Jumat, 30 Oktober 2026
10:52 WIB
TERKINI
Lampung Barat Pesan Bupati Lambar: Patriotik, Gigih, dan Berempati Kunci Masa Depan Bangsa Bandar Lampung 343 Polisi Disiagakan Kawal Aksi Sumpah Pemuda 2026 di Bandar Lampung Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Solar Subsidi Terbongkar di Lampung Selatan, Tiga Tersangka Diamankan Bandar Lampung Perpanjangan SIM A/C Kini Lebih Praktis: Cek Jadwal dan Syarat di Bandar Lampung Lampung Selatan Gunung Anak Krakatau: Asap Hitam Viral Bukan Erupsi, Status Tetap Siaga Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Rokok Ilegal Senilai Rp14,85 Miliar Terbongkar di Bakauheni Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare Bandar Lampung BSU 2026 Segera Disalurkan: Rp900 Ribu dan Analisis Pakar Terkait Tantangan Pekerja Bandar Lampung Optimisme Harga Singkong Lampung 2027: Bibit dan Pupuk Kunci Utama Bandar Lampung Krisis Asap dan Ribuan Titik Panas: WALHI Desak Audit Ekologis TNWK Lampung Barat Pesan Bupati Lambar: Patriotik, Gigih, dan Berempati Kunci Masa Depan Bangsa Bandar Lampung 343 Polisi Disiagakan Kawal Aksi Sumpah Pemuda 2026 di Bandar Lampung Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Solar Subsidi Terbongkar di Lampung Selatan, Tiga Tersangka Diamankan Bandar Lampung Perpanjangan SIM A/C Kini Lebih Praktis: Cek Jadwal dan Syarat di Bandar Lampung Lampung Selatan Gunung Anak Krakatau: Asap Hitam Viral Bukan Erupsi, Status Tetap Siaga Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Rokok Ilegal Senilai Rp14,85 Miliar Terbongkar di Bakauheni Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare Bandar Lampung BSU 2026 Segera Disalurkan: Rp900 Ribu dan Analisis Pakar Terkait Tantangan Pekerja Bandar Lampung Optimisme Harga Singkong Lampung 2027: Bibit dan Pupuk Kunci Utama Bandar Lampung Krisis Asap dan Ribuan Titik Panas: WALHI Desak Audit Ekologis TNWK
Mutiara dalam Lumpur

Mutiara dalam Lumpur

film Indonesia tahun 1972

Bagikan:
Mutiara dalam Lumpur
250px-Mutiara_dalam_Lumpur_%281972%3B_obverse%3B_wiki%29.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
SutradaraWahyu Sihombing
ProduserWashi Dipa
Ditulis olehAsrul Sani
PemeranW.D. Mochtar
Sophan Sophiaan
Totty Nasution
Sofia WD
Rachman Arge
Moh Mochtar
Farouk Afero
Ramiz Parenrengi
Masni Hamid
Ivone Irani
Andi Chela Nurdin
Durasi... menit
NegaraIndonesia
Penghargaan
Festival Film Indonesia 1973

Mutiara dalam Lumpur adalah film Indonesia yang dirilis pada tahun 1972 yang disutradarai oleh Asrul Sani dan dibintangi oleh W.D. Mochtar dan Sophan Sophiaan.

Film ini meraih penghargaan Festival Film Indonesia 1973 untuk pemeran pendukung wanita terbaik (Sofia WD).

Sinopsis

Khalid kecil, anak sebatang kara, menumpang gerobak Puang Aziz (WD Mochtar), lalu diangkat anak untuk teman putrinya, Fatimah, karena Asikin, kakak Fatimah bersekolah di Makasar. Fatimah ini dijodohkan dengan Hassan, anak Karaeng Bela (Moh Mochtar), saingannya sebagai petani jeruk, hingga kedua keluarga tadi berseteru. Perkawinan dimaksudkan untuk mengakhiri perseteruan itu. Khalid (Sophan Sophiaan) tumbuh dewasa, jadi pekerja tekun dan bersahabat dengan Hassan (Sentot S), bahkan bersumpah saling setia saat belajar silat. Asikin (Farouk Afero), tidak suka pada Khalid. Waktu diketemukan Khalid saling mencinta dengan Fatimah (Totty Nasution), Asikin menyuruh anak buahnya menyiksa dan menyeret Khalid. Khalid menghilang, Fatimah kawin dengan Hassan.

Asikin kemudian menguasai harta ayahnya, yang meninggal dengan menyesal melihat tingkah laku anaknya yang doyan judi dan menghabiskan harta. Dalam keadaan banyak hutang, tiba-tiba Khalid muncul kembali dan sudah jadi orang kaya. Ia mengajak Asikin berjudi habis-habisan. Berita kedatangan Khalid sampai ke Fatimah yang langsung menemuinya di tepi danau, tempat mereka biasa pacaran. Hasan yang merasa tak pernah mendapatkan cinta Fatimah, terpaksa menjaga harga diri dan menantang duel. Kepada anak buahnya ia minta agar Khalid ditembak, bila ia terbunuh. Perintah dipatuhi, padahal Hasan yang kalah itu tak tewas, karena Khalid tak tega. Maka menangislah Hasan. Apalagi Fatimah yang sudah melahirkan satu anak, lalu bunuh diri. Hasan memerintahkan dua mayat itu dikubur bersanding.[1]

Referensi

Pranala luar


Ikon rintisan

Artikel bertopik film Indonesia ini adalah sebuah rintisan. Anda dapat membantu Wikipedia dengan mengembangkannya.

Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan