Kamis, 08 Oktober 2026
14:39 WIB
TERKINI
Bandar Lampung Apresiasi Peran Vital Kader, Pemkot Bandar Lampung Beri Insentif Rp500 Ribu Lampung Barat Emosi Memuncak, Penagih Utang Tewas di Tangan Debitur di Lampung Barat Bandar Lampung Buruh Lampung Berunjuk Rasa, Pertanyakan Pengesahan Dini UU Perlindungan Ketenagakerjaan Cuaca Ratusan Titik Panas Terpantau di Lampung, Tulang Bawang dan Mesuji Teratas Nasional MK Soroti Syarat Pendidikan Gibran, KPU Didesak Diperiksa DPR dan DKPP Bandar Lampung Polisi Bandar Lampung Amankan Lima Remaja Bersenjata Tajam, Kedepankan Edukasi Bandar Lampung Misteri Antrean Panjang Solar di Lampung Meski Pasokan Berlimpah Bandar Lampung Arinal Djunaidi Jalani Sidang Pembuktian, Hakim Tetapkan Vonis 20 Januari 2027 Cuaca Lampung Timur Dominasi Sebaran 140 Titik Panas di Provinsi Lampung Ekonomi Dan Bisnis Harga Emas Antam 6 Oktober 2026 Terkoreksi, Cek Daftar Lengkapnya Bandar Lampung Apresiasi Peran Vital Kader, Pemkot Bandar Lampung Beri Insentif Rp500 Ribu Lampung Barat Emosi Memuncak, Penagih Utang Tewas di Tangan Debitur di Lampung Barat Bandar Lampung Buruh Lampung Berunjuk Rasa, Pertanyakan Pengesahan Dini UU Perlindungan Ketenagakerjaan Cuaca Ratusan Titik Panas Terpantau di Lampung, Tulang Bawang dan Mesuji Teratas Nasional MK Soroti Syarat Pendidikan Gibran, KPU Didesak Diperiksa DPR dan DKPP Bandar Lampung Polisi Bandar Lampung Amankan Lima Remaja Bersenjata Tajam, Kedepankan Edukasi Bandar Lampung Misteri Antrean Panjang Solar di Lampung Meski Pasokan Berlimpah Bandar Lampung Arinal Djunaidi Jalani Sidang Pembuktian, Hakim Tetapkan Vonis 20 Januari 2027 Cuaca Lampung Timur Dominasi Sebaran 140 Titik Panas di Provinsi Lampung Ekonomi Dan Bisnis Harga Emas Antam 6 Oktober 2026 Terkoreksi, Cek Daftar Lengkapnya
Motinggo Boesje

Motinggo Boesje

penulis Indonesia

Bagikan:
Motinggo Boesje
250px-Motinggo_Boesje%2C_Bibi_Marsiti_%281963%3B_reverse%29.jpg?utm_source=id.wikipedia.org&utm_campaign=parser&utm_content=thumbnail
Lahir
Bustami Djalid

(1937-11-21)21 November 1937
Meninggal18 Juni 1999(1999-06-18) (umur 61)
Nama lainMatinko Bungo
Saidi Maharajo
PekerjaanSeniman, sutradara
Dikenal karenaSastrawan
Pasangan menikahLasmi Bahtiar
Ayah
  • Djalid Sutan Raja Alam (ayah)
  • Rabiah Jakub (ibu)

Motinggo Boesje (ER, EYD: Motinggo Busye, nama lahir: Bustami Djalid) (21 November 1937 – 18 Juni 1999) adalah seorang sastrawan, sutradara, dan pelukis Indonesia.

Latar Belakang Keluarga

Motinggo lahir dari pasangan Djalid Sutan Raja Alam dan Rabiah Jakub yang berasal dari Minangkabau. Ibunya berasal dari Matur dan ayahnya dari Sicincin, Padang Pariaman. Setelah menikah, mereka berdua pergi merantau ke Kota Bandar Lampung. Di sana ayahnya bekerja sebagai pegawai Koninklijke Paketvaart Maatschappij di Kupang Kota, sedangkan ibunya mengajar ilmu agama dan bahasa Arab. Ketika usianya mendekati 12 tahun, kedua orang tuanya meninggal dunia. Sepeninggal orang tuanya, Motinggo diasuh neneknya di Bukittinggi hingga ia menamatkan SLA-C.

Nama dan Gelar

Motinggo merupakan nama pena yang diambil dari bahasa Minangkabau, mantiko. Kata tersebut memiliki makna bersifat bengal, eksentrik, suka menggaduh, kocak, dan tak tahu malu. Namun mantiko dalam diri Motinggo bukanlah berkonotasi negatif, maka ia menambahkan kata bungo (bunga) di belakang nama samarannya itu, sehingga lengkap tertulis Mantiko Bungo (MB). Dari inisial MB inilah akhirnya berkembang nama Motinggo Boesje. Selain nama pena dan nama pemberian orang tua, ia juga memilki nama gelar adat Minangkabau yaitu Saidi Maharajo.

Pendidikan dan Karier

Setelah tamat SMA di Bukittinggi, Motinggo melanjutkan pendidikannya ke Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada, tetapi tidak selesai.

Tahun 1952 ia mengisi acara sandiwara radio RRI studio Bukittinggi. Ia sempat menjadi redaktur kepala Penerbitan Nusantara (1961-1964) dan Ketua II Koperasi Seniman Indonesia.

Awal kariernya dalam dunia tulis-menulis dimulai ketika Tomoyuki Yamashita datang ke rumahnya memberi mesin ketik. Mesin itu akhirnya menjadi sahabatnya untuk mencurahkan ide-idenya. Semenjak tekun membaca buku-buku sastra Balai Pustaka, minatnya tumbuh untuk terjun di dunia sastra. Dramanya, Malam Jahanam (1958), mendapat hadiah pertama sayembara penulisan drama dari Departemen Pendidikan dan Kebudayaan bagian kesenian pada tahun 1958. Cerpennya, "Nasihat Buat Anakku", mendapat hadiah majalah Sastra pada tahun 1962.

Ia memasuki dunia film sejak tahun 1960 ketika ceritanya, "Si Pendek dan Sri Panggung" difilmkan sutradara Alam Suawidjaja dan dia menjadi pembantunya.

Selain terlibat dalam dunia sastra, drama, dan film, ia juga menyukai seni lukis. Ia belajar melukis bersama Delsy Syamsumar pada Wakidi. Ia turut mendirikan Himpunan Seniman Muda Indonesia Sumatera Utara dan menjadi pemimpin majalah kebudayaan organisasi itu. Pada tahun 1954 sebuah pameran lukisan di Padang menampilkan 15 lukisan karyanya.

Tanggapan atas karya Motinggo

Novelnya, Bibi Marsiti (1964) yang menjadi titik awal peralihannya ke penulisan yang lebih populer, mendapat serangan dari Lekra. Ketika berceramah tentang karyanya di TIM pada tahun 1969 ia mendapat kritik tajam dari kalangan sastra.

Novel-novelnya banyak difilmkan, di antaranya Di Balik Pintu Dosa (1970), Tiada Maaf Bagimu (1971), dan Insan Kesepian (1971).

Sepanjang hidupnya Motinggo telah menulis lebih dari 200 karya yang sampai saat ini masih tersimpan di Perpustakaan Kongres di Washington, D. C.. Di taman kota Seoul, Korea Selatan, namanya terpahat di antara 1.000 sastrawan dunia. Karya-karyanya banyak diterjemahkan ke bahasa asing, antara lain bahasa Ceko, Inggris, Belanda, Prancis, Jerman, Korea, Jepang, dan Mandarin.[1]

Karya

karya tulis

  • Malam Jahanam (1961).
  • Tidak Menyerah (1963).
  • Hari Ini Tak Ada Cinta (1963).
  • Perempuan Itu Bernama Barabah (1963).
  • Dosa Kita Semua (1963).
  • Tiada Belas Kasihan (1963).
  • Sejuta Matahari (1963).
  • Penerobosan di Bawah Laut (1964).
  • Titian Dosa di Atasnya (1964).
  • Cross Mama (1966).
  • Tante Maryati (1967).
  • Sri Ayati (1968).
  • Retno Lestari (1968).
  • Dia Musuh Keluarga (1968).
  • Sanu, Infita Kembar (1985).
  • Madu Prahara (1985).
  • Dosa Kita Semua (1986).
  • Tujuh Manusia Harimau (1987).
  • Dua Tengkorak Kepala (1999).
  • Fatimah Chen Chen (1999).

Drama

  • Malam Jahanam (1961).
  • Badai Sampai Sore (1962).
  • Nyonya dan Nyonya (1963).
  • Malam Pengantin di Bukit Kera (1963).

Legenda

  • Buang Tonjam (1963).
  • Ahim-Ha (1963).
  • Batu Serampok (1963).

Film

  • Biarkan Musim Berganti (1971).
  • Tjintaku Djauh Dipulau (1971).
  • Takkan Kulepaskan (1972).
  • Si Rano (1973).
  • Sebelum Usia 17 (1974).
  • One Way Ticket (1976).
  • Sejuta Duka Ibu (1977).
  • Raja Singa (1978).

Referensi

  1. ↑ Sinematek Indonesia & Badan Penelitian dan Pengembangan, Penerangan, Departemen Penerangan RI. (1979). Apa Siapa Orang Film Indonesia 1926-1978. hlm. 319

Pranala luar

Konten disalin dari Wikipedia Bahasa Indonesia (lisensi CC BY-SA) Lihat versi asli di Wikipedia

Rekomendasi Pilihan