Jumat, 23 Oktober 2026
22:48 WIB
TERKINI
Bandar Lampung Polisi Hadir di Jalanan: Ratusan Makan Siang Gratis Eratkan Hubungan Warga Bandar Lampung Bandar Lampung Ancaman Serius TNBBS: 23 Kasus Pidana Kehutanan Terungkap dalam Satu Dekade Bandar Lampung Penipuan Rekrutmen Honorer Rp20 Juta di Bandar Lampung Berakhir Damai Bandar Lampung Transformasi 40 Tahun FISIP Unila: Dari Prestasi Global hingga Riset Solutif Lampung Bandar Lampung Sinergi Lintas Sektor: TNBBS Perkuat Penegakan Hukum Lingkungan dengan Enam Strategi Bandar Lampung Dorong Gaya Hidup Sehat, Pemkot Bandar Lampung Dukung Jalan Sehat Akbar di Panjang Bandar Lampung Peringatan Petugas Diabaikan, Pemotor Tewas Tertabrak Kereta Babaranjang di Bandar Lampung Lampung Selatan Kolom Abu Anak Krakatau Capai 500 Meter, Warga Lampung Selatan Diimbau Waspada Pesawaran Unila Dampingi Orkes Gambus Al-Anwar: Tradisi Bertemu Teknologi Modern Bandar Lampung Kualitas Udara Bandar Lampung: Kelompok Sensitif Diminta Tetap Waspada Bandar Lampung Polisi Hadir di Jalanan: Ratusan Makan Siang Gratis Eratkan Hubungan Warga Bandar Lampung Bandar Lampung Ancaman Serius TNBBS: 23 Kasus Pidana Kehutanan Terungkap dalam Satu Dekade Bandar Lampung Penipuan Rekrutmen Honorer Rp20 Juta di Bandar Lampung Berakhir Damai Bandar Lampung Transformasi 40 Tahun FISIP Unila: Dari Prestasi Global hingga Riset Solutif Lampung Bandar Lampung Sinergi Lintas Sektor: TNBBS Perkuat Penegakan Hukum Lingkungan dengan Enam Strategi Bandar Lampung Dorong Gaya Hidup Sehat, Pemkot Bandar Lampung Dukung Jalan Sehat Akbar di Panjang Bandar Lampung Peringatan Petugas Diabaikan, Pemotor Tewas Tertabrak Kereta Babaranjang di Bandar Lampung Lampung Selatan Kolom Abu Anak Krakatau Capai 500 Meter, Warga Lampung Selatan Diimbau Waspada Pesawaran Unila Dampingi Orkes Gambus Al-Anwar: Tradisi Bertemu Teknologi Modern Bandar Lampung Kualitas Udara Bandar Lampung: Kelompok Sensitif Diminta Tetap Waspada
Museum Keraton Sumenep

Museum Keraton Sumenep

museum di Jawa Timur

Bagikan:
Infotaula de geografia políticaMuseum Keraton Sumenep
museum Suntingan nilai di Wikidata
330px-Musium_sumenep_-_panoramio.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Tempat
osm-intl,12,a,a,323x200.png?lang=id&domain=id.wikipedia.org&title=Museum_Keraton_Sumenep&revid=27593552&groups=_4d28c6316230ea30c3cf35c9aa43864899de9ac8&parser=parsoidKoordinat: 7°0′29.808″S 113°51′44.460″E / 7.00828000°S 113.86235000°E / -7.00828000; 113.86235000 
Negara berdaulatIndonesia
Provinsi di IndonesiaJawa Timur
KabupatenSumenep Suntingan nilai di Wikidata
NegaraIndonesia Suntingan nilai di Wikidata
Geografi
Bagian dariKeraton Sumenep Suntingan nilai di Wikidata
Informasi tambahan
Kode pos69416 Suntingan nilai di Wikidata
Lain-lain
Situs webLaman resmi

Museum Keraton Sumenep adalah sebuah museum umum yang beralamat di Jalan Dr. Sutomo Nomor 6, Lingkungan Delama, Pajagalan, Kota sumenep, Kabupaten Sumenep, Jawa Timur.[1] Museum Keraton Sumenep pada awalnya merupakan pusat pemerintahan pada masa Gusti Ayu Tirtonegoro R. Rasmana & Kanjeng Tumenggung Ario Tirtonegoro (Bindara Saod) yang dibangun tahun 1750 hingga 1762.

Koleksi Museum Keraton Sumenep memiliki ukuran yang beragam mulai dari yang kecil hingga yang besar. Koleksi berukuran kecil berupa keramik dan senjata. Sedangkan koleksi berukuran besar berupa kereta kuda dari Kerajaan Inggris. Koleksi utama di dalam Museum Keraton Sumenep adalah kereta kencana yang pernah dinaiki Arya Wiraraja. Sebagian besar koleksi merupakan peninggalan Sultan Abdurrahman. Keraton Sumenep yang dijadikan sebagai museum dibangun oleh seorang arsitek berkebangsaan Tiongkok yang bernama Louw Phia Ngo. Gaya arsitektur yang dihasilkan merupakan perpaduan antara arsitektur Islam, arsitektur Eropa, Arsitektur Tiongkok, dan arsitektur Jawa. Kepemilikan museum diserahkan kepada Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda, dan Olahraga Kabupaten Sumenep. Pengelolaannya diberikan kepada Unit Pelaksana Teknis (UPT) Museum Keraton Sumenep. Titik koordinatnya di 7°00’31.7” Lintang Selatan dan 113°51’45.5” Bujur Timur. Museum dapat diakses dari Terminal Bus Sumenep dengan jarak tempuh sejauh 3,2 kilometer.[2]

Tata ruang

Museum Keraton Sumenep dibagi menjadi 3 bangunan.

Museum I

Disebut juga Museum Kencana Keraton. Menyimpan dua buah kereta kencana, kursi pertemuan, tempat tidur raja serta ukiran lambang perdamaian antara masyarakat Madura dengan Eropa, Cina dan Arab.

Museum II

Dahulu merupakan kantor raja yang bernama kantor Koneng. Dalam bahasa Madura, koneng berarti kuning. Menggambarkan warna kulit para anggota keluarga Keraton yang kuning langsat, serta dinding keraton yang juga di cat kuning. Di museum II, terpajang berbagai foto lama yang menggambarkan adat dan tradisi seperti pernikahan dan syukuran. Foto ini juga menggambarkan masa-masa masuknya budaya dari Solo, ketika salah satu putri Sultan Abdurrahman menikah dengan mengenakan pakaian khas Kraton Surakarta. Salah satu istri Sultan Abdurrahman sendiri merupakan putri dari Kraton Surakarta. Beberapa arca juga tersimpan di museum ini, yang menggambarkan adanya pengaruh budaya Hindu.

Museum III

Dahulu kala digunakan sebagai gedung untuk meditasi raja. Di dalam gedung ini tersimpan Al-Qur'an yang ditulis oleh Sultan Abdurrahman. Selain itu, ada beberapa daun lontar kering yang diikat menjadi satu. Daun lontar ini ditulisi dengan ajaran-ajaran agama Islam dan tradisi suku Jawa dalam aksara Jawa.[3]

Koleksi

  • Sarana pengadilan pada masa Bindara Saod (tahun 1750-1762).
  • Kursi goyang pada masa pemerintahan Bindara Saod tahun 1750-1762. Kursi ini berbahan kayu dengan alas rotan.
  • Al-Qur'an raksasa dengan ukuran 4 x 5 meter dan berat 500 kg. Ditulis tangan oleh Sultan Abdurrahman, penguasa Kerajaan Sumenep tahu 1811-1854 .[4]
  • Ukiran lambang Kerajaan Sumenep.
  • Kereta Kencana "Melor" yang terbuat dari kaju jati, dengan bentuk segi enam. Hadiah dari kerjaan Inggris kepada Sultan Abdurahman Pakunataningrat.
  • Meja rias marmer yang digunakan para putri raja.
  • Pot bunga berbahan keramik dengan tulisan Cina, hasil kerja sama Raja Cina dengan Raja Sumenep pada abad ke XVI – XVII.
  • Piring nasi (magic rower),hadiah untuk Sultan Abdurahman Pakunataningrat. [5]

Referensi

  1. ↑ "DAFTAR MUSEUM KEBUDAYAAN PER KEC. Kota Sumenep". Pusdatin Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah. Diakses tanggal 31 Mei 2025.{{cite web}}: Periksa nilai tanggal dalam: |access-date=; no-break space karakter dalam |access-date= pada posisi 7
  2. ↑ Rusmiyati, dkk. (2018). Katalog Museum Indonesia Jilid II (PDF). Jakarta: Direktorat Pelestarian Cagar Budaya dan Permuseuman. hlm. 132. ISBN 978-979-8250-67-5.{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  3. ↑ ."Museum Keraton Sumenep". humaiz.it.student.pens.ac.id. Diakses tanggal 7 Juli 2021.
  4. ↑ Abdullah, Mohammad Ghali (2019). "PERKEMBANGAN MUSEUM KERATON SUMENEP SEBAGAI OBJEK PARIWISATA TAHUN 1994-2014". Avatara. 7 (1).
  5. ↑ "Museum Keraton Sumenep". Museum Keraton Sumenep (dalam bahasa Indonesia). 2020-07-17. Diakses tanggal 2024-05-21.{{cite web}}: Pemeliharaan CS1: Bahasa yang tidak diketahui (link)
Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan