Minggu, 27 September 2026
16:43 WIB
TERKINI
Bola Lampard Gemilang dengan Coventry: Dari Championship ke Liga Primer, Dipuji Rekan Edukasi Moreno Sidharta: Otodidak Raih Medali Emas Olimpiade Matematika Internasional Bola Mantan Bintang Spanyol Dorong Haaland ke Barcelona: Cocok Gaya Main Flick Lampung Maulid Arbain Lampung Sembilan Tahun: Penguatan Akhlak dan SDM Jadi Prioritas Humaniora Ribuan Warga Hadiri Penutupan Maulid Arbain Lampung 2026: Perkuat Akhlak dan Anti Narkoba Cuaca Ratusan Titik Panas Terdeteksi di Lampung: Way Kanan Paling Banyak Disorot Bandar Lampung BMKG Ungkap Penyebab Kemarau Panjang di Lampung: El Nino Kuat dan Hujan Lokal Bandar Lampung Mantan Gubernur Lampung Disidang Korupsi PI 10 Persen, Begini Respons Uniknya Account Satu Akun, Berbagai Akses: Kemudahan Login Terpadu KG Media ID Bandar Lampung Semangat Anak Sawah: Harumkan Nama Lampung di Kancah Nasional Tanpa Dukungan Pemda Bola Lampard Gemilang dengan Coventry: Dari Championship ke Liga Primer, Dipuji Rekan Edukasi Moreno Sidharta: Otodidak Raih Medali Emas Olimpiade Matematika Internasional Bola Mantan Bintang Spanyol Dorong Haaland ke Barcelona: Cocok Gaya Main Flick Lampung Maulid Arbain Lampung Sembilan Tahun: Penguatan Akhlak dan SDM Jadi Prioritas Humaniora Ribuan Warga Hadiri Penutupan Maulid Arbain Lampung 2026: Perkuat Akhlak dan Anti Narkoba Cuaca Ratusan Titik Panas Terdeteksi di Lampung: Way Kanan Paling Banyak Disorot Bandar Lampung BMKG Ungkap Penyebab Kemarau Panjang di Lampung: El Nino Kuat dan Hujan Lokal Bandar Lampung Mantan Gubernur Lampung Disidang Korupsi PI 10 Persen, Begini Respons Uniknya Account Satu Akun, Berbagai Akses: Kemudahan Login Terpadu KG Media ID Bandar Lampung Semangat Anak Sawah: Harumkan Nama Lampung di Kancah Nasional Tanpa Dukungan Pemda
Musik Melayu

Musik Melayu

musik khas kebudayaan Melayu

Artikel ini membutuhkan lebih banyak rujukan. Mohon bantu kami mengembangkan artikel ini dengan cara menambahkan rujukan ke sumber tepercaya. Pernyataan tak bersumber bisa saja dipertentangkan dan dihapus.
Cari sumber: "Musik Melayu" – berita · surat kabar · buku · cendekiawan · JSTOR
Musik Melayu
250px-Ragam_2_gerak_tari_berjalan_penari_pria_pada_tari_serampang_12.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Ragam 2 Gerak Tari Berjalan pada Tari Serampang 12
Mediumalat musik, suara
Jenistradisional  •  kontemporer
Budaya awalbudaya Melayu
Awal berkembangsebelum Masehi

Musik Melayu adalah aliran musik rakyat yang bermula dan berkembang di wilayah pantai timur Sumatra, Kalimantan, dan Semenanjung Malaya.[1] Musik ini biasanya dinyanyikan oleh orang-orang dari suku bangsa Melayu yang tidak jarang diiringi pula dengan tarian khas Melayu setempat misalnya tari persembahan dalam perhelatan atau pesta adat, penyambutan tetamu kehormatan, dan dalam kegiatan keagamaan.[2][3] Yang menarik dari aliran musik ini terletak pada susunannya yang terdiri dari lirik lagu yang mengandung syair yang disesuaikan dengan kehidupan sehari-hari, kecintaan (bagaikan Dondang Sayang) dan penuh dengan tunjuk ajar (pesan moral), diisi dengan suara atau vokal khas cengkok Melayu, dan aransemen musik yang tersusun rapi.

Seiring dengan perkembangan zaman musik Melayu mengalami keberingsutan gaya musik misalnya saja mengalami perpaduan dengan aliran musik pop, musik rok, dan dangdut. Aliran ini dapat dijumpai di negara-negara serumpun Melayu, seperti Indonesia, Singapura, Malaysia dan Brunei Darussalam.

Pada awal perkembangannya alat musik yang digunakan lebih didominasi oleh tingkahan rebana yang disebut Kompang dari Ponorogo, petikan gambus, gesekan biola, picitan akordion, tingkahan gong, dan tiupan serunai. Ini dipengaruhi oleh kebudayaan dari tanah Arab dan Eropa tradisional. Seiring dengan perkembangan teknologi itu semua digantikan dengan alat musik elektronik berupa kibor. Walaupun demikian, dalam kegiatan-kegiatan tertentu alat musik tradisional masih tetap digunakan demi melestarikan warisan kebudayaan.

Dalam kiprahnya aliran ini sempat populer pada era '80-an bahkan memasuki era "puncak kegemilangan" pada era '90-an. Hal ini ditandai dengan semakin banyaknya penyanyi & grup band Melayu, dan pendatang baru yang bermunculan dengan lagu-lagu andalan masing-masing.

Sejarah

Dengan melihat ke belakang, awal Musik Melayu berakar dari qasidah yang berasal sebagai kedatangan dan penyebaran Islam di Nusantara pada tahun 635 - 1600 dari Arab, Gujarat dan Persia, sifatnya pembacaan syair dan kemudian dinyanyikan. Oleh sebab itu, awalnya syair yang dipakai adalah semula dari gurindam yang dinyanyikan, dan secara berangsur kemudian dipakai juga untuk mengiringi tarian.[4] Pada waktu sejak dibuka Terusan Suez terjadi arus migrasi orang Arab dan Mesir masuk Hindia Belanda tahun 1870 hingga setelah 1888, mereka membawa alat musik gambus dan bermain musik Arab. Pengaruh ini juga bercampur dengan musik tradisional dengan syair gurindam dan alat musik tradisional lokal seperti gong, serunai, dlsb.

Kemudian sekitar tahun 1940 lahir Musik Melayu Deli, tentu saja gaya permainan musik ini sudah jauh berbeda dengan asalnya sebagai qasidah, karena perkembangan masa ini tidak hanya menyanyikan syair gurindam, tetapi sudah jauh berkembang sebagai musik hiburan nyanyian dan pengiring tarian khas orang Melayu pesisir timur Sumatera dan Semenanjung Malaysia. Dengan perkembangan teknologi elektronik sekitar setelah tahun 1950, maka mulai diperkenalkan pengeras suara, gitar elektrik, bahkan perkembangan keyboard. Dan tak kalah penting adalah perkembangan industri rekaman sejak tahun 1950.

Klasifikasi

Berdasarkan perkembangan zaman

Berdasarkan waktu kemunculan dan alat musik yang digunakan, musik Melayu terbagi ke dalam tiga jenis utama, yaitu musik Melayu asli, musik Melayu tradisional, dan musik Melayu modern. Musik Melayu asli merupakan bentuk paling awal yang hanya menggunakan alat musik pukul seperti kendang atau rebana, contohnya qasidah, dan diperkirakan berkembang pada periode 635 hingga 1600. Selanjutnya, musik Melayu tradisional menunjukkan perkembangan instrumen dengan penggunaan alat musik seperti gong, rebana, rebab, dan serunai, yang diperkirakan berkembang antara tahun 1800 hingga 1940. Adapun musik Melayu modern merupakan fase lanjutan yang memadukan alat musik tradisional dengan alat musik modern seperti biola, gitar, akordeon, dan kemudian kibor, yang mulai berkembang setelah tahun 1950 seiring dengan pengaruh modernisasi dan globalisasi.[5]

Berdasarkan Rentak

Ada beberapa pendapat mengenai rentak musik melayu.

Menurut Fadlin

Menurut Fadlin,[6] ada tiga jenis rentak Musik Melayu, yaitu:

  • Pertama, rentak senandung, yaitu dengan metrik 4/4, dalam satu siklus terdapat delapan ketukan, biasanya dengan irama lambat dan lagu bersifat sedih. Contoh lagu adalah Kuala Deli, Laila Manja.
  • Kedua, rentak mak inang, yaitu dengan metrik 2/4, tempo lagu sedang, biasanya lagu bertemakan kasih sayang atau persahabatan. Contoh lagu adalah Mak Inang Pulau Kampa, Mak Inang Stanggi, Pautan Hati.
  • Ketiga, rentak lagu dua, yaitu dengan metrik 6/8, sifatnya riang dan gembira, bersifat joget, tempo agak cepat, sangat digemari orang Melayu. Contoh lagu Tanjung Katung, Hitam Manis, Selayang Pandang.

Menurut Daryudi

Menurut wawancara khusus dengan Daryudi (seorang ahli musik lokal di Medan) [7] menyebutkan rentak dibagi dalam:

  • Rentak Langgam, metrik 4/4 dengan kecepatan Andante, contoh lagu Makan Sirih, Kuala Deli, Patah Hati
  • Rentak Inang, metrik 4/4 dengan kecepatan Moderato, sejenis Rumba, contoh lagu Mak Inang Pulau Kampai, Mak Inang Lenggang, Mak Inang Selendang. Seperti diketahui bahwa Inang dalam kerajaan berarti Dayang-dayang
  • Rentak Joget, metrik 2/4, jadi cepat seperti Allegro. Contoh lagu Tanjung Katung, Selayang Pandang
  • Rentak Zapin, metrik 6/8, dengan kecepatan Moderto, dan istilah Zapin diambil dari bahasa Arab yang berarti derap kaki, disini petikan gambus sangat menonjol. Contoh lagu Zapin Sri Gading, Zapin Sayang Serawak.

Lihat pula

Rujukan

  1. ↑ Sahputra, T. W. H., Martarosa, & Warhat, Z. (2019). Musik jazz Melayu dalam kajian kreativitas. Melayu Arts and Performance Journal, 2(2), 191–200.
  2. ↑ Purba, Junaidi; Putri, Sabrina Maulidia; Nelson, Ricky; Silaban, Cahyani Yesika br; Ridho, Muhammad Habibur; Andika, Riki; Sitorus, Christina Harianti; Sa, Maulidha; Dardanila. TRANSFORMATION OF TRADITIONAL ARTS: RESPONDING TO THE CHALLENGES OF THE TIMES. Mawadra Lestari Enterprise. hlm. 62. ISBN 978-629-95611-1-8.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  3. ↑ Asbullah, Habib; Rizkia, Ayu; Batrisya; Julianto, Deldi; Pangestu, Dimas; Rania, Dinda Safira; Miranti, Dwi; Afrillia, Ega; Irianto, Ega Deni. Mengabadikan Riau: Buku I: Antologi Esai Kebudayaan. Penerbit Pustaka Rumah C1nta. hlm. 95. ISBN 978-623-7961-67-3.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  4. ↑ Sunaryo Joyopuspito, MUSIK DANGDUT, Suatu kajian sejarah dan analisis teori musik, Bina Musik Remaja 2011
  5. ↑ Sinar (Tengku.), Luckman (1990). Pengantar etnomusikologi dan tarian Melayu. Perwira. hlm. 3.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  6. ↑ Fadlin: Studi Deskriftif Konstruksi dan Dasar-dasar Pola Ritem Gendang Melayu Sumatera Utara, skripsi Universitas Sumatera Utara, 1988
  7. ↑ Martavita Rastuti: Yusuf Wibisono: Perannya Dalam Kebudayaan Musik Melayu di Sumatera Utara, skripsi Universitas Sumatera Utara 2008
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan