Sabtu, 24 Oktober 2026
05:29 WIB
TERKINI
Bandar Lampung Polisi Hadir di Jalanan: Ratusan Makan Siang Gratis Eratkan Hubungan Warga Bandar Lampung Bandar Lampung Ancaman Serius TNBBS: 23 Kasus Pidana Kehutanan Terungkap dalam Satu Dekade Bandar Lampung Penipuan Rekrutmen Honorer Rp20 Juta di Bandar Lampung Berakhir Damai Bandar Lampung Transformasi 40 Tahun FISIP Unila: Dari Prestasi Global hingga Riset Solutif Lampung Bandar Lampung Sinergi Lintas Sektor: TNBBS Perkuat Penegakan Hukum Lingkungan dengan Enam Strategi Bandar Lampung Dorong Gaya Hidup Sehat, Pemkot Bandar Lampung Dukung Jalan Sehat Akbar di Panjang Bandar Lampung Peringatan Petugas Diabaikan, Pemotor Tewas Tertabrak Kereta Babaranjang di Bandar Lampung Lampung Selatan Kolom Abu Anak Krakatau Capai 500 Meter, Warga Lampung Selatan Diimbau Waspada Pesawaran Unila Dampingi Orkes Gambus Al-Anwar: Tradisi Bertemu Teknologi Modern Bandar Lampung Kualitas Udara Bandar Lampung: Kelompok Sensitif Diminta Tetap Waspada Bandar Lampung Polisi Hadir di Jalanan: Ratusan Makan Siang Gratis Eratkan Hubungan Warga Bandar Lampung Bandar Lampung Ancaman Serius TNBBS: 23 Kasus Pidana Kehutanan Terungkap dalam Satu Dekade Bandar Lampung Penipuan Rekrutmen Honorer Rp20 Juta di Bandar Lampung Berakhir Damai Bandar Lampung Transformasi 40 Tahun FISIP Unila: Dari Prestasi Global hingga Riset Solutif Lampung Bandar Lampung Sinergi Lintas Sektor: TNBBS Perkuat Penegakan Hukum Lingkungan dengan Enam Strategi Bandar Lampung Dorong Gaya Hidup Sehat, Pemkot Bandar Lampung Dukung Jalan Sehat Akbar di Panjang Bandar Lampung Peringatan Petugas Diabaikan, Pemotor Tewas Tertabrak Kereta Babaranjang di Bandar Lampung Lampung Selatan Kolom Abu Anak Krakatau Capai 500 Meter, Warga Lampung Selatan Diimbau Waspada Pesawaran Unila Dampingi Orkes Gambus Al-Anwar: Tradisi Bertemu Teknologi Modern Bandar Lampung Kualitas Udara Bandar Lampung: Kelompok Sensitif Diminta Tetap Waspada

Empu Prapañca

seorang sastrawan dan pujangga Kerajaan Majapahit pada abad ke-14

Bagikan:
Empu
Prapañca
Lahir
Dhang Acarya Nadendra

Nama lainWinada, Empu Prapañca, Mpu Prapanca
PekerjaanPenulis
Pendeta Buddha
Dharmadyaksa Kasogatan
Karya terkenalKakawin Nāgarakṛtâgama (1365)

Empu Prapañca (disebut juga Dang Acarya Nadendra) adalah nama samaran dari pujangga sastra Jawa yang hidup pada abad ke-14 pada zaman Majapahit dan kemungkinan selain pujangga juga merupakan mpu yang paling ternama pada masanya. Namanya dikenal di Indonesia modern sebagai penulis Kakawin Nāgarakṛtâgama yang termasyhur.

Prapañca menulis kakawin ini ketika bekerja pada raja Rājasanagara yang lebih dikenal dengan nama Hayam Wuruk.[1] Konon menurutnya sendiri ia adalah seorang mantan dharmādhyakṣa kasogatan atau penghulu agama Buddha kerajaan. Walaupun hal ini ditentang pakar Sastra Jawa Kuno, seperti Th. Pigeaud dan P.J. Zoetmulder.

Nama samaran

Sejarawan Slamet Muljana meyakini Prapanca adalah nama samaran, berdasarkan kata maparab Prapañca dalam Nagarakrtagama. Menurut sejarawan Hadi Sidomulyo, nama asli Prapañca adalah Dhang Acarya Nadendra, yang terdaftar sebagai dharmadyaksa ring kasogatan dalam Prasasti Canggu 1358 M masa Hayam Wuruk, dan Prasasti Sekar yang dikeluarkan beberapa tahun kemudian. Ayahnya adalah Dhang Acarya Kanakamuni, dharmadyaksa yang menyerahkan jabatan kepada puteranya setelah mengabdi selama lebih dari 30 tahun. Nadendra sendiri mengganti namanya menjadi Winada setelah dipecat dari jabatannya, karena rasa malunya kehilangan jabatannya sebagai dharmadyaksa kerajaan.

Nama Prapañca adalah nama pena yang digunakan di Kakawin Nāgarakṛtâgama, artinya adalah "bingung". Nama "Prapanca" mengisyaratkan bahwa nama asli si pengarang terdiri dari lima aksara, pancaksara. Setelah tidak menjabat, ia tinggal di desa Kamalasana di lereng sebuah gunung (Nagarakretagama pupuh 95/3), tempat ia menulis karyanya. Ada dugaan juga bahwa ayah Prapanca adalah Acarya Nada, penyusun prasasti Wuware tahun 1289, tapi hal ini tidak bisa dibuktikan.

Siapa sesungguhnya Prapanca sampai sekarang belum diketahui pasti, namun ia melukiskan dirinya sendiri dalam Negarakretagama Pupuh 96: Prapanca itu pra lima buah/ Cirinya: omongannya lucu/ Pipinya tembam, matanya ngeliyap/ Gelaknya ngakak. Terlalu kurangajar dia, tidak bisa ditiru/ Tolol, tidak mengikuti anjuran tutur/ Memerlukan pimpinan yang baik dalam tatwa/ Pantasnya ia dipukul pantatnya berulang kali.

Prapanca hidup pada zaman keemasan Majapahit, sebagai hasil perluasan wilayah keluar Jawa mengikuti haluan politik ekspansif Kertanegara yang dilancarkan oleh Mahapatih Gajah Mada. Ia menguraikan kebesaran Majapahit, kemakmurannya, hubungan antara pusat dan daerah, dan hubungan dengan luar negeri.

Referensi

  1. ↑ "Nama Sebenarnya Penulis Nagarakrtagama". Historia - Majalah Sejarah Populer Pertama di Indonesia (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2019-12-13.

Pranala luar

  • Tafsir Nagarakrtagama. Slamet Muljana
  • Napak Tilas Perjalanan. Hadi Sidomulyo


20px-Soekarno.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail

Artikel bertopik biografi Indonesia ini adalah sebuah rintisan. Anda dapat membantu Wikipedia dengan mengembangkannya.

Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan