Jumat, 30 Oktober 2026
01:32 WIB
TERKINI
Lampung Barat Pesan Bupati Lambar: Patriotik, Gigih, dan Berempati Kunci Masa Depan Bangsa Bandar Lampung 343 Polisi Disiagakan Kawal Aksi Sumpah Pemuda 2026 di Bandar Lampung Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Solar Subsidi Terbongkar di Lampung Selatan, Tiga Tersangka Diamankan Bandar Lampung Perpanjangan SIM A/C Kini Lebih Praktis: Cek Jadwal dan Syarat di Bandar Lampung Lampung Selatan Gunung Anak Krakatau: Asap Hitam Viral Bukan Erupsi, Status Tetap Siaga Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Rokok Ilegal Senilai Rp14,85 Miliar Terbongkar di Bakauheni Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare Bandar Lampung BSU 2026 Segera Disalurkan: Rp900 Ribu dan Analisis Pakar Terkait Tantangan Pekerja Bandar Lampung Optimisme Harga Singkong Lampung 2027: Bibit dan Pupuk Kunci Utama Bandar Lampung Krisis Asap dan Ribuan Titik Panas: WALHI Desak Audit Ekologis TNWK Lampung Barat Pesan Bupati Lambar: Patriotik, Gigih, dan Berempati Kunci Masa Depan Bangsa Bandar Lampung 343 Polisi Disiagakan Kawal Aksi Sumpah Pemuda 2026 di Bandar Lampung Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Solar Subsidi Terbongkar di Lampung Selatan, Tiga Tersangka Diamankan Bandar Lampung Perpanjangan SIM A/C Kini Lebih Praktis: Cek Jadwal dan Syarat di Bandar Lampung Lampung Selatan Gunung Anak Krakatau: Asap Hitam Viral Bukan Erupsi, Status Tetap Siaga Lampung Selatan Jaringan Penyelundup Rokok Ilegal Senilai Rp14,85 Miliar Terbongkar di Bakauheni Bandar Lampung Harga Singkong Lampung Meroket, Petani Nikmati Keuntungan Rp45 Juta per Hektare Bandar Lampung BSU 2026 Segera Disalurkan: Rp900 Ribu dan Analisis Pakar Terkait Tantangan Pekerja Bandar Lampung Optimisme Harga Singkong Lampung 2027: Bibit dan Pupuk Kunci Utama Bandar Lampung Krisis Asap dan Ribuan Titik Panas: WALHI Desak Audit Ekologis TNWK

Musim dingin tumbukan

Bagikan:

Musim dingin tumbukan adalah periode cuaca dingin panjang yang disebabkan oleh dampak pada Bumi oleh asteroid atau komet besar. Bila dampak seperti ini terjadi di darat atau dasar laut yang dangkal, hal ini dapat menyebabkan banyak debu diterbangkan di atmosfer Bumi, menutupi cahaya Matahari.[1][2]

Peristiwa ini adalah salah satu teori penyebab kepunahan, seperti asteroid impact di Chicxulub di Meksiko yang mungkin menyebabkan kepunahan dinosaurus, dengan memblokade sumber cahaya matahari yang digunakan tumbuhan untuk berfotosintesis dengan debu dan partikel aerosol yang dihasilkan tumbukan, menyebabkan kematian massal di seluruh dunia dan meruntuhkan rantai makanan dalam skala global.

Tergantung dari ukuran objek, dan lokasi dan sudut jatuhnya, ada dua kemungkinan materi dapat jatuh ke atmosfer:

  1. impact dapat mengeluarkan sejumlah besar regolit (dan mungkin serpihan batuan dasar) ke atmosfer
  2. impact dapat terjadi di daerah berhutan lebat seperti di Amazonia atau Siberia. Hal ini dapat menyebabkan kebakaran besar, melemparkan banyak asap dan abu ke atmosfer.

Skenario kedua adalah yang lebih berbahaya, karena partikel-partikel kecil dari api dapat melayang selama mingguan atau bahkan bulanan sebelum kembali ke Bumi, dan dapat disebarkan oleh jet stream ke seluruh dunia, sehingga terjadi pendinginan global.

Referensi

  1. ↑ CHAPMAN, CR; MORRISON, D. (1994), "Impacts on the Earth by Asteroids and Comets - Assessing the Hazard" (PDF), Nature, 367 (6458): 33–40, Bibcode:1994Natur.367...33C, doi:10.1038/367033a0, S2CID 4305299
  2. ↑ MACCRACKEN, MC; Covey, C.; Thompson, S.L.; Weissman, P.R. (1994), "Global Climatic Effects of Atmospheric Dust from An Asteroid or Comet Impact on Earth", Global and Planetary Change, 9 (3–4): 263–273, Bibcode:1994GPC.....9..263C, doi:10.1016/0921-8181(94)90020-5
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan