lampung di Kancah Nasional Tanpa Dukungan Pemda

Nanang

Nanang dan Anang adalah suatu gelar bangsawan di Kerajaan Negara Daha (masa Pengislaman) dan Kesultanan Banjar. Gelar ini diberikan untuk keturunan Andin perempuan. Wanita bangsawan yang menikahi rakyat jelata statusnya keturunannya menjadi golongan Setengah bangsawan (bekas bangsawan sehingga perlu diberi pangkat setengah bangsawan). Gelar ini juga diberikan untuk keturunan para Adipati penguasa Amuntai yang dianggap sama levelnya dengan gelar ini. Namun, gelar ini levelnya di bawah daripada gelar Andin (gelar untuk keturunan Kerajaan Negara Daha yang berpindah ke wilayah Batang Alai dan Danau Salak).[1]

Menurut Amir Hasan Kiai Bondan dalam buku Suluh Sedjarah Kalimantan menyatakan bahwa ada tiga macam pendapat para pengarang silsilah tentang asal-usul Nanang (Anang-Anangan):[2]

  1. Nanang merupakan turunan Gusti yang menjadi prajurit pilihan (pahlawan) dalam Kerajaan Banjar. Nama turunan Gusti diganti dengan Nanang. Kedudukan para Nanang di Majelis upacara-upacara resmi sejajar dengan kaum bangsawan (Pangeran dan Gusti-Gustian)
  2. Turunan Depati (Adipati) terutama di Amuntai disebut orang: Anang-Anangan (Nanang)
  3. Seorang wanita turunan Andin kawin dengan rakyat jelata, maka anak mereka itu disebut orang Anang (Nanang).

Nanang merupakan gelaran turun-temurun untuk anak lelaki Adipati dari Banua Lima dan anak cucu orang sepuluh Amuntai. Semula gelar ini diperuntukan untuk kerabat Ampu Jatmaka, pendiri Negara Dipa (Amuntai) dan tidak boleh untuk kerabat dari isterinya. Sedangkan gelar Kiai merupakan gelar untuk kepala distrik yang baru diangkat, keturunan kepala distrik belum berhak menyandang gelar Anang kecuali setelah turun termurun beberapa generasi memegang jabatan Kiai.

Asal-usul Kadang-Haji (kerabat raja Ampu Jatmaka) dan Nanang

Asal-usul Kadang-Haji (kadang= keluarga; haji= raja) dan Nanang bukan dari keturunan lurus Ampu Jatmaka tetapi dari kerabatnya (Jaba) yakni keturunan orang dua puluh.

Dalam perkembangannya pada abad ke-17 dalam masa pemerintahan Islam, Raja Banjar Sultan Mustain Billah memberikan nama gelar Nanang kepada adik iparnya seorang Panglima Dayak Biaju bernama Sorang yang kini diberi nama Nanang Sarang, setelah menikahi Gusti Nurasat adik perempuan Sultan.

Adipatie Danoe Radja merupakan sepupu Sultan Adam dari pihak ibunya, sehingga sebagai kerabat raja, ia termasuk dalam golongan Anang ini.

Hikayat Banjar menyebutkan:

Dan raja itu menjadikan orang malalangkah, artinya itu kaum pamayungan. Ia itu keluarganya Ampu Jatmaka. Orang dua puluh itu bernama Kadang-haji, karena itu bukan keluarga isteri Ampu Jatmaka; yang dua puluh orang itu keluarga Ampu Jatmaka; ia itu bernama Kadang-haji karena keluarga raja laki-laki. Itulah bernama orang malalangkah, yang harus mengambil banyu adus akan raja akan berdudus; itu yang harus mengenakan papajangan balai petani di atas padudusan itu, harus berdiri barang dijangkaunya disanding raja itu, raja tiada kepapasan asal usulnya. Anak cucunya, anak beranak, cucu bercucu itu, turun temurun daripada orang yang dua puluh itu, lamun laki-laki, ia itu asal kaum malalangkah itu, asal Kadang-haji namanya; ia itu akan pamayungan. Orang yang dua puluh itulah bernama para Nanang itu karena artinya Nanang itu asal keluarganya Orang Besar, lebih daripada nama Kiai - itu tatuha kaumnya, baharu dibesarkan namanya - Nanang itu asalnya Orang Besar. Itulah makanya terlebih nama Nanang itu daripada nama Kiai. Dan menjadikan juru gaduh gadung dan jorong. Ia itu keluarga raja perempuan, keluarga isteri Ampu Jatmaka. Nama menterinya Wargasari, kaumnya tiga puluh.[1]

Orang yang bergelar Nanang

  • Nanang Sanusi
  • Nanang Sarang, tokoh etnis Biaju (Dayak Ngaju) yang nama aslinya Sorang ketika menikah dengan seorang Gusti perempuan (Gusti Nurasat, adik Sultan Musta'in Billah) sehingga ia dianugerahi gelar Nanang oleh Raja Banjar Sultan Musta'in Billah, setelah ia "membayar purih" (denda adat karena menikahi purih raja atau tutus raja).[1]

Orang yang bernama atau bergelar Anang (karena keturunan)

Catatan kaki

  1. 1 2 3 Ras (1990). Johannes Jacobus Ras (ed.). Hikayat Banjar diterjemahkan oleh Siti Hawa Salleh (dalam bahasa Melayu). Malaysia: Percetakan Dewan Bahasa dan Pustaka. ISBN 9789836212405.{{cite book}}: Parameter tidak dikenal |fisrt= diabaikan ISBN 983-62-1240-X
  2. ↑ Kiai Bondan, Amir Hasan (1953). Suluh Sedjarah Kalimantan. Bandjarmasin: Fadjar.


Ikon rintisan

Artikel bertopik gelar ini adalah sebuah rintisan. Anda dapat membantu Wikipedia dengan mengembangkannya.

Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan