Kamis, 15 Oktober 2026
18:03 WIB
TERKINI
Bandar Lampung Masyarakat Lampung Titip Harapan Besar untuk Kapolda Baru: Berantas Narkoba dan Begal Regional Gubernur Herman Deru Minta Polisi Usut Tuntas Pengeroyokan Jurnalis di Palembang Lampung Selatan Bau Menyengat dan Lalat Ungkap Kematian Pria di Natar, Diduga Sakit Kronis Hiburan Daftar Film Paling Dipuji di IMDb 2026: Dari Epik Kolosal hingga Aksi Pahlawan Super Lampung Gubernur Lampung Kembali Raih Grand Baznas Awards 2026, Diakui Dukungan Zakat Terbaik Bandar Lampung Transformasi Pengelolaan Sampah Bandar Lampung: PSEL Beroperasi, TPA Bakung Tutup Permanen Regional Polda Sumsel Buru Aktor Intelektual Penyerang Jurnalis dan Mahasiswa Saat Demo Metro Relasi Kuasa Timpang Pemicu KDRT: Dosen Unila Soroti Kasus Suami Bakar Istri Bandar Lampung BMKG: 471 Titik Panas Terdeteksi di Lampung, 22 Di antaranya Berisiko Tinggi Bandar Lampung Polda Lampung Dalami Kasus Penggelapan Mobil Libatkan Anggota Dewan, Rugi Rp1,1 M Bandar Lampung Masyarakat Lampung Titip Harapan Besar untuk Kapolda Baru: Berantas Narkoba dan Begal Regional Gubernur Herman Deru Minta Polisi Usut Tuntas Pengeroyokan Jurnalis di Palembang Lampung Selatan Bau Menyengat dan Lalat Ungkap Kematian Pria di Natar, Diduga Sakit Kronis Hiburan Daftar Film Paling Dipuji di IMDb 2026: Dari Epik Kolosal hingga Aksi Pahlawan Super Lampung Gubernur Lampung Kembali Raih Grand Baznas Awards 2026, Diakui Dukungan Zakat Terbaik Bandar Lampung Transformasi Pengelolaan Sampah Bandar Lampung: PSEL Beroperasi, TPA Bakung Tutup Permanen Regional Polda Sumsel Buru Aktor Intelektual Penyerang Jurnalis dan Mahasiswa Saat Demo Metro Relasi Kuasa Timpang Pemicu KDRT: Dosen Unila Soroti Kasus Suami Bakar Istri Bandar Lampung BMKG: 471 Titik Panas Terdeteksi di Lampung, 22 Di antaranya Berisiko Tinggi Bandar Lampung Polda Lampung Dalami Kasus Penggelapan Mobil Libatkan Anggota Dewan, Rugi Rp1,1 M

Empu Dusun

Bagikan:

Mpu Dusun adalah nama pena yang dipakai oleh penggubah kakawin Kunjarakarna. Nama ini memberikan kesan seolah-olah penggubah berasal dari "desa" atau "dusun" (pertapaan) dan bukan dari kalangan istana. Namun, ditilik dari gaya bahasa "Kakawin Kunjarakarna", ternyata mpu Dusun ini tidak kalah dalam bersyair apabila diperbandingkan dengan kakawin lainnya yang berasal dari kalangan istana. Diperkirakan mpu Dusun hidup pada abad ke 15 Masehi.

Analisis

Menurut Prof. Slamet Muljana, judul kakawin Kunjarakarna diambil dari kalimat pada kolofon: "iti kunjarakarna dharma katha na samapta kirtti siddha mpu Dusun", yang berarti "Ini Kunjarakarna, cerita suci, telah selesai, hasil karya Mpu Dusun". Kalimat itu dilanjutkan dengan keterangan tentang tempat penyalinan, nama penyalin, dan tahun disalin: "..telas sinurat ing Kancana tekap ni Artha Pamasah" pada tahun 1660.[1]: 313–5 

Nama Mpu Dusun diperkirakan merupakan nama samaran. Slamet Muljana berpendapat bahwa Mpu Dusun tidak lain adalah Mpu Prapanca, yang nama aslinya adalah Dang Acarya Nadendra, seorang bekas Dharmmadyaksa Kasogatan di Majapahit pada zaman Raja Hayam Wuruk. Pendapat ini didasarkan pada beberapa hal:[1]: 313–5 

  • Naskah Kunjarakarna berada seberkas dengan naskah Nagarakretagama; dan langgam bahasa kedua naskah adalah serupa.
  • Nagarakretagama pupuh 94/3 memuat keterangan bahwa Prapanca juga menulis Kakawin Sugataparwawarnnana, yang diselesaikan sebelum Desawarnana
  • Kunjarakarna, pada pupuh I/1-2 telah memuat dua kali nama "Sugata" (bhatara Sugata, yakni sang Buddha); sesuai dengan pengertian Sugataparwawarnnana
  • Suryasengkala pada naskah Kunjarakarna menyebutkan tahun 1283 Saka (1361 M) sebagai tahun diselesaikannya penulisan kakawin; cocok dengan keterangan Nagarakretagama pupuh 94/3, yang menyebutkan Kakawin Sugataparwawarnnana diselesaikan sebelum Desawarnana (selesai 1365 M, jadi 4 tahun sesudahnya)
  • Nama Mpu Dusun menunjukkan si penulis tinggal di dusun, selaras dengan penjelasan Nagarakretagama pupuh 95 yang menyebutkan bahwa si pujangga (Mpu Prapanca) tinggal di dusun.

Untuk beberapa hal, Slamet Muljana juga merujuk pada pendapat Prof. Poerbatjaraka yang hampir serupa dengan di atas.[2]: 201–2 

Referensi

  1. 1 2 Muljana, S. (2006). Tafsir Sejarah Nagara Kretagama. Yogyakarta: LKiS.
  2. ↑ Poerbatjaraka, RM.Ng.. (1951). "Nirartha-Prakreta". Bijdragen tot de taal-, land- en volkenkunde, vol. 107(2):201-25[pranala nonaktif permanen]. Leiden
Ikon rintisan

Artikel bertopik sastra ini adalah sebuah rintisan. Anda dapat membantu Wikipedia dengan mengembangkannya.

Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan